Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh

Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
Kekasihku Deandra


__ADS_3

Menanti kepulangan Arik ternyata membuahkan hasil, sekitar jam 6 petang pria itu tiba di unit apartemen, dan dia sudah disuguhi pemandangan Poppy yang duduk bersandar di daun pintu unit apartemennya.


“Poppy!” sapa Arik dengan tatapan aneh saat melihat kondisi Poppy yang jelas jauh berbeda.


Wanita yang dipanggil namanya mendongakkan wajah lalu tersenyum lebar. “Arik, akhirnya,” balas Poppy, dia pun beranjak dari duduknya dan langsung memeluk pria itu. “Aku kangen sama kamu, Rik."


Pria itu tidak membalas pelukan Poppy dan terkesan tidak mengharapkan kehadiran wanita yang kini terlihat buruk rupa dan agak kurus itu, walau dibalut dengan make up tebalnya. Poppy mengurai pelukannya dan menatap lekat wajah sang kekasih hati.


“Sepertinya kamu tidak suka dengan kedatanganku, ayo ajak aku masuk ke dalam, dari siang aku sudah penat menunggu kamu di luar,” gerutu Poppy dengan membuat mimik wajah kesalnya.


Tanpa menjawab, Arik memencet kode password dan terbukalah pintu dengan bergegas Poppy masuk ke dalam sembari menarik malas tas besarnya itu, semakin mengkerutlah kening Arik melihatnya.


Mantan istri Aidan itu pun menghempaskan dirinya di atas sofa dengan bernapas lega. Sedangkan Arik memperhatikan wajah Poppy.


“Ada apa kamu ke sini? Kamu gak takut di cariin sama suami kamu?” tanya Arik dengan tatapan menyelidiknya.


Poppy berdecak kesal mendengarnya. “Kita tidak perlu membicarakannya, oh iya mulai hari ini aku akan tinggal bersamamu di sini,” kata Poppy dengan santainya.


Arik menyunggingkan senyum kecut nya. “Sepertinya gosip yang beredar di kantor ternyata benar, jika keluargamu ternyata bukanlah pemilik perusahaan Nusantara. Apa sekarang kamu sudah diusir juga dari mansionmu serta diusir oleh suamimu juga, hingga tiba-tiba mau tinggal disini!” sindir Arik sembari menjatuhkan bokongnya keatas sofa.


Wanita itupun mengeram kesal. “Jangan asal bicara, Arik!”


“Aku tidak asal bicara kok lagi pula memang sudah kenyataannya seperti itu, dan nama mu sudah dicoret sebagai direktur operasional. Dan kamu tahu siapa yang memiliki perusahaan yang telah dicuri oleh papamu itu! Ternyata milik orang tua kekasihku Deandra,” tutur Arik dengan senyuman yang terulas diwajahnya.


Saat itu juga Poppy mengebrak meja yang ada dihadapannya, dirinya masih belum terima dengan kenyataan itu.


“Hey gak perlu kamu menggebrak meja ku, memangnya kamu punya uang buat menggantikan meja ku ini!” hardik Arik tidak suka.


Poppy berdecak kesal. “Sombong sekali kamu ini baru meja, lantas uang yang selama ini aku kasih ke kamu memangnya tidak cukup untuk membeli meja baru!”

__ADS_1


Arik menyeringai. “Sepertinya kamu salah orang jika mengingat semua uang yang kamu berikan itu, bukankah itu setimpal dengan kepuasan yang aku berikan buat kamu. Sepertinya sebaiknya kamu angkat kaki dari apartemen ku! Aku harus menjaga hati kekasihku dengan tidak menerima wanita manapun untuk tinggal di apartemenku!” ucap Arik mengusirnya dengan terang-terangan.


Kalimat Arik sungguh membuat Poppy meradang, terutama dirinya yang di usir dari apartemen. “Sepertinya kamu sangat menyukai Deandra!” Wanita itu mencondongkan dirinya agar lebih dekat dengan posisi Arik.


“Kamu tahu siapa Deandra! Jika kamu berminat ingin mengejarnya aku akan membantumu, tapi izinkan aku tinggal di sini!” kata Poppy dengan seringaian yang terulas di bibirnya.


...----------------...


Malam semakin larut, Aidan baru saja menginjakkan kedua kakinya di mansion papa Ricardo dengan raut wajah lelahnya. Kebetulan Papa Ricardo belum tertidur, dan berada di ruang tengah dengan laptop yang ada di hadapannya. Sementara Mama Amber yang masih tidak bisa memejamkan matanya menyusul suaminya yang ada di lantai bawah, namun sebelumnya wanita parah baya itu membuat minuman susu jahe hangat untuk dia dan suaminya.


“Aidan, kamu sudah bisa berjalan kembali!” seru Papa Ricardo yang tak sengaja melihat kedatangan Aidan menuju ruang tengah. Sebelum menjawab pria itu menghempaskan dirinya ke atas sofa dan duduk bersandar.


“Iya Pah, hari ini aku baru lepas dari kursi roda,” jawab Aidan dengan nada lelahnya, bersamaan itu pula Lucky berpamitan untuk beristirahat dikamar yang selalu disediakan untuk dirinya jika sewaktu-waktu menginap.


“Alhamdulillah, Papa tak menyangka kamu sudah bisa kembali berjalan,” jawab Papa Ricardo turut berbahagia, namun rasa bahagia itu mendadak redup karena wajah Aidan yang terlihat sendu dan lelah.


Aidan yang sudah menyandarkan punggung serta kepalanya di sandaran sofa, salah satu tangannya bertumpu menutup kedua netranya yang kembali berembun, ingin sekali rasanya memutar waktu, kembali di saat dia menikahi Deandra. Suara isak tangis mulai terdengar di telinga Papa Ricardo.


“Ya,” jawab singkat Aidan.


“Sudah tahu karena ulah siapa?”


“Mmm,” gumamnya, Aidan menarik napasnya dalam-dalam, dan menahan dirinya agar tidak membuncahkan rasa kesedihannya itu. Setelah itu, ditariknya tangannya dari atas kedua netranya, kemudian diusapnya netra yang basah itu.


“Semuanya karena Om Harland, Pah.”


Papa Ricardo mendesah, lalu kini bergantian dia yang menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, sedangkan Mama Amber yang baru saja datang dengan membawa nampan ditangannya terburu-buru untuk duduk bergabung bersama suami dan anaknya itu.


Diletakkannya dengan hati-hati saat menaruh nampan yang berisikan dua cangkir, sembari menatap putranya yang sudah tidak duduk di atas kursi roda. Hingga timbullah pertanyaan yang sama seperti papa Ricardo sebelumnya.

__ADS_1


“Aidan, Mama benar-benar minta maaf sama kamu kalau jika tindakan Mama ternyata jadi pemicu kebencian saudara Mama dan berpengaruh dengan perusahaan kamu. Mungkin sebaiknya Mama akan mengunjungi Harland untuk membicarakan masalah ini,” tutur Mama Amber.


Papa Ricardo menarik napasnya dalam-dalam dan kembali berbicara. “Semuanya ini menjadi pelajaran kita bersama, rasa benci dan dendam sejak awal tidak akan pernah membawa keberkahan justru menjadi tali silaturahmi antara saudara pun putus. Jadi siapa yang akan rugi, justru kitalah yang merugi bukan orang yang kita benci. Maka dari itu sebaik-baiknya kita membenci, lebih baik diam dan tidak berkata kasar pada orang lain.”


Mama Amber menundukkan kepalanya dan menatap kedua tangannya yang saling bertautan dengan hati yang sangat menyesal, Aidan pun juga seperti itu.


“Kita masih punya Allah, kenapa tidak kita memohon padanya! mohon ampun dan mohon petunjuknya. Semua yang terjadi ini bukanlah sebuah akhir namun sebagai awalan untuk memperbaikinya. Dirikanlah sholat dan berdoalah dengan hatimu yang tulus, Aidan,” lanjut kata Papa Ricardo memberikan nasehat.


Manusia tidak ada apa-apanya tanpa pertolongan Allah, libatkan Allah dalam hidupmu baik dalam keadaan senang dan kesusahan, maka akan ada ketenangan saat hidupmu ditimpa musibah sebesar apa pun.


Aidan menganggukkan kepalanya, lalu berpamitan untuk ke kamar, dia bergegas membersihkan dirinya dan mulai kembali mengelar sajadahnya yang selama ini dia melalaikan kewajibannya sebagai umat beragama, tanpa terasa buliran beningnya terjatuh di atas sajadah ketika dia melakukan sujud dalam sholatnya.


 Sementara itu Deandra yang sudah berada di atas ranjang dengan tubuhnya terasa lelah, berulang kali ganti posisi dari miring ke kanan hingga miring ke kiri agar dirinya bisa terlelap, akan tetapi netranya tidak bisa terpejamkan. Wanita itu pun mengusap perutnya, “Anak-anak mama, kita bobo yuk ... ini sudah tengah malam loh, kenapa bikin mama tidak bisa tidur,” gumam Deandra sendiri, dia tak habis pikir kenapa matanya masih tidak bisa terpejamkan.


Tak lama kemudian ponsel yang biasanya dia letakkan di atas nakas berbunyi pesan masuk, tangannya pun terulur mengambil ponselnya, lalu dia membaca pesan tersebut.


✅0812xxxxxxx


Sayang, sudah tidurkah? Entah kenapa aku sangat merindukanmu padahal baru tadi siang kita ketemu. Aku rindu tidur memelukmu, kapan aku bisa memelukmu lagi? Sayang tahu tidak, saat aku tidur bersamamu aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa minum obat tidur. Andaikan boleh aku bermimpi, aku ingin mimpi dirimu berada dipelukanku.


Deandra menarik sudut bibirnya, ingin rasanya menertawakan pesan lebay yang baru saja dia terima, dan sudah bisa dipastikan ini pasti dari suaminya. Dia tidak membalas pesan itu, justru hanya membaca saja, lalu tak lama kantuk pun tiba, sepertinya Deandra kena sindrom si baby twin yang menunggu pesan dari papanya.


✅0812xxxxxxx


Sayang, sudah tidurkah? Tidur yang nyenyak ya. I love you, sayang ❤️❤️


Bersambung ... 


 

__ADS_1



 


__ADS_2