
Apa yang ingin kamu lakukan saat bertemu pujaan hati yang sangat kamu rindukan? Pasti ingin memeluknya dengan erat, namun sayangnya Aidan tidak bisa melakukannya, ketika dia berdiri dan ingin menghamburkan pelukannya Papa Harland sudah berdeham dan menajamkan tatapan, hingga membuat pria itu membeku dalam berdirinya.
Saat itu Deandra menatap ketiga tamu yang masih ada di ruang utama disangka dia sudah pergi ternyata belum. Mama Amber beranjak dari duduknya dan menepuk bahu Aidan seakan memberitahukan untuk kembali duduk dan bersabar, usai itu wanita paruh baya itu mendekati Deandra dan berusaha untuk tersenyum pada menantunya.
Otak Deandra langsung memutar kejadian di masa lalu, bagaimana wanita paruh baya itu menghujat, membullynya sebagai anak wanita jalaang, lalu mendorong dirinya hingga terluka, begitu kejam sekali mertuanya itu.
Entah kenapa di saat wanita itu maju, justru Deandra melangkah mundur seakan enggan untuk dekat dengan Mama Amber.
“Dea, Mama minta maaf,” ucap Mama Amber bergegas meraih tangan Deandra untuk disentuhnya.
Rasa sakit hatinya masih membekas di relung hatinya, masih begitu jelas ingatannya, tapi Deandra bukanlah tipe pendendam yang selalu membalas rasa kesakitannya, hidup ini sangat singkat jangan sia-siakan harimu dengan rasa kebencian dan dendam mu, lagi pula Deandra masih mengingat kebaikan hati Elena dan Papa Ricardo dibalik kekejaman ibu mertuanya.
“Semuanya sudah berlalu, Nyonya ... aku juga minta maaf jika ada kesalahan selama ini,” ucap Deandra sembari menarik tangannya dari tangan Mama Amber.
Mama Amber tersenyum getir, dia bisa merasakan ada penolakan dari menantu yang tidak pernah dianggapnya selama ini, apalagi dirinya masih disapa sebagai Nyonya, ya mau bagaimana lagi. Deandra bisa memaafkan tapi belum bisa melupakan semua kejadian itu.
“Mama benar-benar minta maaf Dea, Mama akui telah berbuat jahat denganmu, tolong maafkan Mama,” pinta Mama Amber begitu lirihnya dengan tatapan memelasnya.
Deandra mencoba menarik sudut bibirnya, walau sebenar agak sulit untuk berbohong dengan hatinya sendiri. “Ya, Nyonya ... aku terima maafnya,” jawabnya dengan datar, sudah enggan menjawab panjang lebar pada Mama Amber.
Wanita cantik itu pun langsung memutar balik ke arah Papa Harland. “Pah, aku pamit mau berangkat,” ucap Deandra berpamitan sembari mencium tangan papanya.
“Hati-hati di jalan ya Nak,” jawab Papa Harland.
Usai itu Deandra mendekati Papa Ricardo, kemudian menyapanya dengan ramah. “Pah,” wanita itu mencium tangan Papa Ricardo.
Papa Ricardo membalasnya dengan tersenyum hangat. “Jaga kesehatanmu ya, Nak.”
__ADS_1
“Iya, Pah,” jawab Deandra membalas senyum hangat tersebut. Mama Amber hanya bisa menghembuskan napasnya, melihat dirinya diperlakukan dengan dingin namun berbeda hal dengan suaminya yang disambut dengan hangat oleh Deandra, kembali lagi dengan amal perbuatan, jika ingin diperlakukan baik oleh orang lain, maka perlakuan orang lain itu juga dengan baik pula.
Ketika Deandra ingin melewati Aidan, wanita itu agak menjaga jarak dengan suaminya, akan tetapi pria itu bergegas mengambil buket bunga yang dia bawa.
“Tunggu Dea, ini untuk kamu, semoga kamu suka,” kata Aidan menyodorkan buket bunga rose berwarna putih.
Deandra pun menerimanya dengan ekspresi wajah datarnya. “Terima kasih,” jawab Deandra begitu pelan, dengan sengajanya dia mengusap tangan Deandra dibalik memberikan buket bunga tersebut.
“I miss you, sayang,” ucap Aidan begitu pelan pada Deandra, agar kedua orang tuanya serta Papa Harland tidak mendengarnya. Wanita itu mendongakkan kepalanya dan menatap papa anaknya, entah kenapa melihat wajah papa anaknya seakan ada gejolak sesuatu yang sangat diinginkannya.
“Mau es rujak, es podeng, es cream rasa coklat sama es alpukat kocok, tapi Kak Aidan yang beliin jangan suruh orang lain,” kata Deandra dengan tatapan polosnya.
Aidan langsung melongo, sedangkan kedua papa tersebut menepuk dahinya dan menduga pasti ini bawaan si baby.
“Ii-ya sayang, nanti aku beliin dan antar ke studio tapi aku minta izin dulu sama papa kamu ya,” jawab Aidan semangat dengan permintaan yang aneh itu.
Deandra tidak menjawab, hanya bergumam saja kemudian kembali melangkahkan kakinya keluar mansion. Selanjutnya Aidan kembali bernegosiasi dengan Papa Harland.
“Ck ... Anak mama kok bikin minta makanan sama papa kalian sih, udah tahu mama benci sama papa kalian berdua,” ngedumel Deandra saat mobilnya melaju meninggalkan mansionnya. Andaikan calon dede baby twin bisa menjawab pasti akan berkata, “Kami mau dekat sama papa, mama jangan benci-benci dong sama papa. Papa’kan cinta sama mama.”
Bumil pun mendesah seraya tangannya mengambil kartu yang ada di sela-sela tangkai bunga rose itu.
...To My Love...
...Izinkan aku berusaha meluluhkan hatimu, Sayang, agar kamu benar-benar memaafkan aku. Dan aku tidak meminta balasan cintaku, tapi aku hanya ingin memperlihat sayangku dan cintaku, serta kesungguhan hatiku untuk membangun kembali rumah tangga kita dari awal....
...I love you istriku, Deandra. ❤️...
__ADS_1
...From your husband, Aidan....
Sejenak wanita itu tersenyum tipis setelah membaca kartu tersebut, pada dasarnya Aidan memang tipe pria penyayang terilhat saat dia memperistrikan Poppy karena dia melihatnya sendiri. Namun, entah kenapa buat Deandra sendiri justru terkesan lebay, mungkin karena sikap arogan Aidan semenjak menikahinya.
Dua jam kemudian di studio ...
Selama dua jam Aidan ditemani Lucky, mencari gerobak yang jualan es podeng, es alpukat kocok, kalau es cream coklat tinggal beli di mini market. Lucky jadi semakin heran dengan permintaan Deandra, apalagi setiap pagi Aidan masih muntah-muntah setiap bangun tidur.
“Mungkin gak sih kalau Deandra lagi hamil, terus yang mabok tuan Aidan, trus dilihat selalu minta makanan, apa mereka sudah melukakan pembuahan,” gumam Lucky sendiri mulai curiga, sembari menatap tuannya yang sudah menenteng pesanan Deandra dan terlihat terburu-buru masuk ke studio.
Sementara itu Adam ajudan Deandra mengizinkan Aidan untuk menemui istrinya yang kebetulan sedang break syuting.
“Sayang, aku bawakan pesananmu,” kata Aidan sembari menunjukkan tentengannya.
Netra Deandra berbinar-binar, dan langsung meraih tentengan tersebut, rasanya salivanya sudah tidak sabar untuk mencobanya. Aidan tambah bahagia melihat respon istrinya, usahanya tidak sia-sia harus keliling.
Deandra langsung membuka kemasan es rujak. “Ini Kak Aidan yang belikan tidak menyuruh Pak Lucky'kan?” tanya Deandra menyelidik.
“Enggak Sayang, aku yang beli ke abangnya,” jawab jujur Aidan.
“Bagus ...” Deandra langsung menikmati es rujak, lalu menyodorkan es rujak itu pada Aidan.
“Habiskan, awas kalau tidak dihabiskan, aku usir dari sini!” ancam Deandra.
Tenggorokan Aidan tercekat melihat wadah es rujak itu, pasti rasanya hampir sama dengan rujak buah yang kemarin dia makan, asam pedas.
“Sayang ...,” rengek Aidan, ingin menolak tapi istrinya sudah melototinya.
__ADS_1
Bersambung ...
Maksud hati kisahnya tidak sampai 100 bab, eh ternyata malah bisa lebih, semoga tidak bosan ya bacanya, diusahakan sebentar lagi tamat.