Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh

Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
Episode 77


__ADS_3

Hal ini membuat jantung Rose berdegup kencang tidak karuan, apakah ini yang di namakan cinta pada pandangan pertama?


Oke next.


"Maaf, kau lupa memasang sabuk pengaman mu."Ucap Gibran kepada Rose.


"Iya, aku, aku sangat aku."Gugup Rose hampir tidak bisa berkata apa-apa karena jarak nya dan Gibran saat dekat sampai aroma parfum Gibran tercium oleh nya.


"Sudah lah, ayo kita ke bengkel dan mengambil mobil mu."Ucap Gibran lagi.


"Iya, ayo."Ucap Rose lagi.


Gibran pun kembali menyalakan mesin mobil nya dan melaju meningal kan gerbang mansion itu.


Di dalam mobil, suasana menjadi hening, tidak ada yang ingin angkat bicara sekedar mencairkan suasana.


Tidak butuh waktu yang lama mereka pun akhirnya tiba di bengkel tersebut.


"Terima kasih kau telah mengantarkan aku ke sini."Ucap Rose kepada Gibran.


lagi-lagi Gibran selalu turun dan membuka pintu mobil untuk Rose.


"Dia benar-benar tau bagaimana caranya menghormati wanita."Batin Rose.


"Maaf nona, apa nona pemilik dari mobil itu?"Tanya montir mobil yang menangani mobil Rose.


Montir tersebut terlihat tergesa-gesa menghampiri Rose saat melihat Rose dan Ardan keluar dari mobil.


"Iya, apa mobil nya sudah selesai?"Tanya Rose lagi.


"Nona, begini, benar tadi sudah selesai, dan kami mencoba nya untuk memastikan bahwa itu sudah normal, namun seperti nya kami masih harus memperbaiki nya lagi, begitu banyak kerusakan."Ucap sang montir dengan wajah khawatir akan pelanggan nya yang marah.


"Wah, seperti nya masih lama ya?"Tanya Rose.


Montir itu mengangguk.


"Tidak apa, kau tidak perlu khawatir, perbaiki saja, aku akan membayar berapa pun biayanya, dan jika masih tidak bisa di perbaiki sebaiknya kau tinggalkan saja."Ucap Rose kepada montir itu.


Dengan wajah kaget montir itu menatap Rose, karena baru kali ini ada orang seperti Rose yang tidak terburu-buru.


"Ba-baik, jika selesai kami akan menelpon nona, maaf sudah membuat anda susah payah untuk datang ke sini."Ucap montir tersebut.


"Tidak apa, aku mengerti pekerjaan kalian yang begitu rumit."Ucap Rose lagi.


Sementara itu Gibran hanya menatap wajah Rose dengan tatapan berbeda.

__ADS_1


"Seorang model cantik, tutur kata yang cukup lembut, dan tidak sombong, baru aku temukan wanita seperti ini, dia cukup menarik."Batin Gibran.


"Baik lah kalau begitu saya permisi dulu."Ucap montir itu.


Rose pun menjawab nya dengan anggukan.


"Gibran, maaf kan aku, mobil nya masih belum selesai di perbaiki."Ucap Rose kepada Gibran.


"Mengapa kau minta maaf?"Tanya Gibran lagi.


"Karena aku sudah merepotkan mu."Jawab Rose merasa tidak enak.


"Sudah lah, ayo masuk mobil."Ucap Gibran lagi.


Rose pun kembali masuk ke dalam mobil Gibran dengan malu-malu, ia sebenarnya sangat tidak enak merepotkan orang yang baru ia kenali, tapi entah mengapa rasanya Rose sangat senang bersama Gibran, dan rasanya ia ingin bertemu Gibran setiap hari.


"Rose, mau kah kau jalan-jalan bersama ku?"Tanya Gibran saat mereka sudah pergi dari bengkel itu.


"Kemana?"Tanya Rose kepada Gibran.


"Kemana saja, rasanya tidak enak untuk jalan-jalan sendiri."Ucap Gibran.


"Apa kau tidak memiliki kekasih?"Tanya Rose.


"Hmm, aku tidak memikirkan hal itu, karena ada seorang wanita yang ingin aku lihat kebahagiaan nya, baru aku membahagiakan diri ku sendiri."Ucap Gibran lagi.


"Siapa itu?"Tanya Rose penasaran.


Namun tiba-tiba Gibran memberhentikan mobilnya.


"Kita sudah sampai."Ucap Gibran berhenti di sebuah restoran.


"Restoran?"Tanya Rose menaikkan satu alisnya.


"Iya, restoran, aku lapar."Ucap Gibran sambil menampilkan senyum memikat nya.


"Astaga, maaf kan aku, aku lupa jika ini sudah siang, ayo makan, biar aku yang traktir."Ucap Rose dengan tingkah lucu nya.


"Tidak-tidak, jangan, itu tidak adil, aku tidak terbiasa makan di traktir."Jawab Gibran menolak baik-baik tawaran Rose.


Meskipun begitu mereka sama-sama sudah keluar dari mobil.


"Sudah lah, jangan banyak bicara ayo!"Ucap Rose menarik tangan Gibran tanpa ragu.


Mereka pun akhirnya sama-sama masuk ke dalam restoran itu.

__ADS_1


Sementara Gibran terasa panas dingin, karena ini juga pertama kalinya dia dekat dengan seorang perempuan dan itu membuat nya sedikit gemetar.


Setelah masuk ke dalam restoran tersebut, mereka pun memilih duduk di kursi pojok karena restoran tersebut agak sedikit ramai.


"Eh, maaf."Ucap Rose yang baru menyadari jika tangan nya masih mengengam tangan Gibran.


"Maaf sekali, aku reflek."Ucap Rose malu.


"Tidak apa."Jawab Gibran yang sebenarnya menahan rasa cangung.


"Permisi, tuan, nona, silahkan lihat menu nya."Ucap pelayan di restoran tersebut.


"Terima kasih."Ucap Rose yang kemudian mengambil dan membuka menu itu.


"Kau mau makan apa?Biar aku pesan."Ucap Rose menatap wajah Gibran.


"Sama kan saja."Ucap Gibran serba salah di tatap oleh Rose.


"Baik lah, aku mau ini dan ini, lalu minum nya ini."Ucap Rose kepada si pelayan.


"Baik, silahkan tunggu sebentar ya nona."Jawab si pelayan dengan senyum ramah nya.


Setelah tiga puluh menit kemudian makanan yang di pesan Rose pun akhirnya sampai ke meja mereka.


"Silahkan di makan tuan, nona."Ucap pelayan itu.


"Terima kasih."Ucap Gibran.


Mereka pun akhirnya mulai makan, selama makan, tidak ada yang angkat bicara, hanya terdengar suara pengunjung lain, serta sendok dan garpu yang beradu.


Namun tiba-tiba Gibran menatap Rose yang terlihat kesusahan makan dengan rambut nya yang menutupi wajah nya dan hampir terkena makanan itu.


"Rose, maaf, rambut mu."Ucap Gibran yang kemudian mengambil sesuatu dari saku celana nya dan mengikat itu di rambut Rose.


"Setelah makan kau boleh melepas nya."Ucap Gibran lagi.


"Astaga, maaf merepotkan, oh iya, apa kau akan selalu membawa ikat rambut perempuan di saku mu itu?"Tanya Rose.


"Iya, aku sudah terbiasa."Jawab Gibran yang kemudian kembali melanjutkan makan nya.


Rose kembali berfikir jika benar Gibran itu sudah memiliki seseorang yang di cintai dan di sayangi nya di masa lalu, sehingga ikat rambut saja dia membawa nya.


"Rose, mengapa kau bodoh? Biar kan saja dia? Ada apa dengan perasaan bodoh ini?"Batin Rose gelisah dengan pikiran dan perasaan nya sendiri.


Mereka pun kembali makan tampa berbicara lagi, namun sesekali saling curi pandang satu sama lain.

__ADS_1


Begitu juga dengan Gibran, yang sesekali menatap Rose yang makan dengan lahap dan itu terlihat mengemaskan di matanya.


Bersambung ....


__ADS_2