
Siang pun berlalu begitu cepat,saat ini bulan sudah berhasil mengantikan posisi mata hari.
Hari ini di lalui Kiara dengan banyak perubahan dari suaminya yang perlahan mulai menujukkan sifat aslinya yabg begitu bucin walaupun sesekali bisa berubah dingin.
Tok ... tok ... tok.
Suara ketukan di luar pintu kamar Kiara.
Kiara berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu kamar lalu membukanya.
"Tuan muda."Lirih Kiara saat mengetahui ternyata yang mengantuk pintu kamar nya adalah Ardan.
"Bereskan baju-baju mu."Ucap Ardan tanpa basa-basi.
"Baju-baju? Mau dia apakan? Apakah kita akan pergi berlibur?"Tanya Kiara.
"Berlibur apanya, pindah lah ke kamar ku,besok mama akan datang,apa kau lupa jika kita masih pisah kamar maka mama akan curiga selama ini kita jaga jarak."Jelas Ardan.
Sejenak Kiara terdiam, namun akhirnya dia mengerti juga dengan apa yang di maksud Ardan.
"Oh,iya aku mengerti."Ucap Kiara yang kemudian berbalik mengambil koper nya dan membereskan baju-baju.
Setelah semua nya selesai Kiara dan Ardan pun berjalan menuju kamar Ardan dengan membawa semua barang-barang Kiara agar tidak membuat mama Ulan curiga ketika dia datang besok.
"Masukan baju-baju mu di lemari yang sama dengan lemari ku."Ucap Ardan.
"Aku mengerti."Jawab Kiara sambil melakukan apa yang di perintahkan oleh Ardan.
Satu jam pun berlalu, Kiara pun sudah selesai membereskan semua barang-barang nya dengan arahan dari Ardan.
"Huh,capek sekali."Leguh Kiara sambil duduk bersandar di sofa yang ada di dalam kamar luas itu.
Sementara itu Ardan sedang duduk di kursi meja kerja nya, mata nya menatap laptop dengan serius, seperti nya dia sedang mengerjakan satu pekerjaan.
Meskipun dia tidak ke kantor nya, dan Hanya datang jika ada hal penting saja Ardan masih tetap mengerjakan pekerjaan nya.
Sementara Kiara hanya mengamati nya sambil menonton televisi di kamar itu,ia menyalakan televisi agar tidak terlalu cangung, meskipun begitu ia mengecilkan suara televisi karena takut menggangu Ardan yabg sedang bekerja.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Kiara kembali menoleh ke arah Ardan yang sedang bekerja, namun saat Kiara melihat nya Ardan terlihat tidak lagi mengetik atau menatap layar laptop nya,malinkan tertidur pulas dengan kepala di atas meja kerja nya.
Kiara yang di hantui rasa penasaran pun perlahan berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Ardan,ia mengamati pekerjaan yang sedang di kerjakan oleh Ardan namun terlihat belum sempat di selesaikan.
Kiara pun perlahan dengan susah payah menarik kursi roda Ardan yang sedang tertidur dan membantu nya naik ke atas ranjang.
Setelah berhasil merebahkan tubuh suaminya di ranjang Kiara pun menyelimuti nya.
Namun anehnya Kiara tidak ikut tidur serta, ia malah kembali berjalan menuju meja kerja Ardan dan duduk di depan Laptop milik Ardan, tangan nya mulai lincah mengetik di keyboard Laptop tersebut.
Setelah dua jam berlalu akhirnya Kiara pun selesai dengan laptop itu.
"Huhhh, akhirnya selesai, meskipun aku sudah lama tidak memegang pekerjaan kantor seperti ini,tapi aku masih bisa ingat bagaimana cara menyelesaikan dokumen ini."Ucap Kiara sambil meregangkan otot-otot tangan nya.
"Aku tidur di mana ya?"Ucap Kiara pelan karena ia benar-benar merasa takut jika akan tidur di samping Ardan meskipun bukan pertama kalinya.
Tapi mungkin Kiara merasa kali ini benar-benar berbeda.
Kiara yang kebingungan pun akhirnya mengambil satu buah bantal dari ranjang Ardan dan mengambil selimut nya yang ia bawa dari kamar nya lalu membawa kedua benda itu ke atas sofa dengan pelan dia merebahkan tubuh nya dan mulai tertidur karena rasa ngantuk dan capek yang luar biasa.
Keesokan harinya, Ardan terbangun karena sinar matahari yang mulai masuk ke selah-selah kaca jendela yang gorden nya sedikit terbuka.
Dia tidak menemukan Kiara di samping nya, begitu juga dengan seluruh ruang kamar itu,dan hanya ada dirinya sendiri.
Namun Ardan melihat ke arah sofa, di sana hanya ada sebuah bantal dan selimut yang sudah di rapikan.
"Apa dia tidur di sana?"Batin Ardan.
Ardan kembali mengingat apa yang terjadi tadi malam, ia melihat dirinya yang ada di atas ranjang dengan selimut, seketika ia ingat jika tadi malam ia masih di meja kerja,dan belum selesai mengerjakan pekerjaan nya ia malah tidur dan ia pun samar-samar mengingat Kiara yang membantu nya naik ke ranjang.
"Mengapa dia tidak tidur bersama ku?"Batin Ardan heran karena Kiara malah memilih tidur di sofa.
Namun tidak lama kemudian kamar itu pun di ketuk oleh seseorang.
tok..tok .tok.
"Siapa?"Jawab Ardan dari dalam kamar nya.
__ADS_1
"Saya tuan."Ucap maid A.
"Masuk lah bi."Ucap Ardan lagi.
"Ada apa?"Tanya nya saat maid A masuk ke dalam kamar itu.
"Tuan muda, maaf, nyonya besar Ulan sudah tiba di Fila."Ucap maid A dengan wajah yang sedikit gugup.
"Apa? Mama ku datang sepagi ini?"Ucap Ardan kaget.
Maid A hanya mengangguk kan kepala nya mengiyakan pertanyaan Ardan.
"Baik lah, kalau begitu di mana Kiara?"Tanya Ardan lagi.
"Nyonya ... "Ucap maid y terhenti karena Ardan kembali memotong perkataan nya.
"Sudah lah, bantu aku naik ke kursi roda."Ucap Ardan kepada maid A.
Maid A pun mengerti dan membantu Ardan naik ke kursi rodanya.
Setelah menyiapkan air hangat untuk Ardan mandi dan juga pakaian maid A pun kembali keluar dari kamar itu.
Setelah tiga puluh menit berlalu Ardan pun akhirnya keluar dari kamar nya dan mendorong pelan kursi rodanya menuju dapur Fila.
Sementara itu di dapur Fila.
"Ma, aku tidak tau makanan apa yang mama suka, katakan saja aku bisa membuat kan nya."Ucap Kiara dengan gugup tapi berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja.
"Sayang,apa Ardan meminta mu untuk memasak di Fila ini? Bukan kah ada dua maid?"Tanya mama Ulan memegang pundak Kiara.
"Ti-tidak ma, aku tidak begitu pintar memasak jadi aku jarang memasak."Jawab Kiara dengan jujur nya.
"Benarkah? Baik lah kalau begitu, kau ingin tau bukan masakan kesukaan mama? Mama sangat suka sup ayam, apa kau bisa memasak nya untuk mama?"Ucap mama Ulan sambil tersenyum lembut.
"Emmm."Kiara sejenak memikirkan bagaimana caranya memasak sup ayam dengan enak.
"Emm,bagini saja, bagaimana jika kau yang membuat nya tapi mama yang mengajarkan mu?"Ucap mama Ulan.
__ADS_1
Tidak seperti dugaan Kiara ternyata mama Ulan lebih baik kepada nya.
Bersambung ....