
"Ak-u, ti-dak t-au, ki-ara,kau, harus tau seua-tu."Ucap Feny lagi.
"Katakan Fany, katakan."Ucap Kiara.
"Ma-af, kan ak-u, Kiara... Ali-na."Ucap Fany yang saat itu sudah benar-benar tidak bisa lagi meneruskan ucapannya.
Tiba-tiba mulut nya menyembur kan darah segar, tidak hanya mulut, telinga dan hidung nya juga mengeluarkan darah.
Dan akhirnya, Fany mengembuskan nafas terakhir nya di pangkuan Kiara, tangan nya memegang erat-erat tangan Kiara seolah ada sesuatu yang belum selesai ia katakan ia begitu menahan agar bisa mengatakan hal penting itu tetapi seperti nya tidak di izinkan oleh yang kuasa.
Kecelakaan itu berhasil merengut nyawa Fany dan membuat nya tewas di jalan itu.
Kiara menjerit keras saat menyadari Fany sudah meningal.
"Fany, bangun lah, bangun kau masih bisa bertahan kan,ayo kita kerumah sakit Fany! Fany bangun!"Tangis Kiara pecah di lihat begitu banyak orang.
Dan tepat di saat ini ambulance pun datang dan membawa jenazah Fany ke rumah sakit.
Sementara Kiara di tenang kan oleh beberapa orang sekitar nya.
"Tenang lah nona, polisi akan mengusut tuntas kasus ini, sekarang nona ikhlas kan saja kepergian nya."Bujuk ibu-ibu yang memberikan Kiara sebotol air mineral.
Kiara yabg masih bersimbah air mata itu pun dengan gemetar mengambil sebotol air mineral yang di suguhkan ibu itu kepada nya lalu meminum nya.
"Terima kasih Bu, kalau begitu aku permisi dulu."Ucap Kiara kepada ibu itu.
Setelah berpamitan dengan orang-orang yang tadi membantu menenangkan nya, Kiara pun kembali ke Fila.
Ia tidak sanggup lagi untuk pergi menyaksikan pemakaman Fany karena dirinya juga masih memiliki banyak urusan yang belum dia selesai kan.
Malam harinya.
Kiara mulai membereskan barang-barang nya satu persatu.
Malam ini Ardan masih belum pulang,entah dia lembur atau berselingkuh dengan Alina, itu lah yang ada di pikiran kiara sekarang.
__ADS_1
Setelah selesai members kan semua barang nya, Kiara pun berdiri di depan lemari pakaian, dia menaruh paper bag yang berisi kemeja untuk Ardan, yang sempat di beli nya saat mereka pergi ke rumah mama El kemarin, tapi sama sekali belum sempat di berikan Kiara kepada Ardan.
Setelah itu Kiara memakai jaket nya.
Terlihat dirinya yang sedang bersiap-siap untuk pergi,tapi entah kemana.
Perlahan Kiara mengeluarkan secarik kertas, ya itu kertas dari pengadilan agama tadi dan menaruh nya di atas nakas sampaing ranjang Ardan.
Kertas tersebut terlihat sudah bdi tanda tangani oleh Kiara.
Tidak hanya sampai di situ saja, Kiara juga melepaskan sebuah cincin yang dulu sempat di pasang Ardan sat hari pernikahan mereka, dan sebelum nya ia tidak pernah melepaskan cincin tersebut.
"Dengan begini,kau akan bebas dengan kebahagiaan baru mu mas."Batin Kiara yabg kemudian menaruh, cincin itu di atas surat cerai yang sudah di tanda tangani oleh nya.
Setelah selesai dengan semua urusan nya di Fila itu Kiara pun keluar tanpa berpamitan dengan siapa pun.
Ia juga meningal kan kunci mobil yang di belikan Ardan untuk nya di atas nakas tadi, dia memilih untuk tidak membawa satu barang pun yang di beli oleh Ardan untuk nya.
Kiara melangkah kan kaki nya pergi dari Fila itu, sesekali dirinya berbalik menatap Fila yang sudah di tinggali nya selama setengah tahun terakhir bersama dengan Ardan.
Kiara sudah memesan taxi untuk mengantarkan nya ke hotel, karena malam ini ia belum tau harus ke mana, jika pulang ke rumah nya itu tidak mungkin, pasti mama dan papa nya akan menanyakan apa yang terjadi kepada dirinya dan rumah tangga nya.
"Kita akan kemana nona?"Tanya sopir taxi tersebut.
"Ke hotel pak."Jawab Kiara singkat.
"Baik lah nona."Jawab sopir taxi itu.
Tidak butuh waktu lama akhirnya Kiara tiba di sebuah hotel biasa yabg tidak terlalu mewah, tapi yang jelas itu sudah sangat jauh dari Fila Ardan.
"Permisi,apa masih ada kamar kosong?"Tanya Kiara kepada pelayan hotel tersebut.
"Ada nona."Jawab pelayan tersebut dengan sopan.
"Berikan satu untuk ku."Ucap Kiara mengeluarkan kartu identitas dan sejumlah uang kes.
__ADS_1
"Sebentar nona akan saya cek dulu."Ucap pelayan hotel tersebut.
"Oke."Jawab Kiara singkat.
Baik lah nona, sudah selesai, ini kunci kamar mu, kamar nomer 002, Ucap pelayan hotel tersebut memberikan kuncinya kamar Kiara.
"Terimakasih."Jawab Kiara singkat dan kemudian berjalan mnuju lift yabg ada di hotel tersebut dan pergi ke kamar nya.
Setelah tiba di kamar 002 Kiara pun membuka pintu dengan kunci yang tadi di beri kan oleh pelayan hotel.
"Huhh, akhirnya aku bisa beristirahat."Ucap Kiara dengan wajah tenang nya.
Saat ini dirinya sudah a benar-benar sendirian, meskipun ia tidak tau setelah ini apa yang harus dia lakukan ia tetap semangat dan memikirkan bagaimana kedepannya, ia juga tidak tau apakah Ardan akan menandatangani surat perceraian itu atau tidak.
"Sudah lah, fokus dengan apa yang sedang aku jalani saja, dia memilih cinta pertama nya, sebaiknya aku menyingkir dan tidak perlu memikirkan nya lagi."Batin Kiara.
Karena lelah Kiara pun memutuskan untuk tidur, ia merebahkan tubuh nya di atas ranjang kecil kamar hotel tersebut dan mulai memejamkan mata nya.
Suasana dingin nya malam itu membuat dirinya sangat mudah untuk terlelap,di tambah lagi rasa nyaman hotel dan malam yang semakin larut.
Hati nya yang terluka kini sudah terasa sangat hambar,luka yang sudah kering namun masih meningal kan bekas yabg sangat jelas, Kiara berniat menyimpan luka itu dan memulai kehidupan baru lagi, meskipun ia tau cepat atau lambat mama dan papa nya akan mengetahui hal ini.
Sementara itu di sisi lain.
"Alina,apa yang kau lakukan? Tindakan ini benar-benar membuat kita bahaya, sekarang kita pasti akan menjadi buronan polisi bukan hanya kau aku juga akan terlibat!"Marah Bima terdengar sampai ke pintu masuk rumah Alina.
Ya setelah kejadian tabrak lari yang di rencanakan oleh Bima dan Alina tadi siang berhasil mereka kembali bersembunyi di rumah Alina, untuk memikirkan bagaimana menghilangkan barang bukti berupa mobil yabg di gunakan untuk menabrak Fany.
"Ya mana aku tau, semua ini aku lakukan juga demi rahasia kita!"Ucap Alina kepada Bima.
"Bodoh,dia sudah bilang jika dia tidak akan membocorkan rahasia kita jika kita menuruti apa yang dia inginkan."Ucap Bima marah.
Sementara itu Tampa mereka sadari ada seseorang yang sedang menguping di luar pintu rumah Alina.
Bersambung ....
__ADS_1