Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh

Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
Murkanya Papa Harland.


__ADS_3

Apartemen X


Berulang kali Poppy memencet kode password unit milik Arik, namun tidak berhasil dibuka juga, hingga salah satu kakinya menendang daun pintu unit apartemen tersebut.


“Sialan, berani sekali dia mengganti kode paswordnya!” gumam Poppy kesal sendiri.


Wanita itu pun berkacak pinggang saat menatap daun pintu serta tas yang dibawanya, entah kemana kini dia harus tinggal, padahal apartemen Arik menjadi salah satu pilihan terakhir tempat yang akan di singgahinya.


“Apa perlu aku datang ke kantor saja, menyusul Arik,” pikir Poppy, baru saja dia mau melangkahkan kakinya, tapi tiba-tiba saja berhenti.


“Ah sebaiknya tidak perlu ke sana, aku tunggu di sini saja, badanku juga terasa lelah,” gumam Poppy sendiri, dan dia akhirnya memilih menunggu Arik di cafe yang ada di lantai bawah sembari mengusir perutnya yang sudah mulai lapar.


Sementara itu di tempat berbeda ...


Wajah Aidan sedari tadi meringis menahan rasa asem pedas, dan berusaha agar salivanya tidak jatuh dari bibir tebalnya, sementara Deandra masih membulatkan netranya melihat wadah rujak yang ada di tangannya.


“Ayo dimakan lagi, kalau enggak aku pindah ke mobil ku nih, sekarang juga!” ancam Deandra.


Tangan Aidan terlihat ragu untuk mengambil potongan buah mangga muda itu. “Sayang, tapi ini mangganya asem banget, aku gak kuat,” rengek pria itu, sudah kembali nyengir dan meringis.


“Ya udah aku pindah ke belakang,” jawab Deandra, tidak main-main dia membuka pintu mobil yang masih terparkir rapi.


Aidan buru-buru menahan lengan Deandra. “Ya sayang ... jangan pindah, aku makan rujaknya ya ...” Diambil lah potongan buah mangga muda itu yang sudah tercampur dengan sambal rujaknya, diam-diam Deandra tersenyum samar melihat mimik wajah suami arogannya, Aidan nyengir-nyengir sendiri dan menahan rasa asam dari buah mangga. Setelah itu Deandra juga menikmati rujak buah itu, memang mengunggah selera bumil sembari menyeruput es dawet yang dibelikan oleh Aidan.

__ADS_1


Dibalik menahan rasa asam di mulutnya, hati Aidan terasa hangat bisa menikmati rujak buah berduaan sama istrinya, walau dirinya harus tersiksa, enggak pa-pa. Alhasil rujak buah seporsi habis dengan mereka berdua, Aidan pun bernapas lega lalu bergegas melap tangan Deandra dengan tisu basah, kemudian memberikan botol air mineral yang sempat dibeli oleh Lucky untuk mereka berdua kepada Deandra.


“Sekarang sayang mau makan apa lagi?”


“Cukup, aku harus kembali ke studio,” jawab Deandra sembari mengusap perutnya, dirasa kini perutnya sudah terlalu penuh.


“Baik sayang, aku antar kamu kembali ke studio,” balas Aidan, sesuai dengan janji sebelumnya kalau hanya mengajak makan siang.


Lucky kembali membawa mobil menuju studio, sementara penumpang yang ada di belakang terlihat hening mungkin karena terlalu kekenyangan, akan tetapi dibalik spion kaca tengah Lucky bisa melihat jika tuannya masih betah menatap wanita yang tampak memejamkan matanya. Sesekali tangan pria itu mengusap lengan putih Deandra dengan lembutnya.


“Aku akan bersabar menunggu sampai kamu mau menerimaku sebagai suamimu, sayang. Dan jangan pernah minta bercerai padaku,” bisik Aidan pas di daun telinga wanita itu, kemudian mengecupnya dengan lembut.


Satu jam perjalanan menuju studio akhirnya sampai juga, dan rupanya sudah ada yang menanti kedatangan mereka, siapa lagi kalau bukan Papa Harland setelah mendapat kabar dari ajudan Deandra jika Aidan membawa Deandra pergi dari studio secara paksa.


BUGH!


“Om Harland,” sapa Aidan sembari mengusap sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan noda darah.


Pria paruh baya itu maju dua langkah, lalu menatap nyalak pada Aidan, tangan kirinya langsung meraih kerah jas pria itu dan mencengkeram sekuat tenaganya.


“Masih berani kamu mengganggu hidup anak Om ...huh! Masih kurang puas apa kamu menyiksa anak Om selama ini ... Huh!” bentak Papa Harland terlihat murka, tangan kanannya pun kembali meninju wajah Aidan dengan bengisnya.


Karno dan Lucky yang ingin menolong tuannya, Aidan sudah menghalau dengan tangannya yang terulur. Sementara Deandra yang baru saja tersadar dari tidurnya sesaat, langsung keluar dari mobil Aidan, dan melihat jelas papanya sedang menghajar suaminya.

__ADS_1


Aidan pasrah, tidak  melawan sedikit pun saat Papa Harland meninju dirinya berkali-kali, dia memang bersalah yang selama ini telah menyakitkan Deandra, dan merasa pantas menerima amarah dari mertuanya.


Dirasa sudah puas memberikan pelajaran pada Aidan, Papa Harland menarik dirinya dan melihat menantunya sudah terlihat babak belur. Deandra merasa kasihan melihat keadaan Aidan, tapi apa daya dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Papa Harland menoleh ke belakang mencari keberadaan putri semata wayangnya. “Kamu tidak diapa-apakan sama pria brengsek itu?” tanya Papa Harland sembari memindai Deandra dari ujung kaki hingga ujung kepala, takut ada luka lecet pada tubuh putrinya.


“Gak Pah, aku baik-baik saja.”


“Ya sudah masuk ke dalam, sudah ditunggu team dan jangan pernah mau diajak sama pria brengsek itu!” kata Papa Harland agak meninggi suaranya agar terdengar oleh Aidan.


Deandra mengangguk dan sedikit melirik wajah babak belur Aidan yang kini sedang menatap sendu ke arahnya.


“Iya Pah, kalau begitu aku masuk ke dalam dulu,” pamit Deandra. Setelah itu, Papa Harland kembali memutar balik badannya dan menatap menantunya dengan ekspresi garangnya.


“Tinggalkan tempat ini juga sekarang, dan jangan berani sesekali mendekati anak Om. Om tidak sudi melihat kamu dengan anak Om!” gertak Papa Harland. Sebenarnya pria paruh baya itu agak terkejut juga melihat Aidan yang kini sudah bisa berjalan, tapi sekarang sudah tidak penting lagi dengan kondisi anak saudaranya itu.


Pria itu dengan wajah yang sudah tak karuan melangkahkan kakinya agar lebih dekat dengan mertuanya, kemudian pria itu menurunkan kedua lututnya ke lantai.


“Om Harland, aku benar-benar minta maaf, tolong berikan aku kesempatan kedua Om untuk menembus semua kesalahanku yang selama ini aku lakukan pada Deandra, aku benar-benar menyesal,” ucap Aidan memohon.


Papa Harland mendesis dan memicingkan netranya. “Kamu bilang menyesal dan minta kesempatan! Lantas di masa lalu dengan tanpa perasaan kamu melukai hati anakku dengan kata-kata kasarmu, mengatai anak Om sebagai wanita jalaang, wanita murahan, lalu kamu biarkan kedua tangan anak Om terluka begitu saja, dan kamu memperlakukannya sebagai pelayan tanpa gaji! Apa pantas kamu  minta kesempatan kedua ... Huh! Dan gara-gara perlakuan kamu yang kejam itu, anak Om hampir saja kehilangan nyawa di pantai! Apa pantas Om memberikan kesempatan kedua buat kamu!” bentak Papa Harland.


Untung saja tidak banyak mata yang melihat pertengkaran antara mertua dan menantu, karena ajudan Papa Harland beserta Karno dan Lucky menghalau orang-orang yang ingin tahu.

__ADS_1


Aidan menundukkan kepalanya, tangannya pun meremat pahanya, sungguh dia sangat menyesalinya, dia pun tak menyangka jika Om-nya tahu kejadian di pantai, sepertinya keadaan dia akan semakin sulit.


bersambung ...


__ADS_2