Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh

Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
Malam pertamakah?


__ADS_3

Yuk yang masih bocil agak minggir sedikit, soalnya ada anunya walau tidak terlalu anu sih 🤭


...----------------...


Aidan menatap dalam wajah Deandra yang terlihat memelas dan menahan sesuatu pada dirinya, dirinya tidak bisa menyangkal ketika memeluk tubuh istrinya dia juga menginginkan hal yang sama, tapi dia tidak mau mengambil kesempatan seperti itu, dia ingin semuanya berjalan tanpa paksaan dan dilakukan dengan sepenuh hati, bukan karena memanfaatkan keadaan.


Pria itu membelai rambut istrinya dan mengecupnya berulang kali. “Aku siapkan sesuatu untuk kamu, biar tidak terlalu gerah,” kata Aidan, terpaksa mengurai pelukannya dan bergegas masuk ke kamar mandi. Deandra hanya bisa memandang kepergian suaminya, dan kembali meringkuk di atas ranjang.


Di dalam kamar mandi, Aidan mengisi bathup dengan suhu rendah, lalu memberikan minyak esensial yang tersedia kemudian kembali ke kamar.


“Sayang, kamu berendam dulu biar agak reda rasa panasnya,” pinta Aidan dengan lembutnya, lalu dia menyelisipkan tangannya di bahu dan kedua paha wanita itu dan mengangkatnya membawa ke dalam kamar mandi, setelah itu mendudukinya di atas closed.


Pria itu menatap dalam wanita itu, lalu mengusap pipi Deandra, ingin sekali Deandra mencium tangan Aidan, semakin disentuh seperti itu justru semakin ingin lebih lagi sentuhannya, tapi dia malu untuk memintanya, padahal sudah setengah mati dia menahan hasratnya yang menggeliat di seluruh tubuhnya.


“Berendamlah dulu, bisa mengurangi rasa panas ditubuhmu, aku tunggu di luar, dan pintunya jangan dikunci,” pinta Aidan sebelum dia keluar dari kamar mandi. Deandra hanya bisa mengangguk lemah, dia tidak bisa menahan Aidan untuk tidak keluar dari kamar mandi, tapi setidaknya Deandra menyadari suaminya tidak memanfaatkan dirinya.


Satu persatu pakaiannya dia tanggalkan, kemudian dengan langkah hati-hati dia masuk ke dalam bathup, dan mulai merendam tubuhnya, benar yang dikatakan oleh Aidan tubuhnya mulai tidak kepanasan.


Aidan yang menunggu di luar kamar menghubungi restoran untuk mengantar minuman dan makanan mereka berdua, lalu segera menghubungi Lucky untuk cepat mengantarkan pakaian untuk mereka berdua, Aidan benar-benar tidak sabaran.


Setengah jam kemudian semua pesanan Aidan sudah datang, untuk pakaian Lucky yang mengantar tapi asisten itu kembali terburu-buru ke kantor polisi.


“Sayang, sudah belum?” tanya Aidan sembari mengetuk pintu kamar mandi. Aidan kembali mengetuk pintu karena belum dijawab juga oleh Deandra, hatinya mulai cemas.


“Sayang, kamu gak pa-pa’kan, aku masuk ya,” kata Aidan sedikit berteriak agar terdengar sampai ke dalam kamar mandi. Sangking cemasnya Aidan memutar kenop pintunya dan rupanya berbarengan dengan Deandra yang membuka pintu kamar mandi.


Wanita itu sudah mengenakan bathropenya, tubuhnya sudah menggigil. Aidan langsung mengangkat tubuhnya istrinya, dan kedua tangan Deandra melingkar di atas leher pria itu.


Dengan lembutnya Aidan merebahkan Deandra di atas ranjang, dan ingin bergegas menyelimuti Deandra yang terlihat kedinginan, namun kedua tangan Deandra tidak lepas dari lehernya, hingga pria itu tak bisa berdiri menjauh.


Tubuh yang sudah berendam di air dingin ternyata hanya menghilangkan rasa panasnya sesaat, sekarang Deandra masih merasakan kembali efek dari obat perangsang.


“A-aku gak kuat, Kak Aidan,” kata Deandra saat mereka berdua bersitatap.

__ADS_1


Aidan menarik napasnya dalam, dia yang sedari tadi juga turut menahan gejolak gairahnya, kini kembali dihadapi hal ya tadi.


Pria itu mengusap lembut wajah istrinya. “Aku tidak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan sayang, walau aku sangat ingin menyempurnakan dirimu sebagai istriku ... aku ingin kamu melakukannya dengan hatimu, bukan karena keadaan seperti ini,” imbuh Aidan memberikan pengertian. Deandra terharu suaminya tidak mau menyentuhnya jika dia tidak rela memberikan hartanya yang paling berharga, sesaat dia memejamkan netranya.


Aidan jadi serba salah. “Sayang, aku sangat mencintaimu, dan aku menghargaimu, aku ingin melakukannya jika kamu ikhlas disentuh olehku, tanpa ada paksaan.”


Deandra membuka netranya setelah isi hatinya berseteru, yang sekarang dia hadapin adalah suami halalnya bukan pria lain.


“Sentuh aku, aku ikhlas, Kak Aidan,” jawab Deandra dengan tatapan kesungguhan hatinya.  


Pria itu sesaat justru bergeming mendapat jawabannya seperti itu, melihat suaminya diam saja, ditarik tengkuk Aidan, dan ...


Deandra mulai mencium bibir Aidan dengan lembutnya, pria itu pun membalasnya. Satu persatu kaki pria itu naik ke atas ranjang tanpa melepas pagutannya. Kini dia mengungkung tubuh istrinya, suara decapan pun mulai terdengar dibalik pagutan mereka berdua.


Cukup lama membelit lidah, hingga mereka berdua pun kehabisan oksigen, sejenak Aidan menarik wajahnya dan menatap damba Deandra. “Aku sangat mencintaimu, Deandra.”


Tangan kanannya mulai membuka kancing dan melepaskan kemejanya hingga terlihat tubuh atletisnya, kemudian dia mengecup kening Deandra sembari melafadzkan doa sebelum menggauli istrinya.


Tak lama wajahnya pun turun ke hidung, lalu kembali melumaat bibir ranum Deandra, sesapan yang sangat memabukkan satu sama lain, Aidan yang begitu mendambakan Deandra sementara Deandra mengikhlaskan dirinya dimiliki oleh suaminya.


Pria itu begitu lihai menyenangi istrinya membawa dirinya ke awam-awam, apalagi Deandra belum pernah berhubungan intim dengan pria manapun, dia menjaga tubuhnya dan baru sekali dia disentuh oleh laki-laki, walau tadi sempat dirinya disentuh oleh Arik.


“Kak ...” Suara merdu Deandra terdengar jelas, tangannya pun sudah meremat rambut Aidan, dikala suaminya sudah menyentuh sumber asi kelak bakal milik baby twinnya, Deandra tak menyangka sebegitu menggila sensasi yang datang, hingga keduanya kakinya bergerak tak menentu, rasa yang belum pernah dia rasakan.


Aidan benar-benar memperlakukan dirinya begitu lembut tidak kasar sama sekali, walau setiap inci tubuhnya pasti dikecup oleh suaminya, hingga tiba-tiba saja kepala pria itu sudah berada di antara kedua pangkal pahanya.


“Kak!” Deandra melenguh panjang dan mengerang indah, kedua tangannya meremas seprainya, dan kepalanya kembali mendongak ke atas langit-langit, netranya terpejamkan sejenak, dan merasakan di kepalanya ada burung terbang bersamaan dengan pelepasan pertamanya.


Tahu istrinya sudah mendapat kenikmatannya, barulah dia membuka celana panjang dan boxernya, Deandra langsung terbelalak melihat barang yang menggantung itu, tak disangka sebesar lobak import, ya sesuai dengan postur besar tinggi Aidan.


“Kak Aidan.”


“Ya sayang ...” Pria itu menyejajarkan dirinya dan kembali merengkuh tubuh polos Deandra, dan kembali memainkan daun telinga istrinya.

__ADS_1


“Kak ... Aaakkh.” Tak kuasa Deandra menahan rasa sensasi geli dan enaknya.


“Aku boleh masuk ya sayang ... aku pelan-pelan,” bisik Aidan minta izin, tangan wanita itu hanya bisa mengusap lembut pipi pria itu tanpa bisa menjawabnya, atau mundur dari keinginannya. Deandra tiba-tiba saja teringat jika ada si calon baby twin diperutnya, dan agak ngeri saat melihat lobak import suaminya begitu besar, apakah akan baik-baik saja? Sementara Aidan ini adalah hal yang dia nantikan yaitu menabur benih agar Deandra hamil anaknya, dan menjadi pengikat mereka berdua untuk selama-lamanya.


“Pelan-pelan saja Kak,” jawab Deandra.


Pria itu tersenyum lebar dan meraih wajah Deandra kemudian kembali mencium bibir istrinya dengan lembutnya, sembari membuka lebar kedua paha Deandra.


Satu kali percobaan gagal, Deandra menjerit kesakitan, terpaksa Aidan berhenti sejenak.


Dua kali percobaan, Aidan terjatuh karena Deandra menendangnya karena kesakitan lagi. Aidan mengusap peluhnya, baru kali ini si lobak importnya susah masuk ke dalam sarangnya, sedangkan dulu saat jebol Poppy sangat mudah. Nah itu tandanya apa Aidan! Poppy masih perawankah saat itu?


“Sayang, tahan sebentar ya, jangan tendang aku lagi, mending gigit bahu aku ya,” pinta Aidan dengan wajah memelasnya, padahal hasratnya sudah di atas ubun-ubun, ingin meledak rasanya.


“Pelan-pelan, Kak,” pinta Deandra.


“Iya sayang ....”


Percobaan ketiga, dihentakkan dan dipaksa masuk.


“AAKHH ... SAKIT!” teriak Deandra, dia langsung menggigit bahu Aidan sekuat mungkin.


Namun, selang tak berapa lama teriakan kesakitan itu menghilang, tergantikan dengan suara erangan yang saling bersahutan, sempurna sudah pernikahan Aidan dan Deandra, mereka sama-sama mereguk nikmat surga dunia.


“Kenapa ini sangat berbeda, dan sangat nikmat,” batin Aidan saat tubuhnya menyatu sempurna dengan Deandra. Dan jelas sekali Aidanlah yang paling bahagia, keinginannya tercapai memiliki Deandra dengan seutuhnya.


“Semoga anakku segera hadir dirahimmu, Sayang. Agar kita tidak akan berpisah kembali,” batin Aidan ketika lobak importnya memuntahkan larvanya dalam rahim Deandra.


bersambung ... benarkah Aidan bahagia? Atau justru terpuruk?


...----------------...


Gemas rasanya tidak baca, tapi kasih rate bintang 1, gara-gara 1 orang rate langsung turun. Sebenarnya hak pembaca suka atau tidak sukanya pada sebuah karya tapi setidaknya bijak sajalah kasih ratenya, disini baca sudah gratis tidak pakai koin, eeh malah sadis sekali kasih ratenya. Sejak awal sudah dihimbau jika tidak suka tinggal skip aja, tanpa kasih rate. Pengen tepuk jidat, dia tidak tahu perjuangan bertahan nulis di NT sangat berat!

__ADS_1



 


__ADS_2