Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh

Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
Restu Papa Harland


__ADS_3

Menjelang malam ...


Ruang keluarga


Wajah Aidan tampak tegang, sementara tangannya menggenggam erat tangan Deandra yang turut duduk bersama di ruang keluarga setelah Aidan membopongnya ke ruang keluarga, karena Papa Harland ingin berbicara dengan Aidan.


Pria paruh baya itu menatap pasangan suami istri tersebut, dengan tarikan napasnya yang begitu tenang.


“Mohon maaf Om Harland, jika aku telah lancang ke sini dan masuk menemui Deandra tanpa seizin On Harland. Tapi dengan kesungguhan hatiku memang ingin bertemu dan turut merawatnya, karena dia istriku Om,” tutur Aidan dengan suaranya yang tercekat.


Pria paruh baya itu masih menatap santai, kemudian diambillah cangkir kopi miliknya lalu menyesapnya perlahan-lahan.


Ujung ekor netra Deandra melirik suaminya yang masih tampak tegang, dan hatinya berdoa tidak ada pertengkaran antara papa dan suaminya seperti di studio tempo hari.


“Aku minta maaf Om, jika semalam aku meninggalkan rumah sakit, tidak menemani Deandra sampai siuman, mungkin aku terkesan seperti suami brengsek, tapi sesungguhnya saat itu aku sangat syok, Om Harland,” ungkap Aidan apa adanya tidak mau menutupi perasaannya.


Papa Harland mengangguk pelan, lalu kembali meletakkan cangkir kopinya ke atas meja.


“Aidan, mau sampai kapan kamu panggil Om terus, harusnya sudah panggil Papa seperti Deandra,” tegur Papa Harland dengan gaya santainya.


Aidan sontak saja menahan napasnya, dan terhenyak dalam persekian detik atas ucapan Papa Harland barusan.


Papa Harland mengulum senyum tipisnya melihat menantunya yang tiba-tiba saja membeku, sepertinya memang sudah waktunya Papa Harland menghentikan rasa kesal dan kecewa pada menantu sekaligus masih terbilang keponakan jauhnya. Hidup dengan rasa kesal dan rasa kecewa, kebencian juga tidak ada gunanya, apa salahnya memberikan kesempatan untuk seseorang yang mau merubah dirinya menjadi lebih baik, diiringi doa agar semuanya berjalan baik.


“Aidan, belajarlah menjadi seorang suami yang setia, suami yang menyayangi keluarga, suami yang bisa membimbing, melindungi istri dan anaknya. Jangan hanya bisa menjadi pimpinan yang baik di perusahaan, tapi harus bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik pula, biasakanlah di saat ada masalah pasang kuping dan matamu jangan langsung menjudge seseorang, hal seperti itu jangan terulang kembali untuk kedua kali dan seterusnya. Dan jangan sesekali menyakiti dan menyiksa baik fisik maupun mental anak Papa,” tutur Papa Harland memberikan nasehat.


Ah ... Aidan benar-benar tak bisa lagi mengungkapkan perasaannya, yang ada dia mengecup punggung tangan istrinya yang masih dia genggam, kemudian melepaskan sejenak, dan dia beranjak dari duduknya.


Selangkah demi selangkah dia mendekati Papa Harland, lalu perlahan-lahan dia bersimpuh dan meraih tangan kanan Papa Harland, disalimnya tangan tuanya itu dengan rasa hormatnya sebagai menantu.


“A-aku Aidan Tristan, insyaAllah akan menjaga, melindungi, membimbing dan membahagiakan istriku Deandra serta anak-anak kami kelak. Aku tidak akan menyakiti dan menyiksa fisik maupun mental anak Papa, karena aku sangat mencintainya. Mohon restu pernikahan kami ini Pah, restu aku menjadi menantu dan suami anakmu Pah,” imbuh Aidan, suaranya yang bergetat hingga serak, menahan rasa hati yang tak bisa dia lukiskan kembali.


Papa Harland menarik punggungnya dari sandaran sofa, netranya tampak berembun, tangan kirinya pun terulur menepuk bahu menantunya.


“Jadikan masa lalu sebagai pembelajaran yang tidak perlu diulang kembali, jadikanlah pernikahan ini sebagai yang terakhir sampai mau memisahkan. Perlihatkanlah segala kesungguhan mu dalam tingkah lakumu, bukan hanya sekedar ucapan di mulut saja,” jawab Papa Harland, pria itu jeda sejenak kemudian dilanjutkan kembali, akan tetapi dia menatap sendu wajah anaknya.

__ADS_1


“Deandra sudah cukup lama hidup dalam kesedihan, buatlah dia bahagia Aidan. Papa titipkan anak cantik Papa satu-satunya padamu, hanya Deandralah harta satu-satunya yang paling berharga yang baru Papa temukan. Jangan pernah kamu sia-siakan anak Papa, biarlah Allah menjadi saksi dari semua perkataanmu,” lanjut kata Papa Harland, dengan meneteskan air matanya.


Netra Deandra pun turut meneteskan air matanya mendengar harapan papanya sendiri, begitu pun Aidan, pria itu mendongakkan wajahnya yang turut tersentuh dengan permintaan mertuanya.


“Iya Pah, insyaAllah aku tidak akan menyia-nyiakan Deandra.” Aidan kembali mengecup punggung tangan Papa Harland, dan merekapun saling berpelukan, posisi Aidan seperti sedang sungkeman dengan mertua saat acara pernikahan.


“Papa merestuimu,” bisik Papa Harland saat mereka berdua berpelukan.


“Terima kasih Pah,” jawab Aidan terharu, perasaannya sangat lega dan bahagia sudah mendapat restu dari Papa Harland.


Deandra mengulas senyum bahagianya, sembari mengusap ujung ekor netranya yang masih meneteskan air mata haru dan bahagia.


Tanpa mereka ketahui bersama, di luar gerbang rumah Papa Harland tampak Papa Ricardo, Mama Amber dan Elena sudah tiba. Ternyata Elena sangat gercep setelah mendapat kabar keberadaan Elena, mereka bertiga langsung menyusul, dengan itikad baik membantu memperbaiki hubungan Aidan dan Elena.


“Permisi Tuan Harland ada tamu yang ingin bertemu Tuan,” ucap sang kepala pelayan yang baru saja menghampiri.


“Siapa tamunya?”


“Tuan Ricardo,” jawab sang kepala pelayan.


“Suruh masuk,” pinta Papa Harland sembari beranjak dari duduknya untuk menyambut kedatangan besannya, begitu pula Aidan turut mengikutinya.


Tak lama muncullah Papa Ricardo sekeluarga.


“Wah ceritanya pada nyusul ke sini nih, selamat datang semuanya,” sambut hangat Papa Harland dengan wajah ramahnya.


Papa Ricardo, Mama Amber dan Elena jadi melongo melihat keramahan Papa Harland, ditambah lagi Aidan berdiri di samping Papa Harland.


“Loh kok jadi pada bengong?” tegur Papa Harland jadi bingung sendiri.


Lamunan mereka bertiga buyar seketika itu juga, dan langsung salam serta peluk hangat diantara mereka bertiga.


“Apa kamu sudah berbaikan dengan anakku?” tanya Papa Ricardo.


“Kelihatannya, bagaimana Kak Ricardo?” balik bertanya Papa Harland dengan senyum hangatnya.

__ADS_1


“Alhamdulillah, Masya Allah,” seru Papa Ricardo, pria paruh baya itu kembali memeluk besannya sembari menepuk punggung Papa Harland.


Mama Amber dan Elena ikutan terharu, ternyata mereka sudah mendapat kabar baik dan turut berbahagia. Satu persatu mengucapkan selamat pada Aidan, lalu kedua wanita itu langsung menghampiri Deandra yang tidak bisa ikutan berdiri, hanya bisa duduk atau tiduran.


“Maafin Mama sekali lagi ya Nak, semoga Mama diberikan kesempatan menjadi ibu mertua dan Oma yang baik,” ungkap Mama Amber setelah memeluk Deandra.


“Iya Mah, semoga perubahan Mama selalu istiqomah, dan semakin menjadi pribadi yang baik,” jawab Deandra tulus, apalagi melihat penampilan Mama Amber yang kini sudah berhijab.


“Insya Allah, Nak.” Wanita paruh baya itu mengusap perut Deandra. “Sehat-sehat cucu Oma ya, cucu Oma kembar ya.” Tampak wajah bahagia Mama Amber mendengar Deandra sedang mengandung anak Aidan.


“Iya Mah, insyaAllah kembar.”


Kebahagiaan menyelimuti kediaman Papa Harland, rumah yang sudah lama ditempati oleh Papa Harland bersama maidnya, kini terasa semakin hangat dengan kehadiran keluarga sekaligus besannya. Pria paruh baya itu menjatuhkan air matanya diam-diam dibalik ramah tamah sembari menunggu kesiapan makan malam bersama.


“Andaikan kamu masih hidup, dan ada di sampingku, Bianca. Mungkin kita akan sama-sama menikmati kebahagiaan keluarga kita ini, dan menikmati masa tua kita dengan cucu cucu kita,” batin Papa Harland.


Aidan kembali duduk di samping istrinya, setelah Mama Amber dan Elena puas berbincang sama Deandra, dan mereka berdua sedang bercengkerama bersama Papa Harland.


Pria itu merangkul pinggang istrinya, lalu mengecup lembut kening istrinya.


“Aku sangat bahagia malam ini, sayang. Terima kasih sudah menerimaku kembali.”


Wanita itu menatap suaminya dengan senyuman hangatnya. “Jangan lupa sama janjinya ke Papa, harus ditepati!” ucap Deandra lembut tapi tegas.


“Iya sayangku, cintaku,” jawab Aidan dengan gemasnya.


Deandra mengusap dada suaminya dengan menundukkan kepalanya. “Kak, aku pengen makan mangga muda, tapi Kakak petik langsung dari pohonnya langsung, gak mau yang dibeli di supermarket,” rengek Deandra tiba-tiba.


Aidan kembali melongo, dan langsung melirik Papa Harland.


“Ayo Kak, aku mau makan mangga muda, pokoknya malam ini juga,” kembali merengek Deandra pada suaminya.


Papa Harland menepuk keningnya, karena di Singapura jarang ada pekarangan rumah yang menanam pohon mangga, kecuali di Indonesia sering dijumpai di pekarangan rumah.


...----------------...

__ADS_1


Ayo kira-kira mau bersambung lagi, atau tamat aja hari ini 😊😊😊.


__ADS_2