
Ia memarkir kan mobil nya dan berjalan masuk ke dalam kantor polisi tersebut.
"Aku harus yakin, aku bisa menebus kesalahanku kepada Ardan dan Kiara."Batin Bima yang kemudian melangkah masuk ke dalam kantor polisi meskipun dirinya gemetar karena takut.
Di dalam sana Bima di tanya oleh beberapa rekan polisi atas tujuan dan apa laporan yang ingin dia sampai kan.
Di sini lah Bima menjelaskan semuanya,dan mengakui apa yang telah dia perbuat di depan beberapa polisi yang saat ini mencatat keterangan yang di ucapkan oleh Bima ke dalam komputer mereka.
"Baik lah, bisa anda berikan foto dari perempuan bernama Alina itu?"Tanya polisi kepada Bima.
Bima pun mengeluarkan ponsel nya dan memberi polisi melihat foto Alina yang sekarang resmi menjadi buronan polisi.
"Baik lah, terima kasih atas keterangan dan pengakuan yang anda berikan kepada kami, kami sangat sulit menangani kasus ini tapi akhirnya anda sendiri yabg datang untuk menjelaskan nya, meskipun anda terlibat, namun jika ada bukti maka anda akan kami bebas kan, dan untuk sementara ini, sampai kami bisa menangkap Alina anda akan kami tahan terlebih dahulu."Jelas polisi tersebut kepada Bima.
"Baik lah pak, saya mengerti."Ucap Bima yang saat itu sudah merasa lega dan tidak ada beban lagi.
Sementara itu di sisi lain.
Ardan baru saja tiba di rumah papa dan mama Kiara.
"Ma, di mana Kiara?"Tanya Ardan menghampiri mama El dan papa Bian yang sedang duduk di sofa, terlihat mata mama El sedikit sembab.
"Ardan, Kiara sudah mengetahui semuanya, dan sekarang dia ada di kamar, sejak tadi pagi dia tidak keluar kamar bahkan dia tidak makan."Ucap papa Bian kepada Ardan.
"Sebaik nya, kau coba bujuk dia."Ucap Gibran kepada Ardan.
"Ma, maaf kan aku, aku sama sekali tidak tau jika hal ini akan terbongkar."Ucap Ardan kepada mama El.
"Sudah lah Ardan, ini salah kita semua,bukan hanya dirimu saja."Ucap mama El sambil menangis.
"Ardan apa kau mendengar kan aku?"Tanya Gibran lagi.
"Iya."Ucap Ardan yang kemudian berjalan menuju kamar Kiara dan mulai mengetuk pintu kamar itu.
Tok...tok..tok. Beberapa kali Ardan mengetuk pintu kamar itu.
"Sayang, ini aku, boleh aku masuk?"Tanya Ardan dengan suara lembut.
__ADS_1
Namun sama sekali tidak bada jawaban dari kamar itu.
"Sayang, aku akan menjelaskan semua nya, jangan seperti ini, bukan kah kau sudah berjanji? Maaf kan aku."Ucap Ardan lagi.
Namun masih saja tidak ada jawaban.
Ardan yang khawatir pun mencoba membuka pintu tersebut namun ternyata di kunci dari dalam oleh Kiara.
Hal ini tentu saja membuat Ardan semakin khawatir, karena tidak ada jawaban dari sang istri.
"Bagaimana?"Tanya Gibran yang datang mendekati Ardan.
"Tidak ada jawaban,dan pintu nya, di kunci dari dalam."Ucap Ardan kepada Gibran.
"Sebaiknya kita dobrak saja, aku khawatir jika Kiara kenapa-kenapa."Ucap Gibran.
"Sebaiknya begitu."Ucap Ardan lagi.
Dalam aba-aba ke tiga Ardan dan Gibran pun mendobrak pintu kamar tersebut sampai gagang nya rusak dan akhirnya bisa di buka.
Namun alangkah kagetnya mereka melihat Kiara sudah tidak sadarkan diri di lantai kamar nya.
"Ardan cepat bawa dia."Ucap Gibran yabg saat itu juga panik.
Gibran berlari menyiapkan mobil, sementara Ardan mengendong Kiara untuk segera membawa nya masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit.
Sementara itu papa Bian dan mama El yang panik karena tidak tau mengapa Kiara bisa pingsan pun juga mengikuti Gibran dan Ardan mengunakan mobil mereka.
"Sayang, bangun lah, apa yang terjadi dengan mu?"Ucap Ardan memeluk Kiara yang di rebahan di pangkuan nya.
"Ardan sabar lah, dia akan baik-baik saja."Ucap Gibran berusaha menenangkan Ardan, meskipun dirinya sendiri begitu khawatir.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di rumah sakit.
Ardan kembali mengendong Kiara turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit.
"Dokter cepat tolong istri saya."Ucap Ardan dalam keadaan panik.
__ADS_1
Para suster yang melihat itu bergegas membawa berangkar dan membantu Ardan menaruh Kiara di atas berangkar tersebut dan membawa nya.
"Silahkan tinggu di luar pak, biar kan kami yabg menangani pasien."Ucap suster tersebut yang masuk ke dalam ruangan bersama dokter.
"Ardan, tenang lah, kontrol emosi mu, jangan seperti ini, Kiara akan baik saja."Ucap Gibran kepada Kiara.
"Tapi kak, dia istri ku, lihat saja, sampai terjadi sesuatu dengan nya aku tidak akan mengampuni Alina."Ucap Ardan menggebu-gebu.
"Sabar Ardan kau harus bisa mengontrol diri mu."Ucap papa Bian yang sedang memeluk mama El yang juga sama seperti Ardan sangat khawatir terhadap Kiara.
Satu jam berlalu.
Kini dokter yang tadinya memeriksa Kiara sudah keluar dari ruang rawat tersebut.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? Apa yang terjadi dengan nya?"Tanya Ardan segera menghampiri dokter tersebut.
"Tuan, tidak ada yang perlu di khawatir kan, istri tuan sekarang sedang hamil muda, dan itu adalah gejala awal kehamilan nya,usia kandungan nya baru menginjak seminggu."Ucap sang dokter menjelaskan.
tiba-tiba saja semua orang yang ada di situ tercengang dan saling pandang menatap ke arah Ardan, air mata kesedihan yang tadinya keluar seperti nya berubah menjadi air mata bahagia.
"Is-istri saya hamil dok?"Ucap Ardan kaget.
"Iya,dan saya sarankan agar tidak membuat pikiran nya kacau atau stres karena itu akan membahayakan bagi kesehatan janin yang ada di dalam perut nya."Ucap sang dokter lagi.
Seketika Ardan teringat bagaimana Kiara yabg tiba-tiba lemas dan tiba-tiba suka makan di tengah malam, mungkin itu adalah bawaan janin nya.
"Terima kasih dokter, terima kasih banyak,apa sekarang saya boleh masuk ke dalam?"Tanya Ardan lagi dengan mata berbinar,ia terlihat sangat bahagia dan merasa usaha nya beberapa malam itu berhasil.
"Oh iya silahkan, saya akan membuat resep obat nya dulu."Ucap sang dokter mempersilahkan Ardan masuk ke ruang rawat Kiara lalu kemudian pergi dari sana.
"Astaga pa, ternyata tidak lama lagi kita akan memiliki cucu."Ucap mama El kepada papa Bian.
"Iya ma, papa pun tidak menyangka."Ucap mereka senang.
"Kau berhasil, memberikan aku keponakan, seperti nya aku harus berterima kasih banyak kepada mu."Ucap Gibran sambil tersenyum manis dan tidak ada yang bisa menutupi rasa haru mereka.
Ardan pun reflek memeluk Gibran dengan erat karena hati nya yang awalnya khawatir menjadi berbunga-bunga dengan sekejap saja.
__ADS_1
Bersambung ....