
Sungguh luar biasa kenyataan yang baru saja dia dengar bersamaan dengan bukti nyata yang diperlihatkan oleh Papa Ricardo.
Hati Aidan semakin menjadi dirundung kesesakan yang amat perih, dadanya seakan terhimpit oleh dua sisi tembok yang amat tinggi, dan dia tak mampu untuk keluar dari himpitan itu.
Buliran bening itu pun mendesak keluar dari ujung ekor mata elangnya, tangan kanannya pun mengusap-usap dadanya agar berkurang rasa sesaknya, tapi rasa sesak itu tak mau pergi, hingga terjadilah tangisan yang membuncah, antara haru, kesedihan dan kebahagiaan menjadi satu, pria itu tak bisa melukiskan perasaannya.
Menyesal ... penyesalan yang amat terdalam yang dialami oleh Aidan kali ini, andai waktu bisa diputar ulang mungkin semalam dia tidak akan memenangkan rasa ego meninggalkan istrinya yang sedang berjuang demi kedua buah hatinya, betapa pikirannya begitu pendek menuduh Deandra hamil anak pria lain sebelum mencari kebenarannya lebih lengkap, tapi ini bukanlah salah Aidan sepenuhnya, wajar dan manusiawi jika Aidan yang baru menggauli istrinya lalu tiba-tiba mengetahui istrinya hamil, suami manapun akan berpikir sama, yang membedakannya adalah cara menyelesaikannya, dengan pergi begitu saja masalah tidak akan selesai.
Aidan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, kedua bahunya bergetar. Lucky yang masih berada di sana jadi ikutan meneteskan air mata haru, dugaan dia tidak meleset rupanya.
Papa Ricardo menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Aidan, lalu mengusap lembut punggung anaknya. “Papa benar-benar minta maaf jika selama ini menutupinya, Deandra tidak bersalah, Papa yang salah, dia hanya mengikuti keinginan Papa saja.”
“A-aku ju-juga menyesal Pah, a-aku sa-sangat menyesal meninggalkan Dea semalam, a-aku bodoh yang tak bertanya terlebih dahulu. Ternyata dia hamil anakku ... dia hamil anakku!” jawab Aidan masih menangkup wajahnya, suara Aidan bergetar hebat dan terdengar sesak.
Bukankah cinta butuh perjuangan, cinta butuh pengorbanan, ada hubungan yang sangat lancar tanpa berliku-liku, tapi ada juga hubungan yang penuh lika-liku untuk menggapai kebahagiaan yang hakiki. Berjuanglah Aidan, istrimu di sana menanti perjuanganmu, dia sudah membuka hatinya untukmu, kejarlah Deandra.
Di seberang sana, berbeda negara ternyata Deandra dibuat uring-uringan dengan si calon baby twinnya, entah mengapa dia tiba-tiba ngidam pengen lihat wajah Aidan. Papa Harland jadi tak habis pikir.
“Duh nak, memangnya gak bisa ngidam yang lain, mending mengidam lihat wajah artis aja, nanti Papa undang ke sini,” keluh Papa Harland.
Wajah Deandra manyun kayak ibu bebek. Memang kepergian dia karena saran dari Papa Harland biar kondisinya tenang dan bisa bedtrest total di rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal Papa Harland, kebetulan juga Papa Harland membayar Dokter Mira untuk merawatnya sampai kondisi anaknya pulih total.
Namun, kenyataan yang kini dihadapi oleh Deandra tidak semudah yang dia bayangkan ketika dia sudah meninggalkan Indonesia, tubuhnya saja yang ada di Singapura tapi jiwanya tertinggal di negara kelahirannya.
Bayangan pergumulan dengan suaminya masih melekat jelas dipeluk matanya, bisikan kata cintanya yang masih terdengar jelas di telinganya, akan tetapi terselip rasa kecewanya saat suaminya tidak ada di sisinya, ya begitulah kondisi wanita yang sedang hamil yang suka plin-plan karena faktor hormon, jadi jangan heran.
Sekarang wanita itu masih terbaring lemah, tangannya juga masih diinfus, untuk saja rumah milik Papa Harland memiliki panorama yang indah, saat netranya terbuka bisa melihat taman hijau beserta kolam ikan koi saat pintu kaca kamarnya terbuka lebar.
__ADS_1
...----------------...
Cukup lama Aidan meratapi dirinya, sampai dia memeluk papanya dengan rasa penyesalannya yang paling dalam.
Papa Ricardo juga menyesal jika akhirnya seperti ini, skenario yang dikehendakinya tidak berjalan dengan lancar, tetap Allah lah yang memiliki kendali dari setiap kejadian maupun garis takdir yang sudah tertulis pada setiap hambanya.
“Sudahlah jangan berlarut bersedih nya, sebaiknya kita bersiap-siap menemui istrimu, seharusnya dari semalam kamu ada di sampingnya, tidak pergi begitu saja,” pinta Papa Ricardo.
Dengan netranya yang masih belum kering, Aidan menatap papanya. “Dea sudah pindah rumah sakit Pah, semalam aku sudah ke sana,” jawab Aidan tak bersemangat.
“Apa pindah! Pindah kemana!” seru Papa Ricardo terkejut, karena waktu berpamitan semalam tidak ada pembicaraan akan pindah rumah sakit oleh besannya.
“Masih dalam pencarian, Tuan Besar,” timpal Lucky.
“Papa akan menyebar team juga, kamu harus bangkit cari istrimu jika memang mencintainya dan minta maaflah!” pinta Papa Ricardo sembari bangkit dari duduknya, lalu meninggalkan Aidan.
Aidan mengusap netranya dan mencoba meredakan kesedihannya, dia harus segera mencari istrinya dan memohon ampunannya, jangan menjadi suami brengsek lagi.
“Sayang, aku akan mencarimu sampai ketemu!” gumam Aidan sendiri, sembari mengingat malam pertama mereka berdua, malam yang masih melekat diingatannya.
Satu jam kemudian ...
“Terima kasih anak-anak Mama sudah bertahan di perut Mama, kalian berdua harus sehat selalu ya sampai hari lahir kalian berdua. Mama sayang sama kalian berdua, jangan bikin Mama sedih lagi ya Nak.”
“Anak Mama, kira-kira papa cari kita gak sayang ...,” gumam Deandra sendiri sembari mengusap perutnya, kemudian dia menghela napas panjang.
__ADS_1
“Anak-anak Papa tunggu Papa ya, kalian harus kuat di perut Mama, maafin Papa yang tidak tahu dan egois sampai meninggalkan kalian bertiga, Papa akan mencari Mama dan anak Papa,” gumam Aidan saat menatap dirinya di pantulan cerminnya yang kini sudah berpakaian rapi, dan melanjutkan mencari keberadaan istrinya.
“Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah mudahkan langkah kakiku mencari keberadaan istriku, jika Deandra dan aku masih ada jodohnya, aku mohon pertemukanlah kami berdua.”
Dengan semangat 45 pria itu bergegas turun ke bawah, walau netranya masih bengkak, dan kebetulan sekali dia bertemu dengan Mama Amber, penampilannya sekarang jauh berbeda tidak seperti biasanya, Aidan sempat terhenyak melihat mamanya sudah menutup auratnya dan menggunakan hijab.
“Mah,” sapa Aidan masih agak terkejut.
Wanita paruh baya itu rupanya terlihat sendu tatapannya walau tersenyum tipis, sepertinya dia sudah dapat cerita tentang Deandra mengenai keadaan semalam dari suaminya.
“Aidan, maafkan Mama jika tidak terlalu tahu tentang kejadian semalam.” Mama Amber memeluk Aidan. “Semoga kamu bisa bertemu dengan istrimu, dan mulailah membangun rumah tangga dari awal, dan semoga rumah tangga kamu jadi keluarga sakinah, mawadah dan warahmah,” tuturnya begitu lembut.
Wanita paruh baya itu mengurai pelukannya lalu mengusap netranya yang mulai membasah. “Jika kamu tidak bisa menemui Deandra di Jakarta, mungkin sama Om Harland di bawa ke rumahnya yang ada di Singapura, selama ini Om Harland belasan tahun tinggal di sana,” lanjut kata Mama Amber.
“Mama tahu alamatnya?”
“Tahu, dan semoga saja Om kamu belum pindah rumahnya, alamat rumahnya ada di ruang kerja papa, kamu tunggu sebentar Mama ambilkan sebentar.”
“Iya Mam, aku tunggu.”
Secercah harapan mulai terlihat di depan matanya, semoga saja ini salah satu bentuk doa dan restu dari Mama Amber untuk anaknya.
Bersambung ...
Gambaran Aidan lagi momong salah satu baby twin, harap bersabar ya menuju happy ending.
__ADS_1