
Penyesalan memang selalu datang belakangan, tidak ada yang namanya penyesalan datang di awal. Roda kehidupan pun berputar, tidak selamanya kita merasakan kebahagiaan dan tidak selamanya kita diurung kesedihan. Kini, Aidanlah yang merasakan kesedihan itu, rasa sedih itu mulai bergelung di sanubarinya, namun semuanya juga karena tindak tanduknya selama ini yang dia lakukan pada istrinya sendiri.
Mungkin kesedihan yang dirasakan oleh Aidan saat ini belum seberapa rasanya dibandingkan dengan kesedihan dan kesakitan yang Deandra terima saat itu. Kemarahan Papa Harland, tinjuan tangan pria paruh baya itu hanya sekedar melukai secara fisik bukanlah batin, luka fisik bisa diobati dan cepat sembuh, namun berbeda hal dengan luka batin butuh waktu lama untuk mengobatinya.
Pria itu masih bersimpuh di hadapan mertuanya, dan membiarkan dirinya dicaci maki di depan umum, dia menerimanya dengan lapang dada. Apa yang dilakukan oleh Aidan saat ini membuat sang asisten benar-benar tercengang, melihat tuannya yang begitu berwibawa, berkarisma ternyata bisa merendahkan harga dirinya demi seorang wanita, yaitu Deandra.
“A-aku benar-benar telah bersalah Om, a-aku benar-benar menyesali semuanya,” ucap Aidan begitu lirih.
“Om tidak perduli!” sentak Papa Harland, lalu dia meninggalkan Aidan begitu saja.
“Jangan sampai pria itu masuk ke dalam studio lagi!” perintah Papa Harland dengan tegasnya pada petugas security sebelum dia masuk ke dalam studio.
“Baik Pak,” jawab serempak para pria berseragam safari itu.
Kedua bahu Aidan pun melorot seketika itu juga, dunianya terasa dijungkir balikkan oleh Papa Harland, seperti tidak ada lagi harapan untuk dirinya, bersamaan itu pula Karno dan Lucky membantu Aidan untuk bangkit dari bersimpuhnya dan memapahnya masuk ke dalam mobil.
Tanpa sepengetahuan Aidan, sejak pagi Papa Harland sudah membuat gonjang ganjing terkait dengan perusahaan Zen Zero milik Aidan, hingga saham perusahaan milik menantunya anjlok terjun bebas di bursa pasar saham, dan hal ini belum disadari oleh Aidan dan Lucky.
Sakit hatinya orang tua akan lebih sakit pembalasannya, setetes buliran bening yang jatuh di pipi putrinya, maka harus di balas dengan ribuan kesakitan melebihi air mata yang sudah dikeluarkan oleh putrinya. Begitulah apa yang dirasakan oleh Papa Harland sangking sayangnya dengan putri yang baru dia temukan itu.
Netra pria itu mulai memerah, menahan diri untuk tidak menjatuhkan air matanya, namun sayangnya buliran bening itu mendesak untuk keluar dari ujung ekor netranya, hingga akhirnya lolos begitu saja tanpa permisi terlebih dahulu.
Aidan tergugu menatap bangunan studio dimana istri pencuri hatinya berada, ternyata sesakit ini rasanya jika harus terpaksa berpisah, dan dia tidak menginginkannya.
“Karno minta anak buahmu selalu mengawasi istri saya, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya,” pinta Aidan masih menatap bangunan itu.
“Baik Tuan.”
__ADS_1
Lucky yang baru saja menerima telepon dan menerima kabar buruk dari kantor, agak bingung untuk menyampaikannya pada tuannya, sementara keadaan tuannya sedang kacau balau seperti ini.
“Tuan sepertinya kita harus segera ke perusahaan Zen Zero,” ucap Lucky penuh ke hati-hatian.
Aidan terpaksa mengalihkan tatapannya. “Kenapa?”
“Be-begini Tuan, saham perusahaan anjlok hari ini,” jawab Lucky begitu pelan, dirinya takut tuannya kena serangan jantung mendadak.
Seketika itu juga Aidan membeku dan bergeming, kabar buruk apalagi ini! Kenapa tidak ada angin topan, tidak ada hujan, petir datang menghampirinya, pikir Aidan. Lucky tidak melanjutkan perkataannya setelah melihat reaksi tuannya yang sedikit menakutkan kalau menurut Lucky, padahal hanya diam saja namun auranyalah yang semakin mencekam.
“Ke kantor sekarang juga,” perintah Aidan.
“Tapi Tuan, apa tidak sebaiknya kita ke klinik dulu untuk mengobati lukanya Tuan,” ucap Lucky.
“Tidak perlu! Jalan sekarang!” perintah Aidan.
Aidan kembali menoleh bangunan studio itu, tangannya pun menyentuh kaca mobil seakan melambai pada Deandra. “Luka di wajahku belum seberapa sakitnya dibandingkan luka di hatimu, maafkan aku sayang ... sungguh maafkan suamimu ini yang telah menyia-nyiakan dirimu. Aku akan tetap memperjuangkan cintaku yang hanya untukmu seorang, sayang,” batin Aidan begitu pilu rasanya.
Mobil yang ditumpangi oleh Aidan akhirnya meninggalkan studio, sedangkan Deandra yang ternyata sejak tadi berdiri dengan jendela studio, melepaskan kepergian suaminya sembari mengusap perutnya.
“Begitu besarkah kamu mencintaiku hingga rela dipukul oleh Papa? Tapi itu belum seberapa dengan luka yang selalu kamu torehkan untukku selama ini,” gumam Deandra sendiri.
...----------------...
Setibanya di perusahan Zen Zero, kedatangannya langsung dicecar oleh relasi bisnisnya yang ikut bekerja sama dengan perusahaannya setelah melihat bursa saham anjlok dari harga pasaran. Aidan dan Lucky dibuat kelimpungan dengan kedatangan mereka semua, dan otomatis hari menjelang sore diadakan rapat direksi demi menenangi kejadian yang luar biasa ini, karena selama berbisnis belum pernah terjadi hal seperti ini.
Dengan wajah lebamnya dan tidak dia tutupi, pria itu memimpin rapat dadakan tersebut, dan terus terang juga mereka yang hadir agak terkejut melihat Aidan sudah bisa berjalan dan tidak menggunakan kursi roda lagi.
__ADS_1
Pikiran Aidan benar-benar bercabang antara memikirkan Deandra dan perusahaan karena menyangkut kelangsungan hidup ribuan karyawan yang mengantungkan hidupnya di perusahaannya. Dengan kemampuan negosiasinya Aidan meminta relasi nya untuk tenang dan meminta waktu untuk mengusut kekacauan ini, dan akan segera membuat sahamnya serta bisnisnya kembali naik dan menguntungkan banyak pihak.
“Lucky, cek siapa yang membuat isu-isu tersebut hingga saham perusahaan saya anjlok!” sentak Aidan dengan emosinya yang menggebu-gebu.
Sebelum Aidan meminta laporan tersebut, Lucky sudah berinisiatif untuk minta tema IT dan PR mengusut isu yang mampu menjatuhkan saham. Sang asisten agak keluh lidahnya saat ingin memberikan laporan tersebut, akan tetapi tetap harus dia laporkan.
“Ini hasil sementara yang telah kami dapatkan,” kata Lucky agak bergetar tangan Lucky saat memberikan berkas laporan tersebut.
Diraihnya kertas laporan tersebut dari tangan Lucky, kemudian netranya mulai membaca apa yang ditemukan oleh karyawannya.
Lagi-lagi pria itu membeku dan tubuhnya akhirnya terjatuh duduk di kursi kebesarannya setelah tahu siapa yang telah mencampur tangan dan menggoyangkan perusahannya.
“Om Harland,” gumam Aidan begitu lirih, kedua tangannya pun menangkup wajahnya.
Siapa sangka kekacauan yang terjadi di perusahaan karena ulah Papa Harland, mertuanya sendiri. Sejak awal sudah dihimbau jangan main-main dengan anaknya! Perusahaan Papa Harland lebih besar ketimbang perusahaan Aidan, dengan menjentikkan jemari saja perusahaan Aidan bisa jatuh bangkrut, tapi untuk saat ini hanya guncangan kecil saja, namun sudah terjadi huru hara.
Papa Harland tersenyum lebar sembari menyeruput coffe lattenya setelah mendapat kabar kegaduhan yang terjadi di perusahaan Zen Zero dari anak buahnya.
“Selamat menikmati Aidan, ini pelajaran buat kamu!”
Bersambung ...
__ADS_1