Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh

Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
Ngidamnya Bumil


__ADS_3

Lagi-lagi Aidan dibuat melongo dengan tingkah laku Deandra, seumur hidupnya belum pernah makan bakso di warung bakso pinggir jalan, terbiasa makan di restoran mewah, tapi sekarang dia duduk di warung bakso sederhana.


“Dea, kamu yakin makan bakso di sini, aku sudah reservasi restoran di hotel?” tanya Aidan sembari menepuk bangku yang ingin dia duduki.


“Kalau Kak Aidan tidak mau makan di sini, aku tidak memaksakan. Kak Aidan bisa lanjut perjalanan ke restoran sana, tapi aku tetap disini,” jawab Deandra tanpa menatap Aidan, lalu dia menulis pesanan yang ingin dia makan siang ini.


Demi agar dekat dengan Deandra, Aidan kali ini menepis egonya dan duduk bersama dengan istrinya di tempat yang sama.


“Gak jadi pergi makan ke restoran mewah?” kali ini Deandra yang bertanya, saat melihat suaminya ikutan duduk.


“Kamu ada di sini, masa aku tinggalin ...,” jawab Aidan menatap lekat istrinya yang ada dihadapannya.


“Ditinggalin juga gak pa-pa, lagian aku juga bisa balik sendiri,” jawab Deandra dengan santainya, lalu dia memanggil pelayan warung baksonya untuk memberikan kertas pesanannya.


“Enak aja tinggalin kamu sendiri di sini, nanti kalau kamu diculik orang bagaimana? akunya yang bakal kesakitan kalau kamu diculik terus ditinggal lama!” celetuk Aidan dengan kesalnya.


Deandra mendesis mendengarnya. “Lebay banget, sekarang aja bilangnya kesakitan, lalu kemarin-kemarin kemana aja! Dasar amnesia!”


Aidan tampak diam sejenak, lalu menyentuh tangan Deandra yang tergeletak di atas meja. “Maafin aku ya, sayang,” kata Aidan begitu lembutnya, dan mampu membuat bulu halus Deandra merinding, kemudian dia menarik tangannya dari tangan Aidan.


“Gak ada maaf bagimu! Dan gak usah pakai kata sayang-sayang, memangnya kita pernah se akrab itu,” jawab ketus Deandra, Aidan hanya bisa menghela napas panjang. “Sabar Aidan, minta maaf sama wanita itu butuh perjuangan, jangan pantang menyerah,“ batin Aidan, harus tetap semangat.


“Ya sudah kalau sayang mau marah sama aku gak pa-pa, aku terima dengan senang hati, tapi aku tetap panggil kamu sayang, karena aku sayang dan cinta sama kamu,” balas Aidan dengan santainya, bagi dia lebih baik Deandra berkata seperti itu, ketimbang dirinya di diamkan, rasanya pasti tidak enak.


Pesanan bakso Deandra sudah tiba, ternyata dia pesankan juga buat Aidan dan Lucky serta ajudannya yang kebetulan sang asisten dan ajudannya duduknya berbeda meja.


Sepertinya makan siang ini benar-benar bawaan si baby twin, terlihat wajah Deandra sembringah melihat mangkok baksonya lengkap dengan tulang iga, sementara Aidan yang bukan penikmat bakso hanya bisa memelas.


“Dimakan baksonya, awas aja kalau gak dihabiskan, mubajir!” ancam Deandra dengan netra tajamnya.

__ADS_1


“Sayang, memang makanan ini enak?” tanya Aidan sembari mengaduk mangkok baksonya.


Deandra yang sudah menyeruput kuah baksonya tersenyum lebar. “Mantap, rasa baksonya,” jawab Deandra, dan dia mulai menikmati baksonya, tapi sebelumnya dia menuangkan beberapa sendok sambal ke mangkoknya.


“Sayang, sudah cukup sambalnya jangan banyak nanti kamu sakit perut.” Aidan langsung menahan tangan Deandra yang ingin menuangkan sambal tapi langsung dikeplak tangan Aidan sama bumil. “Jangan larang-larang, makan bakso itu lebih nikmat kalau pedas!” sentak Deandra tidak suka. Lalu tangannya menuangkan sambal ke mangkok milik Aidan.


“Sayang ...”


“Makan baksonya! kalau enggak pergi dari sini, jangan dekat-dekat aku!” ancam Deandra dengan netranya melotot.


“I-iya sayang, aku makan baksonya sekarang. Tapi jangan suruh aku pergi ya,” pinta Aidan langsung manut dengan perintah bumil.


“Mmm ...,” gumam Deandra.


Dengan rasa yang campur aduk dihatinya, Aidan pun mulai makan baksonya, satu sendok sudah berada di dalam mulutnya, lalu tak lama dia menyuap lagi baksonya.


“Ternyata enak ya, sayang,” kata Aidan, ternyata rasanya cocok di lidahnya, walau agak pedas karena Deandra sudah menuangkan sambal ke mangkoknya.


“Mmm ...”


“Cie ... Cie ada yang perhatian banget nih ye ama istrinya, takut ditinggal lagi ya,” batin Lucky tergelitik melihat sikat manis tuannya.


30 menit sudah mereka menyantap bakso, Aidan pun bergegas membayar makanan semuanya, sementara itu Deandra keluar terlebih dahulu dari warung bakso dan menatap ke arah seberang jalanan.


“Aku mau makan rujak yang di sana, buah mangganya ya banyak, terus mau cilok bumbu kacangnya banyaki, sama es dawet itu,” kata Deandra sembari menunjukkan tangannya ke arah seberang saat Aidan sudah berdiri di sampingnya, terlihat jejeran gerobak penjual makanan tertata dengan rapi.


Netra Aidan dibuat melongo lagi, disangka Aidan ucapan Deandra di mobil sekedar ucapan ternyata tidak. “Aku mau Kak Aidan yang beliin semuanya ke sana,” rengek Deandra, tapi sebentar ... Deandra langsung menyadari dirinya tiba-tiba merengek pada Aidan. “Kok tiba-tiba aku jadi begini, apa aku lagi kena sindrom ngidam yang diceritakan Dokter Mira,” batin Deandra mulai tanda tanya. Tapi memang dirinya ingin Aidan yang membelikan semua makanan itu.


“Tapi Sayang ... kamu baru makan bakso, memangnya masih lapar? Nanti perut kamu sakit kalau kebanyakan makan,” tanya Aidan meragu untuk membelikannya, apalagi menurut dia makanan dipinggir jalan kurang higines.

__ADS_1


“Bilang aja gak mau beliin, susah amat sih!” gerutu Deandra kesal sendiri, lalu melangkahkan kakinya menuju mobil dia bukan mobil Aidan.


Aidan bergegas menyusul wanita itu lalu menahan lengan Deandra. “Ya sayang, aku belikan ya ... tapi tunggu di mobilku ya,” bujuk Aidan, tidak mau lihat istrinya masuk ke mobilnya.


“Ya sudah sana beliin sekarang Juga, gak pakai lama!” jawab Deandra memerintah dengan memasang wajah cemberutnya.  Pria itu gemas sekali melihat wajah cantik istrinya yang terlihat cemberut, ingin rasanya cium Deandra saat itu juga, namun dia harus menahana diri dari pada terjadi perang dunia ketiga. Aidan pun menuntut Deandra untuk ke mobilnya dan membantu wanita itu masuk ke dalam mobil.


“Tunggu sebentar di sini ya sayang, aku belikan pesananmu,” pinta Aidan.


“Mmm ...”


Pria yang baru saja lancar berjalan segera menyeberang dan menghampiri beberapa gerobak makanan sesuai permintaan istrinya. Lagi-lagi Lucky dibuat tercengang dengan tuannya, baru kali ini melihat tuannya beli makanan sendiri di pinggir jalan tanpa menyuruh dia.


“Wah beneran nih Tuan Aidan, udah bucin banget sama istrinya. Dulu-dulu mana mau kayak begitu,” gumam Lucky sendiri.


Kata orang cinta bisa mengubah seseorang, dari buruk menjadi lebih baik atau sebaliknya dari yang baik menjadi buruk. Namun sesungguhnya jika cinta itu tepat waktu dan tepat orangnya, akan terasa indah buat pasangan yang saling mencintai.


Di dalam mobil, Deandra bisa melihat bagaimana pria dengan setelan pakaian jasnya sedang mengantre beli rujak di bawah teriknya matahari, jika tidak ada goresan luka yang pernah Aidan berikan pada Deandra, mungkin pemandangan itu membuat hati Deandra sangat bahagia, apalagi perhatian itu dari suaminya sendiri.


Wanita itu menundukkan kepalanya lalu menatap perutnya lalu mengusap lembut. “Inikah kemauan anak-anak mama, yang ingin di perhatian sama papa?” gumam Deandra, seakan bertanya pada si calon baby twin.


“Maafin mama ya sayang, tidak semudah itu mama memaafkan papa.”


Hati kecilnya sungguh tidak ingin anak-anaknya kelak tidak memiliki orang tua yang lengkap, apalagi dia sendiri bisa merasakan bagaimana sedihnya tidak merasakan kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya. Sungguh sangat menyedihkan!


 Bersambung ...


 


__ADS_1


 


 


__ADS_2