
Papa Harland sudah selesai mendonorkan darahnya dan sempat beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga serta menikmati sajian untuk menambah staminanya kembali, setelah selesai dia kembali keluar dan menghampiri Papa Ricardo dan Elena yang terdiam dalam duduknya.
Sejenak Elena mendongakkan wajahnya ketika Papa Harland duduk bersama mereka berdua, lalu dia menarik napasnya dalam-dalam sembari menyusun kalimat yang ingin disampaikannya.
“Pah, Om Harland sebaiknya katakan sejujurnya pada Kak Aidan tentang anak yang dikandung oleh Deandra. Pikiran Kak Aidan saat ini pasti menduga Deandra berselingkuh, dan ujung-ujungnya nama Deandra yang jelek, dan hati Deandra pasti tersakiti. Aku minta Papa dan Om jangan egois sebagai orang tua, walau bagaimana pun kesalahpahaman ini akan menyakitkan untuk Deandra ketimbang Papa dan Om sendiri,” tutur Elena, mimik wajahnya serius.
Papa Ricardo melayangkan padangan pada putrinya, begitu pula dengan Papa Harland. Elena membalas tatapan mereka berdua. “Jangan sampai masalah kesalahpahaman ini berlarut lama, berhubung Kak Aidan sudah tahu Deandra sudah hamil, jadi jelaskan jika Deandra hamil anak Kak Aidan, bukan anak dari pria lain,” lanjut kata Elena, sekali lagi membujuk agar papanya mau untuk mengungkapkan kebenaran itu.
Pria paru baya itu mengusap kedua pahanya lalu sedikit menundukkan kepalanya, suara napas beratnya terdengar ketika dia kembali menegakkan pandangannya.
“Kita tunggu Deandra siuman, setelah itu Papa akan bertemu dengan Aidan menyelesaikan kesalahpahaman ini,” jawab Papa Ricardo, akhirnya mengikuti permintaan Elena. Sementara netra Papa Harland masih menatap mereka berdua dengan segala pemikiran yang kini sudah ada di kepalanya.
Sementara itu di mansion ...
Aidan malam ini sengaja pulang ke mansionnya sendiri, dengan rasa kecewa dan emosinya dia meluapkan dengan membanting semua barang.
“Kenapa ini terjadi padaku, aarggh ... Kenapa dia hamil anak pria lain. Apa aku tidak pantas memilikinya!” pekik Aidan, dia membabi buta membanting barang pecah belah yang ada di ruangan. Lucky dan Karno sedikit menjauh biar tidak ikut terluka, tapi hatinya sudah geregetan melihatnya.
Tatapan Lucky melirik Karno yang masih berdiri dengan gagahnya di samping dirinya.
“Sepertinya kita harus menyadari Tuan Aidan,” kata Lucky pada Karno, agak bermakna seperti sebuah perintah. Karno mengangguk kepalanya.
Kedua pria muda itu mengambil ancang-ancang, lalu bersama-sama melangkahkan kakinya dan mendekati keberadaan Aidan, kemudian masing-masing mengamit lengan pria itu kemudian mengangkatnya.
“HEY ... APA-APAAN KALIAN BERDUA!” teriak Aidan ketika tubuhnya sudah terangkat, dan dia dibawa ke ruang sebelah dan langsung diduduki, kemudian sang kepala pelayan menyodorkan segelas air dingin.
__ADS_1
Lucky langsung mengambil posisi di depan Aidan, dan membiarkan tuan mudanya melototi dirinya selebar-lebarnya.
“Tuan tahukah! Kalau pria sangat mencintai seorang wanita, dan wanita itu pernah dilukai hati dan fisiknya oleh pria itu, seharusnya menerima apa pun kondisinya. Bukan seperti ini istrinya sedang mempertaruhkan nyawa lalu ditinggalkan begitu saja! Dan lebih parahnya lagi Tuan tidak bertanya dulu kenapa istri Tuan bisa hamil. Sikap Tuan tidak mencerminkan seorang pria yang mencintai wanita itu!” tutur Lucky, dia membuang rasa hormat sejenak pada tuannya.
Aidan menatap nanar wajah Lucky tanpa berkata-kata.
“Hanya mendengar Nyonya hamil, Tuan marah, mengamuk dan tidak terima menerima kenyataannya, lalu meninggalkannya begitu saja, mana perjuangan Tuan selama ini yang katanya mencintai Nyonya! Hanya karena hal itu Tuan sakit hati. Lantas bagaimana dengan Nyonya saat Tuan begitu kejam memperlakukan dirinya! Dia tetap berada dekat Tuan walau dia tidak suka!” lanjut kata Lucky, yang ikutan terpancing emosinya. Dari ujung Karno ingin bertepuk tangan dengan keberanian Lucky yang sedang memberikan ceramah.
“Pasti saat ini Tuan berpikir jika Nyonya berselingkuh'kan, sedangkan pria yang pernah dekat dengan Nyonya hanya Arik dan Tuan serta Pak Harland. Harusnya Tuan berpikir jika Nyonya selingkuh, kenapa dia minta tolong dan berteriak saat Arik menyentuh tubuhnya harusnya dia menikmati sentuhan dari Arik.”
DEG
Tersentillah hati Aidan dengan perkataan Lucky, jika Deandra selingkuh pasti terlihat biasa saja tidak akan mengeluarkan mimik ketakutannya. Pria itu menundukkan kepalanya dan menata kosong gelas bening yang masih dia pegang.
“Jangan jadi CEO bodoh dalam menyelesaikan masalah rumah tangga, bukankah segala sesuatu Tuan pasti menyelidikinya terlebih dulu setiap ada masalah, lantas kenapa sekarang jadi bodoh. Atau kata cinta Tuan hanya kiasan di mulut bukan dihati saja. Dan satu lagi saya yakin Tuan dan Nyonya barusan sudah berhubungan intim'kan, seharusnya tahu rasanya wanita yang menjaga kehormatannya dengan wanita yang sudah sering melakukan hubungan, harusnya Tuan mengingat hal itu!”
“Tapi Dea hamil, Lucky!”
Lucky melengkungkan kedua alis lalu menatap bulat-bulat wajah tuannya yang sudah terlihat menyedihkan.
“Dunia medis jaman sekarang sangat canggih Tuan, banyak diluar sana wanita yang hamil tanpa berhubungan intim, mereka bisa hamil karena program bayi tabung dan mengambil benih dari bank benih. Di luar negeri sudah banyak terjadi, dan Tuan menyadarikah jika Tuan dalam sebulan ini tiap pagi muntah dan mual selama ini, belum lagi Nyonya ingin makan ini itu dan Nyonya minta Tuan membelikannya tidak boleh orang lain, pernahkan Tuan berpikir ke arah ke sana, karena saya selama beberapa hari ini curiga dengan apa yang di alami Tuan dan Nyonya. Kalau Tuan dan Nyonya sedang ngidam dan saling berkaitan satu sama lain."
Akhirnya Lucky mengungkapkan kecurigaannya pada Aidan, ada sedikit lega tinggal nalar Aidan yang harus bekerja.
Tubuh Aidan tiba-tiba menegang, kaku, degup jantungnya mulai bermain-main.
__ADS_1
“Dan Tuan menyadarikah kalau Dokter wanita itu pernah datang ke mansion saat Deandra pingsan, dan yang menghubunginya adalah Tuan besar, bukan saya. Dan ternyata Dokter itu dokter kandungan, berarti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Tuan Besar.”
Ingatan Aidan kembali merewind kaset lamanya, dan baru teringat dengan jelas jika dia pernah bertemu dengan Dokter Mira saat program bayi tabung bersama Poppy, dan benih unggulan dia sudah ditampung di rumah sakit. Entah kenapa tubuhnya mendadak gemeteran seperti orang mengigil.
“A-Apakah m-mungkin istriku, h-hamil dari benihku yang tersimpan di rumah sakit,” gumam Aidan terbata-bata, wajahnya mendadak pias.
“Nah! Itu dugaan saya Tuan, bukankah tempo hari Tuan Besar bilang ke Tuan jika tidak bisa secara natural bisa dilakukan melalui bayi tabung dan ambil benih Tuan yang ada di rumah sakit,” timpal Lucky, mulai nyambung tuannya.
Wajah pias itu mendadak sedikit ada senyuman, walau belum dipastikan kebenarannya, tapi bolehkan dia berpikir ke sana, seperti yang diutarakan oleh asistennya.
“Lucky, kita balik ke rumah sakit!” Pria itu menaruh gelasnya dan bergegas menuju pintu. Lucky dan Karno sama-sama mengangkat kedua bahunya dan menyusul tuan mudanya.
“Semoga saja dugaan saya benar, Tuan,” batin Lucky.
Sementara itu, Papa Ricardo bersama Elena sedang perjalanan ke mansion untuk menemui Aidan dengan niat menyelesaikan kesalahpahaman itu. Sedangkan di rumah sakit Papa Harland bergerak cepat setelah konsultasi dengan Dokter Mira. Deandra sudah berada di dalam mobil ambulance dengan di dampingi oleh Dokter Mira menuju bandara Halim.
Jet pribadi milik Papa Harland sudah siap melakukan penerbangan menuju Singapura. Dia membawa anaknya tanpa memberitahukan pada siapa pun.
“Selamat tinggal Indonesia, maafkan aku ... Papa Ricardo, Kak Elena, aku ingin tenang untuk saat ini,” batin Deandra, hatinya amat menyesakkan saat dia tersadar ternyata tidak ada Aidan disampingnya, dia tersenyum getir ... katanya mencintai dirinya tapi tidak berada disisinya hingga dirinya tersadar, sungguh memilukan hatinya. Setelah dia menyerahkan kehormatannya pada suaminya ternyata dihempaskan begitu saja.
bersambung ...
__ADS_1