The Antagonist Transmigration

The Antagonist Transmigration
Bab 36: Perhatian?


__ADS_3

"Menyebalkan," kata Alden. Scarlett hanya diam saja mengamati kedua pria di depannya. Mereka terlihat dekat sekali.


Alden mengambil ponselnya lalu menghubungi restauran tempat Frank biasanya makan dengan kedua orang tuanya.


"Aku tidak punya tugas lagi. Aku pergi dulu," kata Alden pergi dengan cepat. Berharap kekasihnya masih menunggunya.


"Ku harap kekasih mu tidak memutuskan mu setelah ini," pungkas Frank dengan nada mengejeknya.


"Kamu akan merasakannya nanti. Dan saat itu aku akan membalas mu," pungkas Alden lalu lalu pergi.


Sorot mata Scarlett terlihat fokus melihat kepergian Alden. Ternyata pria itu sudah punya kekasih. Sayang sekali. Scarlett memutar kepalanya dan terperanjat saat melihat Frank menatapnya dengan ekspresi dinginnya.


"Sa.. saya pamit dulu Pak," ucap Scarlett terbata karena gugup.


****

__ADS_1


Jam satu siang sesuai dengan jadwalnya, Frank menghadiri rapatnya dengan divisi marketing. Lima menit lagi rapatnya akan di mulai. Semua tim divisi marketing belum hadir di ruang rapat.


"Ayo cepat.. cepat. Kita bisa di pecat jika terlambat satu menit saja. Belum ada yang lolos dari bos jika melanggar aturannya," ucap seorang pria kepada 4 temannya berlari menuju ruang rapat. Mereka berlari melewati Scarlett yang baru saja dari kembali dari ruangan Frank untuk mengambil laptop dan ponsel Frank yang tertinggal.


"Hei.. cepatlah.." ucap pria itu pada temannya yang masih berjalan di belakang.


"Astaga.. maaf.. maaf," ucap wanita yang tak sengaja menabrak bahu Scarlett. Mereka belum mengenal Scarlett karena masih baru.


Scarlett termenung di depan pintu ruang rapat. Entah apa yang ada di dalam kepalanya.


"Kenapa kamu hanya berdiri di sana. Rapat akan segera dimulai," ucap Frank dingin membuyarkan lamunan Scarlett. Semua anggota team marketing menatap Scarlett yang berdiri di pintu. Mereka bertanya-tanya siapa wanita yang berdiri di pintu itu. Kecuali kepala Divisi yang sudah mengenalnya. Karena satu hari yang lalu, pria itu mengantar berkas laporannya ke ruangan Scarlett.


Bekerja sebagai staf marketing memang bukan hal yang mudah. Mereka diharuskan mencapai target yang sudah di tentukan setiap bulan. Membuat strategi baru jika strategi lama tidak berjalan dengan baik dan menjanjikan.


"Bagaimana bisa kinerja kalian menurun? apa kalian tidak ingin bekerja di perusahaan ini lagi? saya sudah memberi waktu satu minggu untuk memperbaikinya," ucap Frank dengan nada tinggi. Diam, tidak ada yang berani menjawab. Ini kesalahan mereka yang kurang produktif dalam bekerja. Jika ingin mengundurkan diri secara sukarela, tentu saja tidak ada yang mau, gaji yang mereka terima sangat tinggi jika dibandingkan dengan perusahaan lain, apalagi saat pencapaian setiap bulan tercapai gaji mereka bahkan melebihi ekspektasi membuat semua lelah terbayar.

__ADS_1


"Target penjualan menurun. Barang yang di produksi tidak sebanding dengan penjualan," ujar Frank dingin.


Di tengah suasana suram dan mencekam, Scarlett tak sengaja menjatuhkan pena miliknya ke lantai. Suara pena yang jatuh itu seolah memecahkan ketegangan di ruangan itu. Semua mata tertuju pada Scarlett.


"Ma..maaf," cicit Scarlett. Ia tidak berani menatap wajah Frank yang sedang marah. Scarlett yang hanya bertugas sebagai notulen saja takut menatapnya.


"Gunakan pena yang lain," timpal Frank dingin saat Scarlett hendak menunduk ke bawah meja untuk mengambil pena miliknya. Scarlett lalu mengangguk. Meskipun ucapan pria itu terdengar dingin, namun sebenarnya ia sedang perhatian pada Scarlett. Frank tidak ingin kepala wanita itu mengenai meja, seperti yang terjadi dua hari yang lalu.


"Kami akan memperbaikinya Pak. Kami akan turun langsung ke pasar, memperhatikan setiap kebutuhan masyarakat, lalu mulai menyusun strategi pendekatan yang baru Pak," ucap kepala divisi.


"Saya beri waktu satu minggu lagi. Minggu depan saya tidak ingin mendapat berita buruk," kata Frank menatap kepala divisi marketing.


"Saya berjanji pak."


"Kita bertemu di hari yang sama minggu depan, selamat siang," Frank bangkit dari kursinya, mengambil laptopnya lalu pergi meninggalkan ruang rapat di susul dengan Scarlett yang mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Kali ini kita lolos," ucap kepala divisi lega.


"Kita harus bekerja keras lagi," lanjutnya. Anggota timnya kemudian mengangguk.


__ADS_2