
Setelah pulang kerja, Scarlett singgah di supermarket untuk belanja kebutuhan dapurnya. Stok makanannya sudah habis.
Scarlett mendorong trolinya ke rak makanan dan minuman. Ia kemudian mengambil beberapa cemilan dan minuman.
"Scarlett.." panggil seorang wanita paruh baya membuat Scarlett mencari sumber suara itu.
"Ah, aku kira aku salah orang tadi. Kamu sedang belanja ya.." ujar wanita itu. Scarlett menganggukkan kepalanya. Scarlett sedang berpikir siapa wanita yang di depannya itu. Wajahnya seperti tidak asing. Ia mencoba mengingat-ingat wajah wanita paruh baya itu. Jika dilihat dari penampilannya ia pasti bukan orang biasa.
Ah iya, sekarang ia mengingat wanita di depannya itu. Wanita itu adalah salah satu teman sosialita ibu tirinya. Tapi ia tidak tahu nama wanita itu. Tapi setidaknya wanita di depannya ini sedikit lebih waras dari kelompok mereka yang selalu merendahkannya.
"Nonna (nenek dalam bahasa italia), Nonna..." panggil seorang anak laki-laki berusia 5 tahun menghampiri wanita paruh baya itu.
"Bisakah aku membeli makanan ini, aku belum pernah mencobanya," ucap anak itu menunjukkan cemilan yang ada ditangannya.
"Sebentar nonna lihat dulu."
"Mmm.. ganti yang lain saja ya. Ini tidak baik untuk kesehatan tubuh mu. Ayo kembalikan lagi ke tempat semula," ujar wanita paruh baya itu pada cucunya.
"Tapi aku ingin mencobanya," kata anak itu tidak tidak ingin mengembalikannya ke tempat semula.
"Tidak bisa, kalau padre dan madre mu tau kita akan kena marah ," ujar wanita itu. Scarlett hanya diam saja mengamati interaksi antara wanita itu dnegan cucunya. Anak itu berlari ke tempat dimana ia mengambil cemilannya.
__ADS_1
"Dia cucu saya.." ucap wanita itu.
"Cucu anda manis sekali Bibi a.." Scarlett tampak bingung memanggil nama wanita itu. Ia tidak tau sama sekali.
"Anneth.."
"Ah.. iya Bibi Anneth.."
"Putri dan menantu saya sedang pergi berbulan madu. Jadi dia akan tinggal bersama kami beberapa hari ini," ucap Anneth.
"Nonna bagaiman dengan ini. Ada coklatnya. Pasti ini enak?" tanya anak itu kembali setelah mengambil cemilan baru. Ia melihat gambar coklat di kemasannya dan menunjukkannya pada Anneth.
"Xander.. jangan seperti itu. Tidak sopan saat bertemu dengan orang lain dengan sikap seperti itu," ujar Anneth menegur cucunya.
"Maafkan sikapnya. Dia hanya tidak suka kepalanya di usap dan membuat rambutnya berantakan," kata Anneth.
"Oh astaga.. anak kecil ini menggemaskan sekali. Aku minta maaf karena sudah membuat rambut mu berantakan. Kakak akan memperbaikinya lagi," kata Scarlett merapikan rambut Xander.
"Aku bukan anak kecil lagi. Kata Padre mereka pergi untuk membuat adonan duku agar adik ku bisa di bawa ke rumah. Jadi sebentar lagi aku akan jadi kakak. Itu artinya aku sudah besar.." kata Xander dengan wajah datarnya.
"Pffttt.." Scarlett menahan tawanya mendengar perkataan anak itu. Anneth tertawa mendengar perkataan cucunya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tertawa. Apa itu lucu.. " tukas Xander.
"Oh tidak, tidak.. kamu menggemaskan sekali," kata Scarlett hampir saja mengacak rambut Xander kalau saja anak itu tidak memberinya instruksi.
"Ya ampun.. anak ini lucu sekali. Tadi masih ceria. Setelah bertemu dengan orang lain, wajahnya menjadi datar. Sifat siapakah yang menurun padanya," batin Scarlett. Seketika ia berpikiran ingin segera punya anak, pasti akan menyenangkan. Tapi, apakah anaknya akan dingin seperti anak kecil di depannya mengingat Frank tipe pria yang dingin dan datar kepada orang lain. Iya sudah bisa membayangkan Frank dan anak laki-laki mereka duduk bersama dengan wajah datar mereka.
"Aku Xander.." ucap anak itu mengulurkan tangannya dengan ragu-ragu.
"Nama yang bagus. Aku Scarlett. Senang bertemu dengan mu Xander," balas Scarlett menjabat tangan anak kecil itu. Xander lalu melihat kembali rak makanan mencari sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Ternyata Mia benar tentang mu," ucap Anneth membuat Scarlett tidak paham dengan perkataan Anneth.
"Kamu tidak seburuk yang terlihat ternyata," kata Anneth membuat Scarlett semakin tidak paham.
"Kau tau, meskipun Mia bersikap seperti itu pada mu. Mia sebenarnya menyayangi mu. Dia selalu membelamu saat teman-temannya mengatakan hal yang tidak baik tentang mu," kata Anneth.
Scarlett diam, bagaimana bisa Anneth berkata seperti itu. Mia tidak sebaik itu.
"Ah, sepertinya aku harus segera pergi Bibi Anneth," ujar Scarlett ingin mengakhiri pembicaraan dengan Anneth.
"Xander.. aku pergi dulu. Senang bertemu dengan mu. Bye.." kata Scarlett melambaikan tangannya pada Xander.
__ADS_1