
Scarlett dan Frank tiba di gedung apartemen milik Frank. Keduanya lalu turun dari dalam mobil.
"Frank.. kenapa kita ke sini? bukankah seharusnya kita kembali ke rumah?" tanya Scarlett.
"Kita kembali ke rumah besok saja," jawab Frank mengajak Scarlett berjalan menuju lobby.
"Bagiamana jika grandma mencari kita nanti."
"Tenang saja, aku sudah mengirim pesan pada Austin kalau kita tidak kembali ke rumah," kata Frank. Kalau ia mengabari neneknya, pasti neneknya tidak akan mengizinkannya.
Setibanya di dalam penthouse, Frank mengajak Scarlett duduk di sofa.
"Apa yang terjadi saat kamu ke toilet tadi?" tanya Frank menatap wajah Scarlett. Pria itu meraih tangan Scarlett dan menggenggamnya.
"Felix hampir saja melecehkan ku," jawab Scarlett seketika membuat rahang Frank mengeras. Tangannya meremas kuat jemari Scarlett.
"Sshh.." Scarlett meringis kala tangannya diremas kuat oleh Frank.
Frank tersadar, "sayang.. maafkan aku.." ucap Frank mengusap wajah Scarlett.
__ADS_1
"Aku akan memberinya pelajaran sekarang juga.." kata Frank marah, ingin sekali ia menghajar Felix.
"Seharusnya kamu langsung bilang saat kita masih di acara itu. Aku akan memberinya pelajaran di saat itu juga karena sudah berani menyentuh milikku," kata Frank menahan emosinya. Sial, ia tidak tahan lagi. Wanitanya hampir saja dilecehkan. Seharusnya ia mencari Scarlett saat tau wanitanya tidak munjung kembali. Ini kesalahannya.
"Brengsek.. aku ingin sekali menghajar wajahnya itu.." kata Frank bangkit. Sungguh, tubuhnya terasa panas sekarang. Darahnya seolah mendidih.
"Tunggu di sini, aku akan segera kembali.." kata Frank. Scarlett berdiri, menarik tangan Frank. Ia lalu menggelengkan kepalanya.
"Frank, jangan pergi.. jangan membuat keributan di sana," kata Scarlett mencegah Frank. Ia bisa melihat kemarahan di mata Frank. Ia takut pria itu salah mengambil langkah.
"Tidak akan, aku hanya memberi sedikit pelajaran padanya. Kalau aku mendiamkannya bisa jadi dia akan melakukannya lagi. Percaya padaku. Tunggu di sini, ku akan segera kembali," kata Frank pergi.
*****
Frank kembali setelah pergi hampir dua jam lamanya. Perhatian Scarlett beralih ke pintu saat mendengar suara pintu terbuka. Sejak tadi ia tidak bisa tenang karena Frank tak kunjung kembali. Panggilannya juga tidak diangkat.
"Frank... " ucap Scarlett berdiri. Ia berlari menghampiri Frank.
"Maaf membuatmu menunggu lama.." kata Frank. Di wajahnya terdapat luka lebam. Penampilannya tidak se rapi saat dia pergi tadi.
__ADS_1
"Frank.. apa yang terjadi. Kenapa wajahmu terluka.." ucap Scarlett khawatir menyentuh luka di wajah Frank.
"Hanya bermain-main sedikit saja dengan Felix."
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.." kata Frank menangkap raut khawatir di wajah kekasihnya, ia lalu mengecup bibir Scarlett.
"Bagaimana bisa kamu bilang baik-baik saja, wajahmu terluka. Ayo kita ke klinik sekarang juga," kata Scarlett.
"Tidak perlu sayang.. aku baik-baik saja. Hanya luka sedikit," balas Frank menarik Scarlett menuju sofa.
"Aku akan mengobatinya. Tunggu sebentar, aku ambil kotak obat dulu.." kata Scarlett berjalan dengan cepat mengambil kotak obat.
Setelah mengobati wajah Frank, Scarlett menyimpan kembali kotak obat yang diambilnya.
"Bagaimana keadaan Felix?" tanya Scarlett.
"Aku tidak peduli, aku meninggalkannya begitu saja dalam keadaan setengah sadar," balas Frank. Siapa yang berani mengusiknya maka orang itu akan menerima akibatnya. Scarlett menganga. Apa Frank sekuat itu. Felix terkapar, dan Frank hanya memiliki luka lebam di wajah saja.
"Berani mengusik ku, berarti siap menerima akibatnya.." kata Frank tegas.
__ADS_1