
"Emma kamu tidak perlu minta maaf dengan wanita sombong seperti dia,"
"Dia memang harus minta maaf dan mengakui kesalahannya. Karena aku adalah korban di sini," kata Scarlett.
"Bukan hanya dia, tapi kalian juga," kata Scarlett menunjuk teman-teman Emma.
"Sombong sekali. Sebaiknya kita pergi saja dari sini. Tidak ada artinya meladeni wanita seperti dia," ucap Sofia mengajak Emma dan temannya yang lain pergi. Scarlett mengepalkan tangannya. Marah karena sudah memfitnahnya. Emma bahkan memasang senyum kemenangannya di depannya. Tak terima, Scarlett menyiram mereka dengan minuman dari meja telat di samping kirinya.
"Kurang ajar kamu," ucap Sofia marah, ia mendekati Scarlett dan menamparnya.
"Beraninya kamu," Scarlett memegang pipi kanannya yang di tampar oleh Sofia.
"Aku akan tunjukkan pada mu seperti apa itu tamparan sebenarnya," kata Scarlett dengan mata seolah berapi-api.
"Plak..plak..." tamparan keras itu mengenai wajah Sofia.
"Berhenti di sana bodoh.." ujar Scarlett menunjuk teman Sofia yang hendak melawannya. Seketika wanita itu menciut melihat tatapan tajam dari Scarlett.
__ADS_1
"Kalian bodoh sekali. Emma hanya memakai kalian sebagai alatnya saja. Lihatlah, dia bahkan tidak berani melawan ku. Dia tidak ingin disalahkan. Kalian dijadikan kambing hitam olehnya," kata Scarlett menatap jijik Emma.
Seketika suasana menjadi hening saat Frank dan Alden berjalan masuk ke dalam Cafetaria.
"Selamat siang Pak Frank," ucap karyawan menundukkan kepalanya. Seperti biasa, Frank hanya diam saja, melewati mereka.
"Apa yang terjadi di sana?" tanya Alden penasaran melihat kerumunan.
"Memangnya aku tau, kenapa kau bertanya pada ku. Apa kamu mulai pikun. Aku juga baru datang ke sini," ucap Frank meledek Alden.
"Bukankah itu Scarlett," kata Alden refleks membuat Frank mendekati kerumunan. Alden mengikuti Frank dari belakang.
"Apa yang terjadi," kata Frank dengan aura dinginnya membuat semua orang ketakutan. Frank melihat Scarlett yang terlihat berantakan. Tatapannya beralih pada Emma dan kedua temannya yang sudah basah.
"Ck... lihatlah wajah memelas nya itu. Dasar bermuka dua," cibir Scarlett menatap wajah Emma. Scarlett sangat muak dengan wanita itu. Ia yakin setelah ini dia akan berpura-pura lagi, untuk mencari simpati Frank.
"Pak Frank, saya tidak sengaja membuat sekretaris anda terjatuh. Saya sudah minta maaf padanya. Sya tau ini kesalahan saya," ucap Emma memasang wajah sedihnya. Beberapa orang terkejut saat Emma menyebut Scarlett sekretaris Frank. Mereka baru tau wajah sekretaris baru atasan mereka.
__ADS_1
"Emma sudah minta maaf, dan Scarlett malah menyiramnya dengan air. Kami juga disiram karena mengira kami sengaja mendukung Emma untuk membuatnya terjatuh. Emma tidak sengaja. Kami melihatnya sendiri," ucap Sofia membela Emma.
"Dia bahkan menampar saya Pak," adu Sofia.
"Itu karena mulutmu terlalu lancang," timpal Scarlett membuat semua orang menatapnya. Apa wanita itu tidak takut dengan atasan mereka yang saat ini sedang menunjukkan aura dingin dan marahnya.
"Mereka memang sengaja melakukannya. Emma menjulurkan kakinya saat saya lewat Pak," tukas Scarlett melakukan pembelaan terhadap dirinya. Enak saja mereka menyudutkannya.
"Saya tidak sengaja Pak, kaki saya memang terasa pegal. Saya melakukan sedikit perenggangan dan tidak tau jika Scarlett akan lewat pada saat itu," kata Emma menundukkan kepalanya.
"Hei... jelas-jelas kamu sengaja melakukannya mengingat kamu tidak menyukai ku sejak awal," ujar Scarlett.
"Apa maksud mu Scarlett. Ak___" Emma mengatupkan bibirnya saat melihat Frank mengangkat satu tangannya, mengisyaratkan agar dia diam.
"Alden.. urus kekacauan ini. Aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi di perusahaan ku," perintah Frank. Alden lalu mengangguk.
"Kamu," ucap Frank menatap Scarlett.
__ADS_1
"Ikut saya!" perintah Frank lalu pergi. Scarlett berjalan mengikuti pria itu dari belakang.