
Rose yang melihat itu kaget padahal ia sadar tidak menabrak wanita tua itu dan kaki nya juga tidak terlihat luka sedikitpun.
"Hey nona, seharusnya kau hati-hati mengendarai mobil mu, dan sekarang kau menbarak ibu ini, ayo lah tangung jawab atau kami akan membawa mu ke kantor polisi."Ucap orang-orang yang terpengaruh akan sandiwara wanita itu.
"Baik lah baik, berapa yang ibu ingin kan akan aku ganti."Ucap Rose tidak ingin berurusan dengan polisi karena dirinya adalah seorang model jika nama nya tercemar bisa bahaya dengan karier nya.
"Dua puluh juta! Kau mau dua puluh juta, karena kaki ku patah."Ucap wanita paruh baya itu dengan licik nya.
"Apa? Apa aku tidak salah dengar? Dua puluh juta itu bukan uang yang sedikit Bu, lihat lah kaki mu tidak lecet sedikit pun!"Ucap Rose tidak terima karena ini berupa pemerasan.
"Iya karena ini luka dalam dan kau tidak mungkin bisa melihat nya."Ucap ibu itu semakin menjadi-jadi ber ekting
Kiara yang awal nya tidak peduli menjadi tidak tega melihat Rose sendiri di tindas banyak orang sementara ia melihat rise tidak menabrak ibu itu.
Akhirnya Kiara pun menghampiri kerumunan tersebut.
"Permisi, ada apa ini?"Tanya Kiara pura-pura bertanya.
"Ada perempuan cantik menabrak seorang ibu-ibu, tapi dia tidak ingin tangung jawab."Ucap orang-orang yang ada di sana.
"Ibu, apa kaki mu benar-benar patah?"Tanya Kiara mulai berjongkok dan melihat kaki ibu tersebut.
"Iya, apa kau tidak percaya?"Ucap wanita itu marah.
"Biar aku lihat dulu."Ucap Kiara menatap kaki ibu-ibu tersebut.
"Aku benar-benar tidak menabrak nya aku mohon percaya kepada ku."Ucap Rose kembali membela diri nya.
"Omong kosong."Ucap wanita itu khawatir Rose tidak akan membayar nya.
"Ibu, seperti nya ini tidak ada bukti luka atau luka dalam,aku memiliki ide bagus untuk nona itu, nona, bukan kah kau ingin bukti jika ibu ini benar-benar patah atau tidak kaki nya? Apa kau bersedia membayar puluhan juta jika ibu ini benar-benar patah? Jika kau bersedia bagaimana jika kita mengulang kejadian tadi, bagaimana ibu? Nona ini butuh bukti bagaimana jika dia menabrak mu sekali lagi?"Ucap Kiara kepada wanita paruh baya itu.
Wajah wanita itu tiba-tiba berubah dan terlihat ketakutan.
"Hey! Apa yang kau lakukan?Apa kau ingin menbunuh ku!? Aku tidak mau mati ayo cepat bayar dua puluh juta makana ku tidak akan menuntut nya."Ucap ibu itu gemetar tanpa dia sadari sekarang dia sudah berdiri tegap dan tidak ada sakit atau luka sedikitpun.
__ADS_1
"Nah kan, ibu terlihat sudah sembuh bukan? Lihat lah siapa yang sebenarnya penipu."Ucap Kiara kepada orang-orang.
"Wah ternyata dia baik-baik saja!"Sorak orang yang tadi mengerumuni ibu itu.
"Benar ternyata kau menipu ku!"Ucap Rose marah.
"Aku! Aku tidak ..."Ucap wanita itu mulai serba salah.
"Bu, jangan mencari keuntungan dengan cara seperti ini,lihat lah di sana ada cctv, apa ibu pikir aku tidak melihat nya?"Ucap Kiara sangat pintar.
"Wahh ini adalah penipu, ayo bawa ibu ini ke kantor polisi!"Ucap orang-orang yang mulai memegang tangan ibu itu.
"Jangan, jangan bawa aku!"Ucapan sang wanita memberontak.
"Bawa saja bapak-bapak jangan sampai kejadian ini terulang kembali."Ucap Kiara.
"Baik nona."Jawab mereka yang kemudian menarik paksa wanita itu ke kantor polisi.
Yang tersisa sekarang hanya Kiara dan Rose.
"Nona,lain kali hati-hati, apa kau orang baru di kota ini?"Tanya Kiara kepada Rose.
"Tidak apa, aku juga tidak bisa membiarkan penipuan seperti itu."Ucap Kiara kepada Rose.
"Kau sungguh baik, aku tidak menyangka akan bertemu dengan orang sebaik dirimu."Ucap Rose yang memang sangat mudah suka dengan orang sekitar nya.
"Biasa saja, baik lah kalau begitu aku permisi dulu ya."Ucap Kiara yang hendak melangkah pergi dari situ.
"Tunggu, siapa nama mu? Ijin aku aku mengantar mu sebagai tanda terima kasih, kau mau kemana?"Ucap Rose menghampiri Kiara.
"Nama ku, Kiara, aku ingin kembali ke hotel."Ucap Kiara lagi.
"Apa yang kau bawa?"Tanya Rose menujuk map biru di tangan Kiara.
"Ini CV ku,aku ingin melamar kerja."Ucap Kiara jujur.
__ADS_1
"Boleh kah aku melihat nya?"Tanya Rose.
"Oh tentu saja."Ucap Kiara yang kemudian memberikan map biru itu kepada Rose.
Tiga menit kemudian.
"Emm, begini, perkenalkan nama ku Rose dan aku model yang datang ke kota ini atas permintaan sebuah perusahaan untuk menjadi model mereka, tapi aku belum memiliki asisten sementara untuk membantu ku selama di sini, apa kau bersedia membantu ku? Anggap saja ini balas budi ku kepada mu, karena kau membantuku, aku akan memberikan mu gaji yang lumayan cukup besar."Ucap Rose menawarkan Kiara agar menjadi asisten nya.
"Benar kah? Apa nona tidak bercanda? Aku akan bekerja sebagai asisten model terkenal?"Ucap Kiara kaget.
"Iya,apa kau mau?"Tanya Rose sekali lagi.
"Tentu saja, tentu saja aku mau, aku sangat membutuhkan pekerjaan."Ucap Kiara kepada Rose.
"Baik lah kalau begitu mulai besok kau bisa bekerja dengan ku."Ucap Rose sambil tersenyum manis.
"Terima kasih banyak nona Rose terima kasih banyak."Ucap Kiara terlihat benar-benar bahagia.
"Baik lah,kalau begitu, bagaimana jika aku mengantar mu ke hotel?"Ucap Rose lagi.
"Tidak nona, aku sudah dekat aku bisa kembali ke hotel sendiri."Jawab Kiara sambil tersenyum kecil.
"Baik lah kalau begitu, ini kartu nama ku, dan ini alamat perusahaan nya, kau bisa datang besok."Ucap Rose mengulur kan kartu nama nya dan alamat perusahaan tempat ia menjadi model.
"Baik lah nona, terima kasih banyak."Ucap Kiara benar-benar merasa bahagia.
"Baik kalau begitu aku pergi dulu."Ucap Rose yang kemudian berjalan masuk ke dalam mobil nya setelah berpamitan dengan Kiara.
Setelah mobil Rose menjauh Kiara pun kembali melanjutkan jalan nya kembali ke hotel tempat tinggal nya sekarang.
"Huh, akhirnya aku bisa mendapatkan pekerjaan."Ucap Kiara berjalan pelan sambil sesekali menongak menatap langit.
"Apa mas Ardan sudah menandatangani surat perceraian itu? Apa mereka sekarang sudah ingin menikah?"Batin Kiara memikirkan Ardan.
Tanpa di ketahui oleh nya, Ardan sekarang sedang mencari keberadaan nya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Kiara pun tiba di hotel, ia mengambil handuk dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi karena seharian ini da sudah bau keringat karena ke sana sini menjadi pekerjaan.
Bersambung ....