
Ardan pun reflek memeluk Gibran dengan erat karena hati nya yang awalnya khawatir menjadi berbunga-bunga dengan sekejap saja.
"Tunggu apa lagi,ayo segera temui dia."Ucap Gibran kepada Ardan.
"Terima kasih kak."Jawab Ardan melepas kan pelukan nya.
"Ayo kita masuk."Ucap Ardan kepada mama El dan papa Bian.
"Ardan, sebaiknya kau dulu yang masuk, selesai kan dulu masalah tadi,agar perasaan Kiara lebih jernih,kalian butuh waktu berbicara berdua, setelah itu baru kami."Ucap Gibran memberi saran.
"Iya Ardan, Gibran benar."Jawab mama El.
"Iya Ardan masuk lah."Ucap papa Bian.
"Baik lah,ma, pa, kak,aku duluan."Ucap Ardan yang kemudian membuka pintu ruang rawat tersebut dan masuk dengan pelan.
Sementara yang lain nya memilih untuk menunggu di luar dulu agar Ardan dan Kiara memiliki waktu berduaan untuk bicara dan menyelesaikan masalah mereka.
"Sayang,apa kau sudah merasa enakan?"Tanya Ardan menghampiri Kiara yang terbaring lemah dengan pandangan di tujukan ke arah lain.
Ardan yang mengerti Kiara masih marah pun duduk di kursi samping ranjang Kiara.
"Sayang, lihat aku ayo."Ucap Ardan mencoba membujuk Kiara dan mengelus lembut rambut Kiara.
"Pergi lah mas,aku ingin sendiri."Ucap Kiara.
"Sssst, jangan seperti itu, jika kau marah kau terlihat sangat jelek."Ucap Ardan lagi.
"Jangan mencoba-coba untuk membujuk ku."Ucap Kiara masih dalam posisi kepala yang tidak mau menatap Ardan.
"Sayang, kau jangan dengarkan apa yang di katakan oleh Alina, dia berniat menghancurkan rumah tangga kita, hal yang di katakan nya memang benar, namun hal itu sudah tidak terpikirkan di otak ku, aku sekarang mecitai mu, tidak peduli bagaimana pun masa lalu itu, ingat lah jika kecelakaan itu membuat kau dan aku bersama dan menjauh kan kita dari orang-orang yang tidak tulus, dan sekarang kau sedang hamil sebaiknya kau tidak boleh terlalu banyak pikiran."Ucap Ardan menjelaskan secara pelan kepada Kiara.
Mendengar itu Kiara menatap Ardan dengan tatapan bingung.
"Aku, aku hamil?"Tanya Kiara lagi.
__ADS_1
"heem, kau hamil, jangan banyak marah nanti dia akan sedih."Ucap Ardan memegang perut Kiara yang masih rata.
"Mas,ini bukan candaan kan?"Tanya Kiara lagi.
"Untuk apa aku bercanda dengan mu,kau memang sedang hamil, dan dokter bilang usia kandungan mu masih muda, jangan banyak pikiran atau apapun karena itu akan membuat yang di dalam jadi tidak nyaman."Bisik Ardan dengan senyum manisnya.
"Umhhh, sayang maaf kan mama."Ucap Kiara memegang perutnya yang di sana tangan Ardan masuh setia menempel.
"Sudah lah, jangan bersedih apa kau mau memaafkan ku?"Tanya Ardan kepada Kiara.
Kiara menatap Ardan dan tiba-tiba membenarkan posisi nya menjadi duduk.
"Mas,bisa kau memelukku?"Ucap Kiara lagi.
Tampa basa-basi Ardan langsung memeluk erat tubuh Kiara dan mencium kening nya.
"Mas maaf kan aku, aku bersalah,aku membuat mu menderita begitu lama di kursi roda itu."Tangis Kiara sambil melingkarkan tangannya di badan Ardan.
"Sssst, sayang jangan bicara seperti itu,apa kau tau, jika hal itu tidak terjadi mungkin kau tidak akan menjadi istri ku sekarang."Ucap Ardan mengelus rambut lembut Kiara.
"Sayang, aku tau kau tidak akan mudah marah dan terpancing emosi dari ucapan orang yang ingin memisahkan kita, aku percaya kepada mu."Ucap Ardan melepaskan pelukan itu dan memegang pipi Kiara.
"Mas, jangan tinggalkan aku lagi."Manja Kiara
"Tidak, tidak ada yang ingin meningal kan mu, di luar ada papa,mama, kak Gibran. Semuanya menunggu mu, dan semuanya tidak sabar untuk mengatakan selamat atas kehamilan mu."Ucap Ardan lagi dengan wajah bahagia.
"Benar kah? Aku ingin bertemu mereka."Ucap Kiara senang.
"Baik aku akan memanggil mereka untuk masuk."Ucap Ardan lagi.
Sementara itu di sisi lain.
"Rose, mengapa diam saja? Setelah pulang tadi pagi, kau diam saja seperti patung, kau bahkan belum makan siang."Ucap mama Ulan.
"Tidak ada bi, aku baik-baik saja."Ucap Rose sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Rose, cerita ke bibi, apa yang kau alami siapa tau bibi bisa membantu mu."Ucap mama Ulan lagi.
"Tidak ada bi, aku beberapa hari lagi akan pulang,aku hanya sedih meningal kan kota ini."Ucap Rose kepada bibi nya.
"Benar kah? Apa pekerjaan mu sudah selesai?"Tanya mama Ulan.
"Ya, semuanya sudah selesai bi, dan aku akan pulang bersama dengan Bima."Jawab Rose.
"Rose, bibi pasti akan merindukan kalian, bibi berharap kalian akan sering datang ke kota ini lagi untuk menjenguk bibi."Ucap mama Ulan sedih.
"Bibi,ayo lah, jangan sedih,aku sangat tidak tega melihat bibi bersedih seperti itu."Ucap Rose memegang kedua pundak mama Ulan.
"Aish, maaf kan bibi, sekarang kau mau makan apa? Bibi akan masak."Ucap mama Ulan di sela kesedihan nya.
"Aku mau makan ayam bakar buatan bibi, pasti enak sekali."Ucap Rose.
"Baik lah, kalau begitu kau juga harus membantu bibi."Ucap mama Ulan tersenyum kecil.
"Oke tentu saja ayo."Ucap Rose menghilangkan rasa sedih nya agar terlihat baik-baik saja di depan mama Ulan karena tidak ingin membuat bibi nya bersedih.
Sementara itu, Rose tidak tau jika adik nya Bima sedang di tahan di kantor polisi, karena ini permintaan Bima agar tidak menghubungi siapa pun termasuk kakak nya karena ia tau kakak nya pasti akan sangat menghawatirkan dirinya.
Dua hari kemudian.
"Sayang, baik-baik di Fila, ingat jangan terlalu banyak aktifitas, kau sedang hamil."Ucap Ardan kepada Kiara.
Ardan begitu menghawatirkan kondisi Kiara dan bayi Yang ada Adi dalam kandungan Kiara, ia benar-benar tidak ingin mereka sampai kenapa-kenapa, saat ini yang paling berharga dalam hidup nya adalah Kiara dan calon anak nya.
"Aku akan baik-baik saja mas, jangan khawatir, bukan kah di sini ada maid A dan maid B yang menjaga ku."Ucap Kiara meyakinkan Ardan.
"Baik lah, kakau begitu,aku ke kantor dulu, jika terjadi sesuatu cepat telfon aku."Ucap Ardan.
Kiara mengangguk kan kepala nya dan tersenyum manis.
Ardan pun mencium kening Kiara sekilas kemudian berjalan keluar dari kamar nya untuk segera berangkat kerja.
__ADS_1
Bersambung ....