
Perjalanan hidup manusia pasti penuh dengan lika liku yang harus dilalui, apa yang kita lakukan dan kerjakan itulah yang kita tuai. Hidup pun tak selamanya bahagia, pasti akan ada masa sedihnya, begitu pula dengan sebaliknya.
Perjuangan Lucky menunjukkan keseriusannya bersama Elena ternyata tidak sia-sia apalagi dapat restu dari Papa Ricardo dan Mama Amber, kedua orang tua Elena tidak lagi memandang status sosial, cukup melihat keseriusannya, kepribadian Lucky serta mengutamakan kebahagiaan Elena sendiri karena setiap hubungan yang menjalankan adalah mereka bukan orang tua.
Semenjak menyatakan cintanya dua bulan kemudian Lucky menghalalkan adik Aidan, kini pria itu sedang memasang cincin pernikahan pada jari manis Elena lalu lanjut mencium kening Elena dengan lembutnya.
Aidan dan Deandra yang turut menyaksikan pernikahan Elena dan Lucky sangat haru, berulang kali Aidan mengecup tangan istrinya yang dia genggam, karena dia menyesal belum mewujudkan acara pernikahan yang indah buat istrinya. Walau bagaimana pun pernikahan adalah moments yang terindah dan selalu ditunggu bagi seorang wanita, dan cukup sekali dalam hidupnya.
Aidan merangkul bahu Deandra dan mengecup keningnya. “Maafkan aku ya sayang, aku belum sempat mengadakan resepsi pernikahan kita,” ucap Aidan menatap sendu.
Wanita itu membalas tatapan suaminya setelah barusan melihat acara ijap kabul adik iparnya. “Mindset kita bukan ke acara resepsi pernikahan lagi Papa, tapi kehidupan kita di rumah tangga kita, melihat Papa berubah dan sangat mencintaiku saja aku sudah banyak bersyukur, apalagi seminggu lagi insyaAllah anak-anak kita hadir,” tutur Deandra begitu lembutnya.
Pria itu tersenyum hangat dan mengusap lembut perut Deandra yang semakin besar, dirinya tidak menyangka usia kandungan istrinya sudah mendekati HPL nya.
Acara prosesi pernikahan Elena dan Lucky masih berlanjut, dan mereka menikmati rentetan acara tersebut dengan hikmat dan sudah pasti kedua pasangan ini tampak mesra, sang suami selalu menatap mengagumi istrinya walau sedang hamil aura kecantikannya semakin menguar, belum lagi bodynya tidak melebar kecuali perutnya yang semakin membesar, apalagi mmm ... jangan ditanya masalah urusan ranjang sudah pasti Aidan semakin mabuk cinta sama Deandra. Kata bapak-bapak, ibu hamil itu sexy dan bikin suami tambah bergairah. Percaya deh!
Lantunan musik yang mengiringi resepsi pernikahan sudah terdengar, apalagi Aidan mengundang penyanyi Ronan Keating untuk mempersembahkan lagu wedding, mumpung Ronan Keating konser di Jakarta.
“Spesial for you, my love,” bisik Aidan saat Ronan Keating menyanyikan sebuah lagu, dan penyanyi tersebut menyebut nama Deandra.
Deandra sang terkejut melihat kehadiran penyanyi favoritnya dan langsung melirik suaminya. “Beneran kah Pah, spesial for me?” tanya Deandra dengan netranya yang berbinar-binar.
Pria itu bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangannya pada istrinya. “Untuk kekasih hatiku, my wife, mama anak-anakku.” Aidan tersenyum hangat. Deandra pun menyambut uluran tangan suaminya itu, lalu bangkit dari duduknya.
Aidan mengecup punggung tangan istrinya, “Mau berdansa denganku, sayang,” ajak Aidan.
“Sure, why not,” jawab Deandra menerima ajakannya.
__ADS_1
No matter what they tell us. No matter what they do. No matter what they teach us. What we believe is true
No matter what they call us. However they attack. No matter where they take us. We'll find our own way back.
Lantunan lagu dari salah satu album Boyzone - Ronan Keating berjudul No Matter What terdengar merdu, Aidan pun menggiring istrinya ke lantai dansa tempat sang penganti sedang berdansa. Dan pasangan tersebut ikut menggerakkan tubuhnya dan larut mengikuti irama lagu tersebut.
“I love you, my wife Deandra,” bisik Aidan saat disela-sela mereka berdansa.
“I love you to, my husband Kak Aidan,” jawab Deandra malu-malu, maklum dia jarang mengungkapkan kata cintanya, lebih sering suaminya yang hampir setiap hari mengucapkan 3 kata ajaib tersebut. Ya, itulah salah satu komunikasi Aidan yang selalu dia pupuk dalam hubungan suami istri selain perhatian dan mencurahkan kasih sayang pada istrinya.
Sungguh romantis sekali melihat mereka berdua, tanpa di sadari kedua orang tua Aidan dan Papa Harland jadi terharu biru melihatnya. Mereka bukannya tidak mampu mengadakan resepsi pernikahan untuk Aidan dan Deandra, sudah berulang kali Deandra menolaknya dan meminta dana untuk resepsinya untuk pembangunan pesantren saja.
Aidan dan Deandra masih menikmati dansanya, tapi tiba-tiba Deandra merasakan perutnya sakit, seperti kontraksi yang pernah terjadi kemarin hari, namun kali ini agak berbeda yang dia rasakan.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Aidan melihat istrinya tiba-tiba berhenti bergerak. Wanita itu mendongakkan wajahnya dan tangannya mengusap perut bagian bawahnya.
“Jangan-jangan ... sayang mau melahirkan,” ucap Aidan mulai panik, maklum belum berpengalaman.
Aidan langsung melambaikan tangan pada Karno dan temannya agar menghampiri mereka berdua, sementara dia sendiri sudah merangkul bahu Deandra. Sementara itu Deandra sudah mulai mengatur napasnya sesuai ajaran Dokter Mira kalau sudah merasakan kontraksi.
Papa Harland langsung bangkit dari duduknya melihat anaknya sudah pelan-pelan jalannya dan langsung mendekatinya.
“Kenapa Nak, sudah mulai berasa?” tanya Papa Harland.
“Kayaknya begitu Pah,” jawab Aidan, karena Deandra sudah tidak bisa berbicara menahan rasa sakit dari kontraksinya.
“Sayang masih sanggup jalan gak?” tanya Aidan mulai khawatir.
__ADS_1
“Enggak,” ringis kesakitan Deandra.
Aidan dan Karno langsung membopong Deandra menuju lobby hotel, karena gak mungkin Aidan sendiri yang menggendong terlalu berat. Bu Nani yang selalu ada di sana, langsung bergegas menyusul mereka semua.
Sementara itu Papa Ricardo dan Mama Amber koordinasi dulu dengan Lucky dan Elena setelah melihat Deandra dibopong keluar dari ballroom hotel, untuk menyusul ke rumah sakit, maklumlah menantikan kelahiran cucu pertama, moments yang tidak ingin ditinggalkan begitu saja.
Deandra langsung dilarikan ke rumah sakit, untung saja jarak rumah sakit dengan hotel tidak terlalu jauh. Dokter Mira susah dihubungi oleh Papa Harland untuk bersiap-siap menerima pasien.
“Pah, sakit ....,” ucap Deandra pada Aidan.
“Iya sayang,” balas Aidan dikit meringis kesakitan, sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Aidan mengusap perut Deandra sembari shalawatan.
“Anak-anak Papa sama Mama sudah mau keluar ya, Papa minta kerjasamanya ya nak ... Kasihan Mama kesakitan, nanti cepat keluarnya ya Nak,” kata Aidan masih mengusap perut istrinya.
Sepertinya tanggal pernikahan Elena dan Lucky akan menjadi tanggal bersejarah buat keluarga Ricardo, karena bertepatan Deandra mulai mules-mules, semoga saja baby twin lahir di tanggal yang sama.
Aidan mengecup pipi Deandra penuh rasa cintanya, dan mengusap peluh yang mulai keluar dari wajahnya.
“Andaikan rasa sakit ini bisa dipindahkan, aku rela merasakan sakitnya, biar kamu tidak kesakitan seperti ini, sayangku,” batin Aidan.
“Sabar ya Sayang, Mama cantik, sebentar lagi kita sampai rumah sakit,” imbuh Aidan.
Deandra hanya bisa hu ah hu ah saja. Tarik napas lalu hembuskan.
Bersambung ...
__ADS_1