
Kiara berjalan pelan menuju ruang tengah Fila, sebentar lagi acara akan di mulai, dan saat ini perasaan nya benar bahagia karena akhirnya Ardan kembali pulang ke Fila dengan surprise yang sangat besar.
"Permisi semuanya."Ucap Ardan yang tiba-tiba mengalihkan perhatian para tamu di Fila tersebut.
"Terima kasih kalian sudah mau menghadiri pesta ulang tahun ini, dan aku tidak menyangka kalian akan datang,ini benar-benar membuat aku merasa di hormati."Ucap Ardan sebagai kata sambutan untuk para karyawan nya yang telah hadir di pesta tersebut.
"Pak,apa kami boleh bertanya sesuatu?"Tanya salah satu karyawan yang tiba-tiba angkat bicara.
"Oh iya silahkan."Ucap Ardan kepada karyawan nya itu.
"Ini pesta ulang tahun di tuju kan untuk siapa ya pak?"Tanya karyawan tersebut.
Ardan tersenyum tipis, dan ini lah di mana kejutan besar akan terjadi pada Kiara.
"Baik, untuk menjawab pernyataan mu, langsung saja kita pangil orang nya ya."Ucap Ardan sambil tersenyum miring.
Sementara itu Kiara sudah bersiap-siap untuk maju mendekati Ardan yang saat ini berdiri di depan sebuah kue ulang tahun yang besar.
Semua tamu saling lirik dan di selimuti rasa penasaran.
"Pesta sepesial malam ini aku sengaja merayakan nya untuk seseorang, orang itu adalah ... "Ucap Ardan mengantung kalimat nya.
"Maaf aku terlambat."Ucap Alina yang baru tiba di ruang tengah Fila dengan memakai gaun hitam dan terlihat sangat serasi dengan jas hitam yabg saat ini di pakai Ardan, rambut nya di sanggul agar terlihat elegan.
"Orang itu adalah Alina!" Ucap Ardan dengan suara lantang menujuk ke arah Alina yang saat ini di kelilingi banyak orang.
"Aku kira untuk istri nya."Bisik karyawan di belakang Kiara yabg saat ini seperti patung.
"Sssst,diam lah,kau ini banyak bicara,kan dia adalah cinta pertama tuan muda."Ucap karyawan lain.
Suara ricuh tepuk tangan pun bergema di dalam ruangan itu.
Bagai kan di sambar petir hati Kiara rasanya kosong dan jantung nya juga terasa berhenti berdetak, tangan nya mencengkram kuat bagian pinggir gaun yang di gunakan nya, senyum yang awal nya begitu manis kini hilang lenyap begitu saja, meskipun begitu kaki nya masih tidak bisa melangkah pergi dari tempat keramaian itu.
Banyak orang yang membicarakan dirinya yang saat ini terlalu berharap lebih akan kejutkan dari Ardan.
__ADS_1
Alina berjalan ke sisi Ardan dengan keanggunan nya.
Ardan sesekali melirik ke arah Kiara namun tetap fokus dengan Alina.
Ardan menyalakan lilin di atas kue ulang tahun tersebut.
"Ayo,tiup lilin mu."Ucap Ardan kepada Alina.
"Boleh kah aku meniup lilin ini bersama dengan mu?"Tanya Alina lagi.
"Tentu saja."Jawab Ardan dengan enteng nya.
Dalam hitungan ketiga Ardan dan Alina pun meniup lilin itu secara bersamaan.
Semua tamu bersorak gembira melihat pemandangan romantis di depan mereka Tampa ada seorang yang yang melihat ke arah Kiara.
"Ardan terimakasih,atas perayaan ini."Ucap Alina terlihat tidak tau malu menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Ardan dan Kiara.
Flashback off.
"Apa bantuan yang kau inginkan?"Tanya Alina kepada Ardan saat mereka bertemu di restoran tadi siang.
"Benar kah? Apa kau yakin? Apa kau yakin dia tidak akan meningal kan mu setelah ini?"Tanya Alina lagi.
"Ini semua aku lakukan agar dia bisa jujur atas perselingkuhan nya kepada ku."Ucap Ardan kepada Alina.
"Baik lah,aku bersedia membantu mu."Jawab Alina yang saat itu benar-benar bahagia.
flashback off.
"Ya, dan aku memiliki hadiah untuk mu."Ucap Ardan yang itu juga adalah bagian dari ekting nya dan Alina.
"Apa itu?"Tanya Alina kegirangan.
Ardan pun mengeluarkan sebuah kotak yang sangat di kenali oleh Kiara.
__ADS_1
"Bukan kah itu kotak kalung yang aku lihat kemarin? Ternyata itu bukan milikku."Batin Kiara masih berusaha tegar.
"Wahhh, ini sangat cantik,aku benar-benar menyukai nya."Ucap Alina saat membuka kotak Kalung tersebut.
"Wahhhh, itu sangat romantis."Ucap para tamu bertepuk tangan.
Hal yang di ketahui para karyawan, Ardan menikahi Kiara, hanya untuk di jadikan pengasuh saat dirinya lumpuh, dan mereka mengira saat Ardan sudah bisa berjalan itu wajar saja, dan tingal menunggu waktu untuk Kiara di ceraikan.
"Ardan bisa kah kau memasang nya untuk ku?"Tanya Alina lagi.
"Em, iya."Ucap Ardan yang mulai bosan dengan ekting tersebut.
Ardan pun mengambil kalung itu dan mengalungkan nya di leher Alina.
"Ingat ini hanya sementara, setelah acara selesai, kembali kan lagi kalung ini kepada ku."Ucap Ardan berbisik di telinga Alina saat dia memakai kan Kalung tersebut ke telinga Alina.
"Hmm."Jawab Alina seakan-akan tidak rela.
Melihat hal itu Kiara sudah benar-benar tidak tahan lagi, dia perlahan mundur dari keramaian tersebut dan berlari masuk ke dalam kamar dengan air mata yang sudah tidak bisa di bendung.
Maid A dan maid B yabg melihat itu bergegas lari mengejar Kiara.
"Nyonya,buka pintu nya nyonya!"Teriak para maid.
"Bi,biar kan aku sendiri, pergi lah."Ucap Kiara di sela Isak tangis nya.
"Ba,baik nyonya."Ucap maid A dan maid B secara bersamaan.
Mereka mengerti bagaimana hancur nya perasaan Kiara saat ini, mereka pun memberikan waktu Kiara untuk menenangkan diri nya.
Kiara terduduk sambil bersandar di pintu kamar yang telah di Kunci oleh nya.
Dengan tangisan yang begitu pecah membasahi pipi mulus nya, ia tidak menyangka akan menjadi seperti ini, kejutan yang dia pikir adalah untuk dirinya ternyata salah,rasa malu dan rasa sakit itu kini bersatu, beberapa kali ia meremas dada nya yang terasa tertusuk beribu-ribu anak panah tajam.
"Aku tidak menyangka jika hal ini akan terjadi, mereka benar, aku hanya di nikahi untuk merawat nya saat dia lumpuh, mengapa aku terlalu berharap seperti ini? Begitu bodoh nya aku, aku rasa mulai malam ini semuanya sudah jelas, sekarang sudah saat nya aku mundur."Batin Kiara yang kemudian menyeka air mata yang keluar dan berusaha kuat.
__ADS_1
Malam itu di lalui Kiara dengan begitu sulit, jika malam biasanya terasa baik-baik saja dan cepat bertemu dengan pagi, tapi malam ini, malam ini terasa begitu sulit untuk di lewati.
Bersambung ....