
Hari demi hari dilalui dengan beragam rasa, baik itu bahagia atau sedih, mereka lalui bersama-sama. Kesehatan kandungan Deandra semakin membaik, perutnya semakin menonjol. Aidan sungguh membuktikan segala ucapannya sebagai suami siaga dan mencurahkan cinta dan kasih sayang untuk istrinya seorang.
Seperti masa-masa saat ini Aidan rela tinggal di Singapura dalam beberapa bulan ini, bukan berarti meninggalkan perusahaan Zen Zeo dan Nationalty, semuanya tetap terhandel walau dengan jarak jauh, dan sesekali izin sama sang istri jika memang ada keadaan darurat di perusahaannya dan mengharuskan dia ke Indonesia.
Masa mengandung Deandra juga semakin dia nikmati, ada beberapa kegiatan yang dia terima dengan seizin suaminya dan masih dinaungi oleh perusahaan Papa Harland yang kelak akan menjadi miliknya, yaitu tetap menjadi bintang iklan untuk beberapa produk susu hamil, produk kecantikan, namanya pun semakin terkenal di Indonesia dan status dirinya sebagai istri pengusaha pun sudah dipublish oleh Aidan sendiri.
Aidan semakin lama menikmati arti dari rumah tangga yang sesungguhnya, bukan sekedar memberi tapi juga menerima, dan saling belajar memahami dan selalu komunikasi. Belajar dari rumah tangganya di masa lalu, tapi bukan berarti membandingkan istri dengan mantan istri.
Enam bulan sudah berlalu ...
Matahari tampak mendung diselimuti awan hitam, wanita yang kini semakin besar perutnya tampak menyandarkan kepalanya di samping bahu suaminya, sesekali dia menyeka air matanya yang masih jatuh membasahi pipinya. Aidan merangkul bahu istrinya, dan sesekali menarik napasnya dalam-dalam. Mereka semua sama-sama melihat sosok yang kini tubuhnya sudah terbungkus dengan kain kafan dan siap dimasukkan ke liang kubur.
Kabar duka yang sangat mengejutkan yang diterima oleh Aidan dan Deandra dari pihak kepolisian di Indonesia, hingga mereka berdua memutuskan untuk pulang dan mengurus berita duka tersebut.
Ya, Poppy Naveah akhirnya menutup usianya di lapas wanita setelah terjadi perkelahian di sel sesama tahanan. Dia merenggang nyawa setelah mendapatkan tusukkan di bagian jantungnya. Mau seberapa buruk sosok Poppy, tetap wanita itu pernah menjadi bagian hidup Aidan, begitu pula dengan bagi Deandra walau Poppy bukan sosok kakak angkat yang baik.
Papa Ernest dengan kawalan Polisi hanya bisa tertunduk dengan berkali-kali menahan rasa kesedihannya, kehilangan anak satu-satunya akhirnya terjadi juga, lalu kemana Mama Daisy?” Jelas dia tidak bisa datang, baru mendapat kabar kematian Poppy saja sudah berteriak histeris, kejiwaan semakin terganggu.
Usai pemakaman selesai, Deandra sempat menyapa Papa Ernest, tapi mereka tidak banyak bicara. Pria paruh baya itu tersenyum getir melihat Deandra dengan perutnya yang semakin bulat, dan wajahnya tampak berseri-seri. Sayang semuanya sudah berlalu, dan tak perlu disesalkan, mau berandai-andai untuk merubah keburukan menjadi kebaikan di saat masa lalu pun sudah tidak bisa.
Aidan mengajak istrinya untuk pulang ke mansion Papa Ricardo, karena mereka semua sudah kangen ingin berjumpa setelah sekian bulan tidak bertemu, Deandra pun mengiyakannya.
Setibanya mereka di sana, Deandra dibuat takjub dengan dekorasi penyambutan, seperti mengadakan baby shower saja. Tapi kalau dihitung-hitung usia kandung Deandra sudah masuk 7 bulan lebih.
“Selamat datang anak Mama,” sambut hangat Mama Amber dengan cerianya langsung memeluk menantunya tersebut.
__ADS_1
“Selamat datang Kakak Iparku yang semakin cantik dan sexy ini,” susul Elena langsung merentangkan kedua tangannya pada Deandra yang baru saja usai memeluk Mama Amber.
“Kangen sama Kak Elena,” jawab Deandra agak merengek pada adik iparnya tapi berasa punya kakak perempuan, mereka pun saling berpelukan, melepas rindu.
“Elena jangan kencang-kencang peluknya, nanti anak-anak Kakak bisa penyet di dalam perut mamanya,” gerutu Aidan.
“Ish Kak Aidan semakin lama kok semakin cerewet ya, dulu gak secerewet ini loh, posesif banget sih jadi suami,” gerutu Elena sambil mencebikkan bibirnya.
Deandra terkekeh kecil. “Baru tahu Kak Aidan cerewet ya, aku aja gak nyangka ternyata bawelnya bukan main, tapi—“ wanita itu mengantungkan ucapannya lalu mencium pipi suaminya. “Aku suka kalau papanya anak-anakku bawel begini ketimbang diam,” lanjut kata Deandra.
Duh pipi Aidan jadi memerah karena pujian istrinya, mana di depan orang banyak lagi, perhatian kecil seperti ini aja bikan Aidan klepek-klepek. Rupanya Mama Amber mengundang teman-teman pengajiannya untuk memperkenalkan menantunya sekalian selamatan sibaby twin biar lancar menuju hari lahirnya.
“So sweet banget sih, kapan ya aku punya suami,” gerutu Elena.
“Ya udah cepetan cari yang sayang dan cinta sama kamu, jangan lihat isi dompetnya,” balas Aidan, netranya melirik Lucky yang keberadaannya tak jauh dari mereka.
Lucky sejak lama sudah jatuh hati sama adik bosnya tapi sayang dia tipe minder juga. Secara pendidikan Lucky lulusan S2, jangan salah ya jabatan asisten pribadi CEO atau pemilik perusahaan itu tinggi dan merupakan salah satu tangan kanan Bos, jadi bukan sembarangan orang.
Wajah Lucky juga tidak jelek-jelek amat, masih tergolong enak dipandang walau tidak seganteng tuannya.
“Mmm Tuan Aidan, kalau boleh saya izin ... boleh gak saya deketin Non Elena, soalnya saya udah suka Non Elena dari dulu,” ungkap Lucky, akhirnya dia buka suara, dirinya sudah lelah menahan rasa sukanya. Kali ini yang terpenting dia mengungkapkan isi hatinya, mau diterima syukur, gak diterima ya sudah, yang penting usaha. Aidan tersenyum lebar, dan menepuk bahu asistennya.
Elena yang masih ada di sana, sudah jelas melebar kedua netranya saat mendengar kejujuran Lucky.
“Saya memang bukan dari keluarga kaya, tapi saya punya cinta dan sayang buat Non Elena, saya sudah jatuh cinta sama Non Elena sejak dulu," ucap Lucky dengan tatapan hangatnya, kembali berkata terus terang.
__ADS_1
Demi Tuhan, Elena rasanya pengen pingsan mendengarnya. Lucky yang selama ini dia kenal agak kaku itu, tiba-tiba mengungkapkan cintanya.
Deandra menggeser posisinya berdirinya dan sedikit mencondongkan dirinya ke Elena.”Kak Elena, lebih indah dicintai ketimbang mencintai, dan lama-lama cinta akan hadir dengan seiringnya waktu, buka hatimu Kak Elena. Pak Lucky pria yang baik,” bisik Deandra.
Wanita itu tampak terdiam, dan mencerna perkataan Kakak iparnya. Apa salahnya mencoba dijalani, siapa tahu cocok.
“Saya sedang tidak cari pacar, inginnya cari istri. Kalau Non Elena tidak mau juga tidak pa-pa, saya hanya ingin mengungkapkan hati saya biar tidak menyesal, bukankah cinta tidak bisa dipaksakan,” ucap Lucky.
Wanita itu mendongakkan wajahnya lalu menatap Lucky. “Mas Lucky ini bagaimana sih, belum maju untuk bertempur, kok udah langsung mundur. Katanya cinta dan sayang sama saya tapi udah pasrah begitu aja, ngimana ceritanya mending tadi gak usah katakan cinta!” Elena mendesah sebal dibuatnya.
Lucky mengaruk-ngaruk kepalanya yang tidak terasa gatal itu, lalu dia menatap Aidan. “Tuan, saya bingung maksudnya dari Non Elena, bagaimana ya?”
Aidan menepuk keningnya melihat asistennya tiba-tiba loadingnya lama, biasanya cepat, tapi memang begitu sih kalau udah masalah perasaan bikin orang tiba blank pikirannya.
“Astagfirulloh munaroh, maksud adik saya itu dia mau kasih kesempatan buat kamu, eeh malah kamu mundur,” jawab Aidan.
Netra Lucky berbinar-binar dan dia menatap Elena kembali. “Ya benar Non Elena, saya diterima jadi calon suami nih?” tanya Lucky semangat 45.
“Percobaan selama 1 bulan dulu, pengen tahu sampai di mana sayang ama cintanya sama saya. Terus gak usah pakai non lagi panggilnya,” jawab Elena suaranya begitu pelan.
“Alhamdulillah, makasih ya Allah,” Lucky langsung sujud syukur. Mereka semua jadi ikutan terkejut melihat kebahagian si jomblo akut. Ya begitulah rahasia jodoh, sudah cari sejauh mungkin ternyata orangnya ada di samping kita sendiri.
__ADS_1