
Sebenarnya Scarlett tidak tahu apa fungsinya di sana. Frank dan Anthony tidak sedang membicarakan bisnis. Topik pembicaraan mereka tentang politik. Dan jangan lupakan Michelle yang juga ikut bergabung dengan Frank dan Anthony. Scarlett seperti patung hidup di sana. Wanita cantik itu lulusan ilmu politik, dan sepertinya ia ingin berkarir seperti ayahnya. Dari yang ia dengar, Anthony ingin mencalonkan diri sebagai gubernur untuk periode selanjutnya.
Scarlett hanya menjadi pendengar dan pengamat saja diantara ketiga manusia itu membuatnya mengantuk. Scarlett menyadari jika Michelle sepertinya menaruh perhatian dengan Frank. Siapa yang tidak tertarik dengan pria seperti Frank. Lihat saja caranya memandang Frank. Scarlett yakin setiap orang yang bertemu dengan Frank akan jatuh hati saat pertama kali bertemu. Pria itu memiliki aura memikat.
Tapi ada satu hal yang tidak Scarlett sukai dari wanita di depannya itu. Michelle secara terang-terangan menggoda Frank dengan sengaja menyentuh tangan Frank dan lengannya dan dengan sengaja ia akan melirik Scarlett seolah mengatakan jika Frank akan menjadi miliknya.
Anthony sengaja membawa putrinya. Ia berencana menjodohkan putrinya dengan Frank. Scarlett yakin dia melakukannya untuk meningkatkan popularitasnya. Setidaknya jika orang tahu putrinya berpacaran dengan salah satu keluarga Carrington, itu akan menguntungkannya untuk meraih kemenangan di pemilihan gubernur tahun depan. Mengingat keluarga Carrington sangat populer dan di segani dikalangan masyarakat. Sejauh ini mereka hampir tidak pernah terlibat skandal.
Scarlett yang mulai bosan memainkan kuku tangannya, makanannya sudah habis. Frank yang menyadarinya tertawa dalam hatinya. Scarlett terlihat lucu dimatanya, apalagi bibirnya yang sedikit dimajukan. Rasanya ia ingin mengabadikannya dalam bentuk foto.
Frank yang juga sudah bosan memilih mengakhiri pertemuan mereka.
"Mr Carrington, jika anda punya waktu luang, putri ku ingin mengajak mu bertemu lagi," ucap Anthony.
"Sekretaris ku akan mengabarinya nanti," balas Frank berbohong. Sebenarnya ia tidak ingin bertemu dengan Michelle.
__ADS_1
Frank lalu menggenggam tangan Scarlett dan membawanya keluar dari restoran. Keduanya lalu masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka sejak tadi. Sadar atau tidak, tangan Frank masih menggenggam tangan Scarlett.
"Scarlett, jika Michelle menghubungimu. Katakan saja jika aku sibuk," ucap Frank.
"Baik Pak," balas Scarlett. Ia hendak merapikan poninya namun tangannya seperti ada yang menahannya. Sepertinya ia juga tidak sadar jika sejak tadi, Frank menggenggam tangannya.
Sama-sama tersadar, Frank refleks melepaskan genggamannya. Scarlett memalingkan wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang merona.
*******
Ceklek...
Pintu ruangan Scarlett terbuka membuat fokus Scarlett teralih pada sosok pria yang berdiri di depan pintunya.
"Alden.." ujar Scarlett.
__ADS_1
"Scarlett, hari ini Frank tidak datang. Dia sedang demam. Aku membeli bubur dan sup untuknya. Bisakah kamu membantu ku untuk mengantarnya. Aku tidak sempat lagi mengantarnya. Aku harus menggantikannya menghampiri rapat penting pagi ini," ucap Alden menenteng bag berisi makanan.
"Bukannya semalam Frank baik-baik saja? kenapa bisa tiba-tiba sakit, batin Scarlett.
"Scarlett.." panggil Alden membuat Scarlett terkejut.
"Ah ya... tentu saja Alden," tukas Scarlett.
"Thanks, kamu memang teman yang baik," kata Alden menyerahkan papar bag ditangannya.
"Satu lagi, aku hampir lupa. Tolong bawa semua berkas-berkas yang ada di meja Frank termasuk dokumen yang belum kamu serahkan."
Scarlett mengangguk.
"Thanks Scarlett, maaf merepotkan mu. Aku pergi dulu," ucap Alden pamit.
__ADS_1