
4 Jam berlalu ...
Bu Nani masih belum percaya, sampai menepuk pipinya berulang kali, berharap dirinya terbangun dari mimpinya. Apalagi kedua kakinya gemetaran saat keluar dari jet pribadi milik Papa Harland, sumpah demi apapun dia yang sekelas pelayan tapi dihargai sangat baik, dan tak menyangka sekarang dia sudah berada di Singapura. Seumur hidupnya yang kini menginjak usia 45 tahun baru kali ini keluar negeri, itupun dadakan.
Kini, wanita paruh baya itu sudah tiba di kediaman Papa Harland dan sudah di giring ke kamar yang ditempati oleh Deandra.
“Assalammualaikum, Non Dea,” sapa Bu Nani, bibirnya terulas senyuman bahagia bisa bertemu kembali dengan nona mudanya, yang masih berbaring di ranjang.
“Waalaikumsalam, Bu Nani,” seru Deandra, dia merentangkan kedua tangannya seakan minta dipeluk oleh Bu Nani. Mereka pun saling berpelukan beberapa saat.
“Non, saya gak nyangka loh ternyata dibawa ke Singapura, dikiraiin diantar ke mansion Tuan Harland,” ucap Bu Nani masih belum percaya.
Bumil terkekeh kecil. “Ini juga mansion papa juga, tapi di Singapura bukan di Jakarta. Duduk dulu Bu Nani ... pasti lelah dalam perjalanan kan,” pinta Deandra sembari menepuk tepi ranjangnya, wanita paruh baya itu pun duduk dan masih menatap Deandra.
“Gak lelah kok Non, justru sangat menikmati perjalanannya, dan menikmati duduk di jet pribadi, jadi berasa kayak orang kaya,” jawab Bu Nani terkekeh.
“Ya harus dinikmati loh Bu, kapan lagi kan naik jet pribadi,” balas Deandra ikut senang mendengarnya.
Bu Nani mengusap punggung tangan Deandra penuh kasih sayang, walau dia seorang pelayan bagi Deandra sudah dianggap sebagai keluarga. “Keadaan Non, bagaimana?”
“Alhamdulillah Bu Nani, hanya pendarahan saja, kandungan saya selamat, tapi yang seperti Bu Nani lihat ... saya harus bedtrest.”
Bu Nani tersenyum lega, “Alhamdulillah ... Eh anu Non dapat salam dari Non Elena, terus —,” Bu Nani menatap keadaan Deandra yang masih diinfus tangannya.
“Terus kenapa Bu?” tanya Deandra dengan rasa penasarannya, iris mata hazelbrownnya bergerak lincah.
“Begini Non, kepergian Non ke sini memang tidak kasih tahu Tuan Aidan ya?” balik bertanya Bu Nani.
__ADS_1
Deandra menggelengkan kepalanya. “Gak bilang Bu, semuanya serba dadakan perginya. Memangnya ada apa Bu?” semakin penasaran hati Deandra.
“Pantas saja ... tadi pagi Pak Benny sempat cerita semalam katanya tuan Aidan ngamuk-ngamuk sambil menangis, katanya beliau ke rumah sakit tapi Non sudah pindah rumah sakit. Pak Benny, Pak Lucky dan Pak Karno berjibaku menenangi Tuan Aidan, Non Dea’kan tahu sendiri Tuan Aidan seperti apa,” imbuh Bu Nani.
Deandra berusaha mengganti posisi tidurannya menjadi duduk bersandar di head bord dengan bantuan Bu Nani.
“Jadi maksud Bu Nani, Kak Aidan ke rumah sakit saat saya udah gak ada di rumah sakit?” Deandra kembali mempertegas cerita Bu Nani.
“Iya.” Bu Nani mengangguk pelan. “Bukan maksud saya menguping sih Non, waktu Pak Lucky siapin sarapan buat Tuan sedang ngobrol sama Pak Karno kalau Tuan Aidan sempat menunggu Non di rumah sakit, tapi pas dengar Dokter Mira bicara sama Tuan Ricardo mengenai Non kandungannya selamat, Tuan Aidan sangat terpukul, maka dari itu dia memilih pergi, “ lanjut kata Bu Nani, menjelaskan apa yang dia dengar.
Hati Deandra jadi ser-seran mendengarnya dan terhenyuh, ternyata suaminya memiliki alasan kenapa meninggalkannya, lalu dia kembali datang namun dia sudah tidak berada di sana. Cerita itu pun membuat wanita itu tersenyum tipis sembari mengusap perutnya yang mulai sedikit menonjol.
“Ternyata papa cariin kita sayang,” batin Deandra. Walau belum lihat batang hidung suaminya, dengar cerita itu aja sudah bikin mood si bumil jauh lebih baik. Entah kenapa rasanya sangat berbeda rupanya ketika dia menjalin kasih dengan Arik. Namun, yang jelas Deandra membuang semua kenangan manis serta perasaannya yang masih menyempil dihatinya setelah kejadian kemarin sore, dia benar-benar tidak menyangka mantan kekasih punya kelakuan sepicik itu.
“Makasih Bu Nani buat ceritanya, sekarang Ibu istirahat dulu, kamarnya sudah disiapkan, nanti baru bantu-bantu ngurusin saya. Maklum sama Dokter Mira harus bedtrest total selama seminggu ini,” pinta Deandra.
“Ah ... saya sudah kebanyakan istirahat dari tadi, sekarang Non mau makan siang pakai lauk apa? Biar saya masakkan,” jawab Bu Nani sudah semangat buat kembali bekerja.
“Oke sip.”
Sementara itu di negara yang sama, ternyata Aidan memilih mencari Deandra ke Singapura bersama Lucky dengan berbekal alamat yang diberikan oleh Mama Amber, dan team dia yang ada di Jakarta tetap mencari keberadaan Deandra, belum dihentikan sampai salah satu diantara mereka menemui keberadaan Deandra.
“Tuan sebaiknya kita beristirahat dulu di hotel, setelah itu baru kita lanjut mencari alamat rumahnya,” kata Lucky dengan matanya yang mulai memerah akibat kurang tidur. Aidan jadi gak tega lihat asistennya, apalagi dari semalaman hingga dini hari asistennya mengurus dirinya, belum lagi bangun pagi kembali, sudah bisa dipastikan kurang istirahat.
“Ya sudah kita istirahat dan makan di hotel dulu,” jawab Aidan menyetujui usulan Lucky. Mobil yang menjemput mereka dari bandara Changi melesat menuju hotel yang berada di kawasan Marina Bay, tanpa di sadari oleh Aidan rumah Papa Harland berada di kawasan Marina Bay juga.
Sekitar 45 menit mereka berdua sudah tiba di hotel, sebelum cek ini mereka isi perut di restoran hotel tersebut, setelahnya baru masuk ke kamar masing-masing.
__ADS_1
Baru saja Aidan menjatuhkan dirinya di atas ranjang, ponselnya berdering.
Elena Calling
“Halo, Assalammualaikum Kak Aidan ada di mana sekarang, aku mau kerumah sakit jenguk Deandra dari kantor?” tanya Elena dari sambungan teleponnya.
“Waalaikumsalam Elena, Kakak lagi di Singapura, baru saja tiba.”
“Singapura? Ngapain Kak, udah tahu istri lagi sakit malah pergi ke Singapura?” celetuk Elena terdengar suaranya kecewa.
Aidan mendesah. “Elena, Kakak ke Singapura cari Dea bukan main atau kerja. Deandra sudah tidak ada rumah sakit sejak semalam,” balas Aidan.
“Aapa! Tidak ada di rumah sakit ...” Elena jeda sejenak sembari mengingat sesuatu.
“Terus Kakak tahu darimana kalau Deandra ada di Singapura?”
“Hanya dugaan saja, ini juga ke sini dengan alamat yang diberikan sama Mama. Jadi Kakak hanya ingin memastikan ada atau tidaknya di sini.”
“Sebentar Kak, aku baru ingat tadi pagi Bu Nani dijemput sama karyawan Om Harland katanya disuruh merawat Deandra, aku pikir ke rumah sakit.”
Jantung Aidan mulai berdegup cepat mendengarnya, seakan mendapat kabar baik. “Elena, coba kamu telepon Bu Nani siapa tahu dia tahu keberadaan istri Kakak.”
“Ya sudah aku coba telepon Bu Nani dulu.”
“Cepat ya Elena, kabari Kakak secepatnya,” pinta Aidan.
“Ya Kak Aidan.” Elena mengakhiri percakapan, sementara Aidan bergegas bangkit dari atas ranjang.
__ADS_1
Pria itu mulai berseri-seri wajahnya. “Ya Allah semoga saja Bu Nani bisa dihubungi, semoga tahu keberadaan istriku. Ya Allah mudahkanlah jalannya ... aku sangat merindukannya dan ingin segera bertemu dengannya,” gumam Aidan sendiri. Langkah kakinya sudah bagaikan setrikaan bolak balik, terlihat tidak sabaran menunggu kabar dari Elena.
Bersambung ...