Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh

Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
Episode 80


__ADS_3

Ardan hanya mengangguk meskipun hati nya takut dengan papa Bian tapi ia berusaha membiasakan diri.


"Mas."Ucap Kiara kepada Ardan.


"Emm, iya."Ucap Ardan sedikit gugup.


Kiara bejalan mendekati Ardan dan memegang tangan Ardan laku menuntun Ardan menghampiri Gibran.


"Ma, pa, ayo ke sana dulu."Ucap Kiara yang ingin memberikan waktu luang untuk Ardan dan Gibran saling mengenal.


"Kiara benar-benar membuat ku kesal."Batin Ardan yang melihat Kiara mama El dan papa Bian beranjak dari ruang tengah itu.


"Gibran."Ucap Gibran mengulur kan tangan nya kepada Ardan.


"Ardan."Jawab Ardan menyambut uluran tangan Gibran.


Dua orang itu kini saling tatap, seolah ada perselisihan yang belum terselesaikan.


"Mengapa kau menikahi adiku?"Tanya Gibran.


"Karena aku mencintai nya."Jawab Ardan.


"Jika begitu, jangan sakiti dia."Ucap Gibran lagi.


"Hal yang terjadi di antara kami hanya lah sebuah kesalahpahaman."Ucap Ardan lagi.


"Apa aku bisa mempercayai mu?"Tanya Gibran.


"Tentu saja."Jawab Ardan.


Kedua sosok yang sama-sama memiliki sifat dingin itu kini seperti nya berusaha untuk mencir satu sama lain.


"Kalau gitu panggil aku kakak."Ucap Gibran lagi.


"Seperti nya kita seumuran."Ucap Ardan lagi.


"Kau suami adik ku."Jawab Gibran merasa Ardan begitu bodoh.


"Iya aku tau itu."Jawab Ardan yabg kini tidak bisa menolak permintaan Gibran lagi.


"Baik lah, kak."Ucap Ardan menekan kata kak di ujung kalimat nya.


"Aku akan menembak mu jika kau berani membuat nya memanis."Ucap Gibran lagi.


"Tenang saja, itu tidak akan terulang."Jawab Ardan.

__ADS_1


Setelah pembicaraan singkat itu Gibran dan Ardan pun pergi ke ruang makan, karena Kiara, mama dan papa nya sudah menunggu di ruang makan untuk makan siang.


Hari itu Kiara benar-benar bahagia, karena akhirnya bisa kembali berkumpul dengan keluarga nya, terutama bertemu dengan sang kakak yang sudah lama di rindukan oleh nya.


Satu hari mereka habiskan dengan berbincang heboh, menonton televisi,makan siang bersama, bercanda bersama.


Setelah sore nya, Kiara pun berpamitan dengan papa, mama dan kakak nya untuk kembali pulang ke Fila.


"Ardan apa kalian tidak mau mengidap?"Tanya mama El kepada Ardan.


"Seperti nya saat ini belum bisa ma, karena besok aku harus ke kantor,ada beberapa berkas yang harus ku urus."Ucap Ardan.


"Iya ma, mas Ardan begitu sibuk, lain kali kami akan menginap."Jawab Kiara lagi.


"Baik lah,kalau begitu kalian hati-hati."Ucap pala Bian.


Kiara meganguk kan kepala nya dan tersenyum manis.


"Ingat jaga adiku."Ucap Gibran berbisik di telinganya Ardan.


Ardan yang kesal dengan Gibran pun terlihat tertekan, seperti nya mereka tidak akan bisa akur.


"Sayang,ayo."Ajak Ardan yabg sudah merasa panas dengan tatapan Gibran.


Setelah itu mereka pun masuk ke dalam mobil Ardan, Ardan pun menyalakan mesin mobil nya dan melaju meningal ruma mama dan papa nya Kiara.


"Mas ada apa?"Tanya Kiara melihat wajah manyun Ardan.


"Tidak ada, dia membuat aku kesal."Ucap Ardan kepada Kiara.


"Maksud mu,kak Gibran?"Tanya Kiara lagi.


"Siapa lagi."Jawab Ardan.


"Dia orang nya memang seperti itu, lama-lama kau juga akan terbiasa."Ucap Kiara sambil tersenyum manis.


"Baik lah sayang, aku mengerti."Jawab Ardan sambil ikut tersenyum.


Setelah percakapan itu Kiara pun memilih untuk diam, ia mulai merasa tidak enak badan, dan saat melihat ke luar kaca mobil dia akan merasa mual dan pusing.


Namun Kiara tidak ingin membicarakan nya kepada Ardan karena takut Ardan akan khawatir.


Ia pun akhirnya memilih untuk tidur saja, Kiara pun mulai memejamkan mata nya karena tidak bisa menahan rasa mual dan pusing yang tiba-tiba menyerang nya itu.


Sebenarnya Ardan pun menyadari jika istri nya sedang tidak baik-baik saja, karena itu lah dia lebih fokus mengemudi mobil dan membiarkan Kiara tertidur.

__ADS_1


Malam pukul 07:11


Ardan pun akhirnya tiba di Fila dengan kondisi Kiara yang masih tertidur pulas.


Karena tidak ingin membuat Kiara bangun, Ardan pun mengendong nya untuk masuk ke dalam Fila. dan membawa Kiara ke dalam kamar.


Setelah membaringkan Kiara di ranjang, Ardan pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sambil menunggu Kiara bangun sendiri.


"Astaga, belum bangun juga, apa dia sedang tidak enak badan?"Batin Ardan naik ke ranjang dan memegang jidat Kiara dengan punggung tangannya.


"Suhu badan nya bagus."Batin Ardan lagi.


Karena Ardan mengira jika Kiara benar-benar lelah akibat aktivitas siang tadi ia pun tidak membangun kan Kiara untuk mandi, Ardan pun memilih untuk tidur di samping Kiara dan memeluk nya.


Sementara itu di sisi lain.


"Huh, tidak terasa, sudah sebulan saja aku di sini."Ucap Rose sambil berdiri di balkon kamar nya dan menatap langit.


"Apa dia tidak menyukai aku ya? Sampai sekarang dia tidak mengutarakan perasaannya atau apapun kepada ku, apa aku yang terlalu berharap?"Ucap Rose lagi.


Sebenarnya Rose sudah menyukai Gibran namun ia takut perasaan itu akan bertepuk sebelah tangan, dan Rose pun memilih untuk merahasiakan nya.


"Rose kau di mana?"Ucap mama Ulan yang tiba-tiba masuk ke kamar Rose.


"Ada apa bi?"Tanya Rose kaget dan berjalan masuk ke kamar nya.


"Ini jaket mu, sudah bibi cuci, oh iya jangan lupa tutup balkon nya seperti nya malam ini akan hujan."Ucap mama Ulan yang kemudian keluar dari kamar Rose setelah menaruh jaket tersebut ke kasur Rose.


Sementara itu Rose hanya diam sambil melihat jaket tersebut.


"Jaket ini sudah lama pada ku, dia juga tidak meminta nya kembali, emmm,apa aku jadikan ini alasan agar aku bisa mengantarkan jaket ini kerumah nya ya, agar bisa bertemu."Ucap Rose sambil tersenyum girang.


"Iya, besok aku akan ke rumah nya, bukan kah di kartu nama itu tersedia alamat? Jadi aku akan mudah ke rumah nya."Ucap Rose lagi.


Rose yang hampir sedih pun akhirnya melupakan rasa sedih nya dan memutuskan untuk pergi menemui Gibran ke rumah nya dengan alasan mengantarkan jaket yabg di pinjam nya dulu.


Setelah memikirkan hal itu Rose pun memilih untuk tidur karena sudah cukup larut.


Malam pun berlalu dengan semestinya, benar saja, hujan turun saat tengah malam dan itu membuat orang-orang semakin menikmati suasana dingin malam itu.


Sementara itu di sisi lain.


Kiara terbangun karena suara hujan yang cukup deras, ia melihat Ardan yang senantiasa memeluk erat tubuh nya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2