
Mama El menatap wajah Ardan yang saat itu terlihat mata nya juga sedikit sembab namun terlihat dia begitu kuat menahan nya.
"Baik lah Ardan, pergi lah, cepat cari dia mama tidak ingin dia kenapa-kenapa."Ucap mama El kepada Ardan.
Setelah mengiyakan ucapan mama El Barusan, Ardan pun berdiri dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Fila tersebut.
Ia masuk ke dalam mobil nya dan menyalakan mesin mobil kemudian melaju pergi dari aula rumah mama El.
Sementara itu saat Ardan pergi dari Fila tersebut, mobil nya berpapasan dengan mobil orang yang masuk ke dalam Fila mama El.
"Mobil siapa itu? Aku tidak pernah melihat nya?"Batin Ardan.
Namun karena buru-buru untuk mencari Kiara Ardan pun tidak mempedulikan nya.
Sementara itu di rumah mama El.
Tok...tok...tok. Suara ketukan di luar pintu rumah mama El.
"Astaga itu pasti Ardan lagi."Ucap mama El yabg kemudian berjalan menuju pintu untuk membukanya.
"Ada apa lagi Ar..."Ucap nya terhenti, tenggorokan nya terasa seperti tertahan mata nya melotot melihat siapa yang ada di depan matanya.
"Gib, Gibran."Lirih mama El menatap seorang laki-laki tinggi bertubuh kekar dengan pakaian militer berdiri tegap di depan mata nya.
"Iya ma."Ucap Gibran merentangkan tangannya.
Melihat itu mama El pun menangis dan memeluk erat Gibran,ya Gibran adalah Kakak nya Kiara yang sering di bicarakan oleh Kiara jika dia sangat merindukan nya.
"Surprise."Ucap papa Bian yang baru turun dari dalam mobil.
"Astaga mas, jadi kau pergi dari rumah pagi-pagi untuk menjemput Gibran di bandara?"Tanya mama El kepada papa Bian.
"Iya sayang maaf kan aku,ini permintaan Gibran agar tidak mengatakan nya kepada mu."Ucap papa Bian tersenyum kecil.
__ADS_1
"Kalian ini ya benar-benar."Ucap mama El mencubit lengan papa Bian dan Gibran.
"Ah ma, ternyata cubitan mama lebih sakit dari peluru,masih sama seperti dulu, hahahah!"Tawa Gibran mengema saat melihat mama nya yang sedang marah.
"Iya makanya setiap saat papa harus mengunakan baju besi "Canda papa Bian.
"Sudah lah jangan banyak bicara lagi kalian berdua, ayo masuk dan istirahat lah Gibran kau pasti sangat lelah nak."Ucap mama El memegang tangan Gibran untuk masuk ke dalam rumah.
"Iya ma, aku sangat lelah."Ucap Gibran sambil menarik kopernya.
"Seperti nya aku di lupakan."Ucap papa Bian yang kemudian ikut masuk ke dalam rumah.
"Ma, di mana adiku?"Tanya Gibran saat sudah masuk ke dalam rumah.
Deg ... Papa Bian dan mama El kaget mendengar pertanyaan Gibran karena mereka tau Gibran belum tau apa-apa tentang adik nya selama ini.
"Gibran, sekarang istirahat dan mandi lah terlebih dahulu, nanti mama akan bicara kepada mu."Ucap mama El kepada Gibran.
"Apa dia di kamar nya ma? Aku ingin melihat nya, aku merindukan nya."Ucap Gibran yang kemudian berlari kecil menuju kamar Kiara.
"Tidak usah tunggu nanti lagi, sebaiknya jelas kan saja sekarang."Ucap papa Bian kepada mama El.
"Tapi apa ini tidak membuat nya kaget?"Tanya mama El khawatir.
"Tenang lah, oh iya, tadi itu mobil siapa?"Tanya papa El yang tiba-tiba ingat dengan mobil yang berpapasan dengan mobil nya tadi.
"Siapa? Ah sudah lah pa, jangan bahas itu dulu, pikir kan dulu ini bagaimana caranya menjelaskan semuanya kepada Gibran."Ucap mama El yang mengalihkan pembicaraan papa El tentang mobil tadi.
Tepat saat itu Gibran kembali dari kamar Kiara, dia kebingungan mengapa Kiara to do temukan nya di seluruh sisi rumah, apakah adik nya itu tidak merindukan nya, batin Gibran.
"Ma, di mana Kiara?"Tanya Gibran terlihat raut wajah kesedihan di mata nya karena tidak menemukan Kiara.
"Pa,ajak Gibran duduk terlebih dahulu,mama akan ke dapur untuk membuat minuman."Ucap mama El yabg kemudian berjalan cepat menuju dapur.
__ADS_1
"Hey ma?"Ucap Gibran menuntut jawaban dari mama nya.
"Sudah-sudah ayo duduk dulu, papa akan menjelaskan nya kepada mu,biar kan mama mu menyiapkan minuman,bukan kah kau sangat lelah?"Ucap sang papa mencoba menenangkan Gibran.
"Katakan pa, di mana adik ku?"Tanya Gibran kepada papa Bian.
"Gibran, Kiara sudah menikah."Ucap papa Bian kepada Gibran.
Deg ... Seakan jantung nya berhenti berdetak mendengar perkataan papa nya yang mengatakan jika adik satu-satunya sudah menikah dan ia sama sekali tidak di beri kabar.
"Tidak, itu tidak mungkin."Ucap Gibran Tidak percaya karena bagaimana mungkin keluarga nya tidak mengabari nya saat sang adik menikah.
"Papa mu benar Gibran."Ucap mama El yabg datang dengan membawa nampan berisi cemilan dan dua gelas minuman dingin.
"Bagaimana mungkin Kiara menikah dan aku tidak mengetahui nya ma?"Tanya Gibran dengan sorot wajah kecewa.
"Cerita nya panjang."Ucap mama El menunduk sedih.
"Apa dia menikah dengan Jafin?"Tanya Gibran yang sebelumnya memang mengetahui hubungan Kiara dan Jafin.
"Tidak Gibran bukan Jafin."Ucap papa Bian lagi.
"Lalu? Apa yang sebenernya terjadi ayo katakan kepada ku."Ucap Gibran mulai marah.
"Gibran, mama akan menceritakan nya tetapi mama mohon tenang lah."Ucap mama El mencoba menenangkan Gibran.
"Baik lah ayo cerita kan."Ucap Gibran.
"Saat kau tidak ada, seharusnya malam itu malam pertunangan Kiara dan Jafin, tetapi siang itu Kiara memergoki Jafin di hotel bersama dengan Fany, lalu dengan hati yang hancur ia mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi, lalu ia tampa sengaja bertabrakan dengan mobil yang ada di depan nya Gibran, dan Kiara mengalami koma seminggu bahkan seingat mama itu lebih dari satu Minggu."Ucap mama El menjelaskan dengan air mata yang mengalir deras.
"Hal sebesar ini, mengapa kalian menyembunyikan hal ini dari ku?"Tanya Gibran mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Lalu,lebih dari seminggu itu dia sadar, tapi laki-laki pengemudi mobil yang di tabrak nya lumpuh dan laki-laki itu meminta tangung jawab Kiara karena Kiara dirinya lumpuh dan tunangannya meningal kan nya, lalu dengan berat hati kami berbohong kepada Kiara perusahaan papa ku hampiri bangkrut dan memerlukan bantuan dari keluarga Ardan dengan syarat Kiara harus menikah dengan Ardan, karena dokter bilang Kiara tidak boleh banyak pikiran dan tau jika dirinya sudah membuat Ardan lumpuh dia pasti akan merasa sangat bersalah, lalau mereka menikah."Ucap mama El panjang lebar.
__ADS_1
Gibran terdiam mendengar penjelasan mama nya, dia tidak menyangka di saat dirinya tidak ada kehidupan sang adik menjadi sangat berantakan seperti itu.
Bersambung ....