
Papa Harland membuang rasa kikuknya dengan mengusap tepi rahangnya, demi apapun pemandangan yang ada di hadapannya membuat dirinya tidak nyaman, karena yang berlutut adalah saudara yang lebih tua usia darinya, berbeda hal dengan Aidan yang jauh umurnya dari dia. Dibalik Mama Amber yang sedang bersimpuh, netra Aidan diam-diam menelisik ke semua sudut dari tempatnya duduk, hatinya berharap bisa melihat istri tercintanya, namun ternyata batang hidungnya tidak kelihatan.
Pria paruh baya itu mencondongkan dirinya, lantas kedua tangannya menyentuh kedua Mama Amber. “Kembalilah duduk Kak Amber, aku bukan Tuhan yang patut disembah seperti ini,” pinta Papa Harland.
Kepala Mama Amber yang sejak tadi tertunduk, kini menegak dan menatap wajah saudaranya tersebut dengan netranya yang masih membasah.
“Harland, tolong maafkan kakakmu ini,” ucap Mama Amber begitu lirih, kedua tangannya pun terkatup di dadanya.
“Kakak meminta maaf padaku karena Deandra adalah anakku, andaikan Deandra bukan anakku, apakah Kakak akan minta maaf seperti ini juga?”
Tertunduk lagi kepala Mama Amber dengan menahan rasa sesaknya yang masih bergemuruh dihatinya, terpaksa Papa Harland menarik kedua tangannya dari kedua bahu Mama Amber.
“Seharusnya Kak Amber minta maaf dengan anakku, bukan padaku. Begitu kejamnya Kakak sebagai ibu mertua pada menantunya, hingga membuat mental dan fisiknya terluka! Pernahkah Kakak berpikir jika segala perbuatan Kakak akan terjadi pada Elena anak kakak sendiri!”
Mama Amber menggelengkan kepalanya, sudah tentu dia tidak menginginkan anaknya memiliki mertua yang kejam sepertinya.
“Minta maaf itu sangat mudah Kak Amber, tapi luka yang diberikan oleh Kak Amber serta putramu masih membekas di hati anakku. Seharusnya sebagai orang tua tidak bersikap seperti itu, menghakimi orang karena status sosialnya yang berbeda. Kita di dunia ini sama-sama makan nasi, menghirup udara yang sama dan memijakkan kaki kita di bumi yang sama, yang membedakan kita di mata orang lain memang dari harta dan kedudukan, tapi di mata Allah itu tidaklah berarti, karena yang membedakan adalah amal ibadah dan kebaikan kita, jangan pernah menyombongkan diri mentang-mentang Kak Amber kaya banyak hartanya, karena kekayaan yang kita miliki tidak akan dibawa saat kita mati,” tutur Papa Harland.
Mereka yang ada di ruang utama diam sejenak, termasuk Papa Ricardo dan Aidan yang turut berada di sana, namun suara isak tangis Mama Amber yang tertahankan terdengar sayup-sayup.
“I-iya Harland, Kakak benar-benar saat itu termakan hasutan Jeng Daisy, lalu Poppy. Kakak benar-benar bersalah, seharusnya tidak mudah memercayai omongannya, Kakak sangat menyesal Harland,” imbuh Mama Amber dalam isak tangisnya.
Papa Harland menyandarkan punggungnya ke sandaran dan memalingkan wajahnya dari tatapan Mama Amber, dia baru teringat dengan keluarga Ernest, sepertinya dia butuh bantuan Papa Ricardo.
Sementara itu di kamar Deandra, wanita itu sedang merapikan penampilannya, bersiap-siap berangkat ke studio, namun tiba-tiba saja ponselnya berdering.
“Mas Arik!” gumam Deandra saat mengenali nomor yang tertera di layar ponselnya, kemudian dia menerima panggilan telepon tersebut.
“Assalamualaikum, Dea,” sapa Arik dari sambungan teleponnya.
“Waalaikumsalam, Mas Arik,” balas Deandra dengan ramahnya.
“Apakabarnya, maaf kalau mengganggumu pagi-pagi, Dea.”
__ADS_1
Suara bariton sang mantan kekasih yang terdengar ditelinganya bagaikan kaset yang memutar kembali kisah cintanya dengan pria itu, perasaan jatuh cinta untuk pertama kalinya tiba-tiba menyeruak dihatinya.
“Kabarku baik Mas Arik, bagaimana dengan kabar Mas Arik?”
“Kabarku sangat merindukanmu,” jawab Arik di seberang sana.
Sesaat pipi Deandra merah merona, entah mengapa hatinya bergejolak hanya karena kata rindu dari sang mantan.
“Sudah lama kita tidak bertemu, bisakah kita bertemu, Dea?” tanya Arik dengan penuh pengharapan.
Deandra yang kebetulan posisinya sedang berdiri dan menghadap cermin, menatap pantulannya sembari mengusap perutnya yang mulai sedikit membuncit.
“Mau bertemu di mana Mas Arik?” Ternyata Deandra tergoda dengan ajakan sang mantan kekasih.
Pria yang ada diujung telepon tersenyum dan memberitahukan tempat pertemuan mereka nanti sore, dan sangat berharap Deandra bisa datang.
...----------------...
Papa Harland memeluk Mama Amber, dan membiarkan saudaranya itu menangis tersedu-sedu dalam penyesalannya, dirinya juga tidak tega dengan saudaranya tersebut.
“K-kakak berjanji akan minta maaf sama Dea, Harland, terima kasih sudah mau memaafkan Kakak,” imbuh Mama Amber masih memeluk saudara yang paling dekat dengannya.
“Jadikanlah ini sebagai pelajaran, jangan terulangi kepada siapa pun, ingat usia kita sudah tua dan sewaktu-waktu entah kapan dipanggil oleh Allah, bertobatlah Kak Amber,” jawab Papa Harland sembari mengusap lembut punggung wanita itu.
“Iya Harland, kakak bertobat dan tidak akan mengulanginya kembali.”
Memaafkan bukanlah salah satu bentuk kekalahan pada diri sendiri, justru kemenangan untuk diri sendiri karena berhasil berdamai dengan diri sendiri, sungguh berjiwa besar bagi siapapun yang mau memaafkan kesalahan orang.
Kini, Mama Amber sudah bisa tersenyum setelah beberapa hari hidup dalam kegelisahan, dan sekarang alhamdulillah sudah ada kemajuan, dengan itikad yang baik, paling tidak bisa meluluhkan hati Papa Harland.
“Harland, bisa kita bicarakan masalah rumah tangga anak kita berdua?” tanya Mama Amber, saat mereka kembali duduk.
Pria paruh baya itu memutar malas netranya saat menatap Aidan.
__ADS_1
“Sepertinya untuk urusan rumah tangga mereka berdua, sudah jelas arahnya kemana, tidak perlu di ulang kembali'kan Aidan?” tegur Papa Harland, netranya melirik Aidan.
Aidan menghela napas panjangnya. “Aku rela jika Om Harland ingin membuat perusahaanku bangkrut, tapi tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki rumah tanggaku dengan Deandra. Atau kalau perlu aku berikan perusahaan Zen Zero untuk Om Harland demi bisa selalu di samping istriku, Deandra,” tutur Aidan sangat menyakinkan.
Namun, saat itu juga Papa Ricardo dan Mama Amber tercengang dengan ucapan Aidan yang akan memberikan perusahaan yang selama ini dibanggakan, demi mendapatkan kesempatan kembali dengan Deandra. Sungguh tawaran yang sangat menggiur buat mertua yang mata duitan.
Papa Harland hampir saja tertawa mendengar kegilaan Aidan yang ingin memberikan perusahaan hasil jerih payah sendiri demi putrinya, tapi sepertinya tawaran yang menarik walau buat Papa Harland tidak butuh perusahaan, hanya sekedar ingin tahu perjuangan Aidan sampai dimana.
Pria paruh baya itu mengambil cangkir tehnya yang baru saja di sajikan oleh mainnya, dan menyeruputnya sejenak, sementara Aidan dengan wajah lebamnya terlihat ketar ketir.
“Sepertinya kamu sedang mengawur Aidan, masa perusahaan kamu buat Om,” sindir Papa Harland.
“Aku serius Om, aku rela memberikan perusahaanku, asal aku diberikan kesempatan untuk memperbaiki hubunganku dengan Deandra.” Tekad Aidan sudah bulat, akan melakukan apapun agar bisa kembali dengan istri satu-satunya.
“Tidak semudah itu, Aidan,” jawab tegas Papa Harland sembari kembali menyeruput tehnya.
Di saat Aidan masih memohon pada Papa Harland, Deandra bersama Nurul turun ke bawah, wanita itu melangkahkan kakinya dengan anggun menuju pintu utama, dan otomatis dia melewati ruangan utama.
“Aku mohon Om Harland, aku benar-benar minta maaf atas kesalahanku, tolong berikan aku kesempatan kedua. Aku rela menyerahkan semua harta yang aku miliki pada Om, asal aku bisa memperbaiki rumah tanggaku dengan Deandra. Aku sangat mencintai Deandra, aku tak sanggup berpisah dengannya Om Harland,” ucap Aidan dengan suara bergetarnya, netranya kembali berembun.
Langkah kaki Deandra pun terhenti, dan saat itu juga Aidan meluruskan tatapannya, wanita yang dirindukannya kini ada di hadapannya.
Bersambung ...
Kakak readers terima kasih atas doanya, semoga saya cepat sehat kembali dan bisa kembali up bab seperti biasanya. Doa kembali juga buat kakak readers semoga dalam keadaan sehat juga, yang sakit semoga cepat sehat. Aamiin.
Next ... apa yang akan dilakukan Arik???
__ADS_1