
Setengah jam kemudian ...
Aidan sudah tak sabar, akhirnya memilih menghubungi adiknya, maklumlah rasa rindunya pada Deandra sudah ada di ubun-ubun, ingin meledak rasanya. Namun, berkali-kali coba menghubungi ponsel Elena ternyata nadanya sibuk.
“Ck ... Lama sekali sih dari tadi teleponnya sibuk terus!” gerutu Aidan, ponselnya dilemparnya ke atas ranjang dan memilih kembali merebahkan tubuhnya yang sudah terasa lelah.
Dibalik telepon yang sedang sibuk, rupanya ponsel Elena masih sibuk video call dengan ponsel Bu Nani, yang tersambung dengan Deandra. Seperti biasanya mereka mengobrol panjang lebar tentang apa saja, walau diawali bertanya tentang keadaan Deandra.
“Dea, kamu mau mau'kan bertemu dengan Kak Aidan. Kasihan suamimu, dia benar-benar sedih kehilangan kamu, walau Kak Aidan juga salah sih pergi begitu saja saat dengar kamu hamil. Dan langsung berpikir kamu hamil anak orang lain, tapi wajar sih kalau Kak Aidan marah atau kecewa karena memang dia tidak tahu,” tutur Elena menarik napas panjang.
Deandra terlihat menundukkan kepalanya dan mengusap perutnya sejenak, lalu kembali menatap layar ponsel milik Bu Nani.
“Sebenarnya aku ingin dia berjuang mencariku Kak Elena, mungkin terkesan egois ya ... itu juga karena aku ada kecewa sama Kak Aidan karena tidak ada di rumah sakit menemaniku.”
“Tapi Kak Aidan menemani kamu kok di rumah sakit, cuma ya karena mendengar kamu hamil hatinya terasa tertampar, aku lihat jelas wajahnya benar-benar sedih dan terpuruk. Belum kita jelaskan dia sudah pergi begitu saja,” jawab Elena sedikit mendesah kecewa.
“Eh tahu-tahunya barusan aku dapat kabar dari Kak Aidan kalau kamu sudah tidak ada di rumah sakit, selama dia kembali ke rumah sakit. Dan kamu tahu, Kak Aidan sekarang ada di Singapura mencari keberadaan kamu,” lanjut kata Elena.
Sontak saja punggung Deandra tegak lurus tidak bersandar di head board ranjangnya lalu membulatkan netranya. “Di Singapura, sekarang Kak Aidan di sini ... cepat sekali.” Masih tak percaya rasanya.
Elena menganggukkan kepalanya. “Beneran kok, aku gak bohong. Sangking Kak Aidan cinta sama kamu makanya dicari, lagi pula mama'kan tahu kalau Om Harland papa kamu dulu tinggalnya di Singapura, tapi entah masih sama atau tidaknya alamat rumah Om Harland waktu 15 tahun yang lalu.”
Deandra mengerjapkan netranya berulang kali dan menyibak rambut panjang, entah kenapa jantungnya jadi berdebar-debar mendengar suaminya juga ada di Singapura.
“Oh iya sekalian aku mau ceritain, ternyata Kak Poppy campur tangan saat semalam kamu mau diperko sa sama cowok itu, dan sekarang sudah berada di kantor polisi, dan satu lagi Kak Aidan sudah menceraikan Kak Poppy secara agama dan sekarang sedang proses di pengadilan, biar kamu gak merasa bersalah jika didekati sama Kak Aidan.”
Deandra lagi-lagi dibuat terhenyak dengan fakta yang baru tentang kakak angkatnya, sungguh tega sekali bertindak seperti itu, lengkap sudah satu keluarga Ernest berbuat jahat padanya. Elena dari sambungan video callnya masih menatap Deandra, menunggu sebuah jawaban dari kakak iparnya.
“Dea, aku tahu hati kamu masih bimbang dengan kakakku, awalnya aku memang lebih menyetujui kamu berpisah dengan Kak Aidan, mengikuti kehendakmu dulu, karena kakak selalu menyakitimu, tapi ternyata semuanya berubah ... Pergi begitu saja pun tidak akan menyelesaikan masalahnya, ada baiknya bertemu segera dan bicaralah dari hati ke hati. Karena menurutku menjauh justru akan menjadi beban pikiran kita sendiri. Bukankah obat yang terbaik untuk luka yang ditorehkan adalah orang yang membuat luka itu sendiri,” tutur Elena begitu lembutnya.
Pergi menjauh atau menghindar lalu menghilang untuk beberapa bulan bahkan sampai bertahun-tahun memang tidaklah menyelesaikan masalah, yang didapatkan hanyalah ketenangan sesaat tapi tetap ada selalu dipikiran kita masing-masing.
__ADS_1
Mereka berdua terlihat diam sejenak dan tenggelam dalam pemikiran masing-masing dalam beberapa menit, dan tak lama Elena kembali berbicara.
“Wanita yang sedang hamil biasanya butuh suami berada disisinya, walau sang istri tidak mencintainya, tapi tanpa disadari sang istri dia merasa nyaman berada disisi suaminya walau tidak berbuat apapun, kita sebagai wanita mungkin tangguh dan bisa menjalani masa mengandung tanpa suami, tapi hati kecil kita tidak bisa berbohong jika ada rasa ingin diperhatikan oleh papanya anak-anak, begitulah egonya seorang wanita,” tutur Elena.
Mendengar tutur kata Elena seperti itu bumil tersenyum kecut, hati sangat tersindir.
“Apalagi kadang wanita hamil bawaannya pengen dekat sama suaminya padahal bencinya bukan main, itu juga banyak yang merasakannya. Aku tahu ini dari beberapa temanku yang waktu itu hamil,” ucap Elena sembari terkekeh kecil dan menggeleng-geleng.
Kali ini Deandra tersenyum lebar. “Ya Kak Elena,” aku Deandra, memang kenyataannya dia tiba-tiba bawaannya pengen bertemu dengan Aidan, entah kenapa bisa seperti itu.
“Jadi bagaimana menurutmu, bolehkan Kak Aidan menemuimu?” tanya Elena, lumayan ada kemajuan buat melobi kakak iparnya.
Deandra akhirnya mengangguk pelan, Elena pun tersenyum lebar.
“Aku minta alamat rumahnya?” pinta Elena langsung bergegas ke intinya.
“Sebentar Kak Elena, teleponnya aku kasih ke maid yang sudah lama tinggal di sini, aku juga tidak tahu alamatnya apa,” jawab Deandra.
Ponsel milik Bu Nani dikembalikannya, dan meminta untuk mencari maid agar memberitahukan alamat rumahnya, kebetulan Papa Harland tidak ada di rumah sedang ada dikantornya yang ada di daerah Orchid.
Beberapa jam kemudian, kembali lagi ke hotel ...
Aidan baru saja menyelesaikan sholat ashar agar hati dan pikirannya lebih tenang, karena mau bagaimanapun dia berusaha mencari Deandra jika belum seizin Allah maka dirinya tetap tidak akan bisa berjumpa, jalan satu-satunya yang memohon pada Allah sebagai pemilik bumi dan langit ini.
Dilipatnya kembali sajadahnya dan diletakkannya kembali ke tepi ranjang, setelah itu dia memeriksa ponselnya, tiba-tiba pria itu tersenyum sendiri saat melihat ada pesan yang masuk dari Elena, netra elangnya tampak berbinar-binar.
“Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah,” gumamnya sendiri, dia pun bangkit dari duduknya dan mengambil tas kecilnya, lalu langkah kakinya begitu cepat keluar dari kamar.
“Lucky, cepetan keluar, saya sudah tahu dimana istriku berada!” teriak Aidan dengan hati yang bahagia, tangannya sibuk menggedor-gedor kamar di sebelahnya.
...----------------...
__ADS_1
Satu jam kemudian, Lucky dibuat geleng kepala dengan atasannya begitu banyak belanjaan yang dibeli oleh Aidan di salah satu tempat belanja yang ada di sekitar wilayah marina bay. Mulai dari susu dan cemilan untuk ibu hamil, belum lagi beberapa dress ibu hamil yang sempat Aidan lihat dan langsung membelinya, ditambah lagi buket bunga yang sangat cantik. Sebegitu bahagianya Aidan yang ingin bertemu istrinya. Dan jangan ditanya bagaimana dengan degup jantungnya, sudah jelas berdebar-debar.
Dengan bermodalkan alamat yang diberikan Elena serta diantarkan oleh sopir dari hotel, rupanya jarak dari hotel ke rumah Papa Harland sangatlah dekat kurang lebih 20 menit dengan kendaraan.
Aidan tampak merapikan kerah dan lengan kemeja, agar memastikan penampilannya terlihat rapih, sementara itu Lucky menggelengkan kepalanya sembari menekan tombol bel rumah.
“Bismillah, sayang ... aku datang,” gumam Aidan seorang diri sembari menunggu gerbang rumah terbuka.
Tak lama kemudian gerbang rumah terbuka, dan maid yang membuka pintu menanyakan namanya, tapi tak lama Bu Nani yang sudah dapat pesan dari Elena bergegas menghampirinya.
“Selamat datang Tuan Aidan, Pak Lucky ... silahkan masuk,” ucap Bu Nani dengan ramahnya.
Aidan sangat terharu, sangking terharunya melihat dewi penyelamatnya dia memeluk Bu Nani. “Terima kasih banyak Bu Nani, karena Bu Nani akhirnya saya bisa bertemu dengan istri saya kembali,” ucap Aidan. Wanita paruh baya itu terkesiap ketika dapat pelukan dari tuan mudanya. “I-iya sa-sama-sama Tuan,” jawab Bu Nani tergagap.
Usai itu, Bu Nani berjalan terlebih dahulu dan mengiring tuan mudanya ke salah satu kamar utama yang ditempati oleh Deandra.
“Silahkan masuk Tuan Muda, tapi mohon maaf Non Deandra baru saja beristirahat setelah minum obat,” kata Bu Nani sebelum dia membukakan pintunya.
“Gak pa-pa Bu Nani, saya sudah tak sabar bertemu dengannya.”
Pintu kamar pun terbuka lebar, langkah kaki Aidan mulai menapaki kamar tersebut, terlihat wanita yang memakai dress putih itu memejamkan netranya, tampak pulas, pria itu sangat bahagia melihatnya, beginilah rasanya jatuh cinta.
Buliran bening itu kembali keluar dari ujung ekor netra elangnya, siapa disangka dia mendapatkan kemudahan untuk kembali bertemu dengan Deandra istrinya.
Bersambung ...
...----------------...
__ADS_1