
Kamar 405
Poppy tersenyum lebar setelah menyuruh orang memasang kamera tersembunyi di dalam kamar tersebut di beberapa titik, dan kamera tersembunyi itu akan tersambung di ponselnya.
“Tamat riwayatmu Deandra, nasibmu ada ditanganku. Dengan rekaman adegan hotmu kupastikan perusahaan nusantara akan kembali ke tanganku, dan kamu juga akan menjadi seorang janda. Mana mau Kak Aidan memiliki istri yang berselingkuh, bukankah begitu,” gumam Poppy sendiri, netranya menajam dan tersenyum penuh arti saat menatap ranjang king size yang akan menjadi tempat saksi pergumulan Deandra dengan Arik.
Dirasa sudah selesai rencananya, baru Poppy keluar dari kamar 405, lalu masuk ke kamar 406 sebagai tempat persembunyiannya, dia sudah terlihat tak sabar menanti hal yang akan menjadi kunci membalas Deandra.
Sementara itu kembali ke restoran ...
Arik tersenyum hangat saat melihat Deandra menyeruput jus alpukat kesukaannya. Arik semasa Deandra masih culun memang sengaja mendekatinya hanya sebagai kamuflase menutupi hubungannya dengan Poppy, namun semakin lama mengenal Deandra justru Arik terjebak dengan perasaannya sendiri hingga benar-benar jatuh cinta pada wanita culun tersebut.
Hari-harinya setelah Deandra mengakhiri hubungan dengan Arik, pria itu mencoba memberikan ruang untuk Deandra berpikir, namun semakin melihat perubahan pada diri Deandra membuat gejolak hatinya semakin ingin mengejar Deandra, pria mana yang tidak semakin mencintai kekasihnya yang semakin cantik, seperti itulah Arik, kini sudah saatnya dia memiliki Deandra dan dia yakin jika Deandra pasti masih mencintai dirinya.
“Dimakan dulu makanan, Dea,” pinta Arik, melihat steak ayamnya belum disentuh.
“Iya, Mas Arik.”
Wanita itu mulai mengiris kecil-kecil steak ayamnya dan mulai menikmatinya dengan mencampurkannya pakai saos mushroom. Begitu juga Arik menikmati makanan miliknya sendiri, sesekali ujung ekornya melirik Deandra.
15 menit kemudian ...
Kepala Deandra terasa berat, pusing dan sedikit gerah padahal suhu ruangan restoran ini sangat dingin AC-nya, tapi buat dia terasa gerah.
“Kamu kenapa, Dea?” tanya Arik penuh perhatian.
Tangan Deandra berulang kali meminat pangkal hidungnya berharap rasa pusingnya hilang. “Kepalaku pusing sekali Mas, dan kok kayaknya di sini panas ya,” keluh Deandra, wajahnya mulai tampak memerah.
“Kamu kurang enak badan, bagaimana kalau kamu istirahat di kamar dulu sebentar. Aku pesan kamar dulu buat kamu bagaimana?” usul Arik dengan menunjukkan wajah khawatirnya.
Deandra menggelengkan kepalanya, tidak menyetujui usul Arik, pikir dia hanya pusing sesaat, yang sebentar lagi akan reda. Sejenak dia memejamkan netranya, sedangkan Arik beranjak dari duduknya lalu merangkul bahu Deandra.
“Wajah kamu sudah pucat sekali, sebaiknya kamu memang harus tiduran sebentar di kamar,” ajak Arik.
Deandra mencoba membuka netranya dan malah semakin berputar penglihatannya, belum lagi tubuhnya juga semakin memanas, dan rasanya ingin melepaskan bajunya dan berendam di air dingin.
“Yuk sayang, aku bukakan kamar ya.” Arik masih berusaha mengajak Deandra.
Dengan keadaan seperti orang mabuk, Deandra mengangguk lemah karena dirinya sudah tak kuasa lagi, apalagi sentuhan tangan Arik yang berada di kedua bahunya membuat dirinya berdesir.
Arik dengan senang hatinya membantu Deandra bangkit dari duduknya dan memapah wanita itu. Ah Karno langsung meraup wajahnya dengan kasar saat melihat Arik merangkul pinggang Deandra.
“Ayo Tuan cepatlah sampai ke sini, apa perlu saya yang menghajar pria itu!” geram Karno melihatnya.
“Nyonya kenapa kelihatan sakit, bukan tadi kelihatan baik-baik saja ya?” tanya Karno sendiri, tanpa banyak pikir lagi. Karno melihat gelas yang diminum oleh Deandra, tatapannya mulai curiga, lalu dia bergegas ke meja tersebut untuk mengambil gelasnya. Lanjut dia segera mencari keberadaan Arik dan Deandra.
__ADS_1
“Shit ... kemana sih ajudannya Nyonya, keadaan lagi gawat begini!” kesal sendiri Karno dengan membawa gelas, bodo amat kalau waiters restorannya mencaci makinya karena membawa gelas restoran.
Jejak Arik akhirnya ditemukan oleh Karno, dengan gaya menguntitnya sang ajudan Aidan mengikuti Arik menuju lantai 4. Salah satu tangan Karno sigap mengirim pesan suara pada tuan mudanya.
“Tuan Aidan, gawat Nyonya dibawa ke kamar lantai 4 sama Arik dan wajahnya Nyonya terlihat pucat!” begitulah pesan suara yang diterima oleh Aidan.
Semakin memerahlah wajah Aidan yang masih berada di dalam perjalanannya, dadanya sudah kelihatan naik turun, hatinya sudah ingin meluapkan emosinya.
“Lucky! Ngebut bawa mobilnya!” teriak Aidan dalam mobil. Hampir saja Lucky kena serangan jantung mendengarnya, tapi refleks sang asisten menambahkan kecepatan mengemudinya 120/km, semoga saja tidak kena tilang.
Tubuh Deandra kali ini benar-benar tidak bisa dikendalikan apalagi tangan Arik merangkul di pinggangnya, entah kenapa ada sensasi yang menggelitik di dalam perutnya, seakan ada yang keinginan yang menuntut untuk lebih.
“Ada apa dengan diriku, kenapa begini,” batin Deandra bingung.
Arik memapah Deandra dan mengajaknya masuk ke kamar nomor 405, setelah itu membawanya ke atas ranjang lalu direbahkannya tubuh Deandra, kemudian dia duduk di tepi ranjang di sisi Deandra.
“Sekarang kamu istirahat dulu ya,” pinta Arik, dia sengaja mengusap wajah Deandra seakan menambahkan sensasi yang bergejolak di dalam tubuh Deandra.
“Mas ...” Mendesah Deandra hanya gara-gara sentuhan tangan Arik di wajahnya, wanita itu pun mengatup bibirnya, dirinya berusaha melawan gejolak aneh yang mulai menyerang dirinya hingga membuat dirinya semakin sakit kepala.
“Kenapa sayang, kamu membutuhkan sesuatu?” tanya Arik, tangannya turun menyentuh leher jenjang Deandra, hingga tubuh wanita itu menggeliat. Arik sangat paham jika Deandra butuh sentuhan lebih dari ini.
“Panas Mas, aku gerah Mas, kepalaku semakin sakit, tolong AC nya dinaikkan suhunya.” Ingin sekali dia membuka bajunya tapi ada Arik yang bukan suaminya.
“Aku punya obatnya agar kamu tidak kepanasan lagi, kamu mau?” tawar Arik tersenyum sinis.
Deandra menganggukkan kepalanya dengan cepat, “Mana Mas obatnya, aku mau ... tubuhku terasa aneh,” pinta Deandra.
Arik semakin mendekatkan wajahnya dan langsung membungkam bibir Deandra, dilumaatnya dengan cepat, dan tubuhnya sudah berada di atas tubuh Deandra. Wanita itu benar-benar kaget, kedua tangannya memukul bahu Arik dengan sekuat tenaganya.
“AAKH!”
“BRENGSEK KAMU MAS ARIK!” jerit Deandra yang berhasil menggigit bibir Arik, kemudian dia berusaha bangun dari atas ranjang, tapi sayangnya Arik kembali merengkuh tubuh Deandra, dan mengunci pergerakan wanita itu.
“Mau kemana sayang, kamu harus melakukan sesuatu agar tubuhmu ini tidak panas sayang. Dan kamu harus menjadi milikku seutuhnya, dan tidak pergi dariku lagi. Tenang saja, aku akan bertanggungjawab dan menikahimu,” tutur Arik, wajahnya sudah dipenuhi dengan hasrat yang ingin di lepaskan pada wanita yang dia kungkung.
“Lepaskan aku Mas, kamu jahat Mas Arik! Jangan bilang kamu memberikan sesuatu padaku!” Deandra meronta-ronta, namun tubuhnya tidak bisa diajak kompromi karena menyukai sentuhan Arik yang mulai menyesap lehernya, lalu menyentuh dan meremas buah dadanya.
“Tolong Mas Arik, hentikan! Aku sudah menikah!” teriak Deandra, netranya pun sudah mengeluarkan buliran bening, hatinya pun terasa amat sakit.
Arik kaget sampai dia mendongakkan wajahnya. “Apa sudah menikah! Jangan menipu aku Deandra, aku tidak percaya!” jawab Arik sudah meninggikan suaranya, netranya yang berkabut gairah kini sudah diselimuti dengan rasa cemburunya.
“A-aku sudah menikah Mas, aku gak bohong.”
Tanpa basa basi lagi, pria itu semakin naik emosinya, dirobeknya kemeja yang dikenakan oleh Deandra hingga terlihat bra hitam, lalu diciumnya.
__ADS_1
“Mas, jangan ... TOLONG ... TOLONG!” teriak Deandra sekuat tenaganya sembari memberontak.
BRAKK!!
Pintu kamar didobrak sekencang mungkin dengan kekuatan kaki. Pria itu masuk dengan wajah sangarnya.
“TOLONG!” teriak Deandra yang masih berada di bawah tubuh Arik, pria itu sedang bermain di atas dadanya.
“BRENGSEK!” teriak Aidan sekencang mungkin, ditariknya kerah kemeja Arik hingga pria itu terpelanting ke belakang, dan Aidan melayangkan tendangan mautnya di atas perut Arik hingga berkali-kali, tanpa ada kata ampun.
Bersambung ...
__ADS_1