Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh

Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
Tamu di pagi hari


__ADS_3

Esok hari


Mansion Harland


Papa Harland terlihat sibuk dengan Joy di ruang makan, membicarakan rencana ke depan untuk tambah menggoyangkan perusahaan Zen Zero. Tanpa disadari oleh Papa Harland, Deandra yang kebetulan turun dan mau ke ruang makan untuk sarapan pagi sekilas mendengar pembicaraan papanya dan Joy, sesaat langkah kakinya berhentinya dan kembali menyimaknya, lalu tak lama Deandra menarik napasnya dalam-dalam, kecewa.


Dirasa sudah cukup menguping diam-diam, wanita cantik itu melanjutkan langkah kakinya dan masuk ke dalam ruang makan sembari menyapa papanya dan Joy.


“Tidurmu nyenyak, Nak?”


“Alhamdulillah Pah, walau sempat tidak bisa tidur. Sepertinya Papa sama Mas Joy terlihat sibuk,” balas Deandra, netranya melirik ipad yang di pegang oleh Papa Harland.


“Iya Nak, biasa masalah pekerjaan,” jawab santai Papa Harland.


Deandra mengambil secentong nasi beserta lauk pauk yang sudah terhidang di atas meja ke atas piringnya.


“Pah, bolehkah aku bicara sesuatu?”


Pria paruh yang masih menatap ipad-nya, mendongakkan wajahnya. “Mau bicara apa Nak? Bicaralah?” kata Papa Harland begitu lembutnya


“Begini Pah, bukan maksudnya aku menguping pembicaraan Papa sama Mas Joy, andaikan boleh aku kasih saran. Tidak perlu Papa balas dendam dengan Kak Aidan, itu sama saja sikap Papa hampir sama dengan Kak Aidan seperti saat itu, bukankan jika ada orang yang bersikap buruk dengan kita, kita tidak perlu membalasnya dengan sikap yang buruk juga!” imbuh Deandra dengan intonasi rendah agar tidak membuat Papa Harland tersinggung.


“Aku bukan bermaksud membela Kak Aidan, Papa jangan salah sangka terlebih dahulu. Aku hanya kasihan dengan karyawan yang bekerja di perusahaan Kak Aidan, pernahkah Papa terbesit ke arah sana, pasti banyak kepala keluarga yang menyandarkan pundaknya di perusahaan Kak Aidan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya baik itu istri, anak dan orangtuanya,” lanjut kata Deandra.


Papa Harland terhenyak hingga ipad-nya diletakkannya di atas meja, sementara Joy yang ada di antara mereka berdua, menarik dokumen dari Papa Harland.


Wanita itu menatap Papa Harland, kemudian menyentuh punggung tangan pria paruh baya itu. “Jangan habiskan waktu kita untuk balas dendam Pah, apalagi akan banyak orang menjadi korban dari balas dendam itu. Cukup Allah yang membalas semua perbuatannya, lagi pula aku baik-baik saja Pah, dan berkat aku menikah dengan Kak Aidan, kita bertemu kembali. Mungkin kalau aku tidak menikah dengan Kak Aidan, aku atau Papa tidak akan pernah bertemu. Kita ambil hikmah atas semua yang terjadi selama ini.” Wanita itu mengulas senyum tipisnya, dan mengusap punggung tangan papanya.


Papa Harland sedikit malu dengan teguran putrinya, apa yang dikatakan oleh anaknya memang ada benarnya, jika dia menggulingkan perusahaan Aidan maka akan ada ribuan karyawan kehilangan mata pencariannya. Hidup dalam perasaan  balas dendam, tidak akan membawa ketenangan, justru hidup sendiri semakin tak terarah. Cobalah berdamai dengan hati sendiri, jika kita memiliki rasa ingin balas dendam maka kita tak ubahnya seperti orang tersebut.


“Maaf, Nak. Mungkin ini salah satu sikap orang tua yang ingin membalas rasa sakit putri Papa, hingga Papa lupa jika perbuatan Papa tidak hanya merugikan satu orang tapi ternyata ribuan orang yang mencari rezeki. Papa akan segera memperbaikinya, terima kasih sudah mengingatkan Papa,” jawab Papa Harland menerima dengan ikhlas saran dari Deandra.

__ADS_1


“Sama-sama Pah, kita harus saling mengingatkan.”


Papa Harland mengalihkan tatapannya ke Joy, dan meminta asistennya untuk turut menikmati sarapan pagi, setelah itu dia kembali membahas rencana tadi untuk segera ditarik. Deandra yang mendengar hal itu bernapas lega. Semua yang dia katakan bukan karena Aidan, tapi karena ribuan karyawan Aidan.


Sekitar satu jam mereka menikmati sarapan pagi sambil membicarakan rencana kerja hari ini, tapi tak lama sang kepala pelayan memberitahukan jika di luar gerbang ada tamu yang ingin bertemu dengan Papa Harland.


“Tamunya siapa, Pak Eko?” tanya Papa Harland sembari mengaduk kopinya.


“Tamunya Pak Ricardo, Ibu Amber dan Pak Aidan, Tuan,” jawab Pak Eko.


Mendengar siapa yang datang, Deandra menundukkan kepalanya, sementara Papa Harland menatap Deandra sambil berpikir diterima atau tidaknya tamu di pagi hari tersebut.


Prediksi Papa Harland dengan kedatangan mereka bertiga pasti demi kepentingan Aidan yang ingin bertemu dengan Deandra, sementara hati Papa Harland masih tidak senang hati dengan keluarga tersebut terutama Mama Amber dan Aidan.


“Antar mereka ke ruang utama,” pinta Papa Harland.


“Baik Pak,” jawab patuh Pak Eko, dan kembali menuju luar mansion.


“Kamu tidak ingin bertemu dengan suamimu?” tanya Papa Harland.


Deandra sempat berhenti bergerak ketika ingin beranjak dari duduknya. “Bukankah Papa tidak mengizinkan aku untuk menemuinya,” jawab Deandra mengingatkan hal yang kemarin.


“Mmm ... ya sudah bersiaplah.”


Wanita itu menganggukkan kepalanya dan bergegas meninggalkan ruang makan menuju kamarnya diikuti oleh Nurul maidnya.


Aidan yang jantungnya sudah berdebar-debar ketika mobilnya sudah sampai di depan gerbang mansion Papa Harland, langsung bernapas lega ketika gerbang itu terbuka, dan mobilnya melesat masuk ke dalam. Dipandanglah buket bunga rose yang dia beli sebelum menuju Mansion dan berharap pagi ini dia bisa bertemu dengan sosok yang dia rindukan, ah sungguh Aidan seperti abg yang baru pertama kali ngapel ke rumah pacarnya. Mama Amber juga tidak lupa membawa buah tangan berupa kue tradisional kesukaan saudaranya.


Kini mereka bertiga diarahkan ke ruang utama untuk menunggu, dan tak lama kemudian Papa Harland didampingi Joy menyambut mereka bertiga dengan ekspresi datarnya.


“Sepertinya ada tamu dadakan yang datang tiba-tiba di pagi hari,” sapa Papa Harland yang masih mau menyambut uluran tangan Papa Ricardo, tapi tidak dengan Mama Amber dan Aidan.

__ADS_1


Papa Ricardo tersenyum getir dengan penerimaan saudaranya tersebut tapi mau bagaimana lagi.


“Harland, Kakak bawakan kue basah kesukaan kamu,” kata Mama Amber menunjukkan kotak kue transparan yang sudah dia taruh di atas meja sofa. Pria itu hanya bergumam dengan sedikit melirik.


“Seharusnya tidak perlu bawa, jujur saja Kakak datang ke sini ada perihal apa?” tanya Papa Harland dengan wajahnya yang tidak bersahabat.


Mama Amber mulai tidak enak hati, wajahnya juga tampak gugup. “Harland, maksud kedatang kami ke sini Kakak minta maaf sama kamu. Kakak benar-benar menyesal Harland,“ ujar Mama Amber agak bergetar ketika berbicara.


Papa Harland menarik napasnya dalam-dalam kemudian menatap dalam Mama Amber.


Sesaat terasa hening ...


Entah kena angin dari mana, Mama Amber bangkit dari duduknya kemudian mendekati saudaranya tersebut, dan ...


Wanita paruh baya itu bersimpuh di hadapannya, hingga pria itu terhenyak.


“Kakak minta maaf Harland, Kakak benar-benar menyesal,” ucap Mama Amber, wajahnya terlihat sendu netranya pun sudah berkaca-kaca.


 


bersambung ...


Maaf ya agak slow up, saya lagi kurang enak badan. Semoga kakak readers dalam keadaan sehat semuanya ya, yang sedang sakit semoga segera sehat kembali. Aamiin.


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2