
Scarlett turun dari mobilnya dengan membawa tas dan laptopnya. Hari ini penampilannya sedikit berbeda. Scarlett memotong sedikit rambut panjangnya. Kali ini Scarlett memakai poni. Rambut hitam bergelombangnya ia ikat setengah dan pita rambut berwana hijau melekat di rambutnya. Gaya rambutnya yang baru membuatnya terlihat lebih muda 3 tahun dari usianya yang sekarang. Scarlett memakai dress bodycon hitam yang dipadukan dengan blazer berwarna hijau.
Kecantikan Scarlett memang tak diragukan lagi, beberapa karyawan pria yang melihat Scarlett terkesima. Wajah cantiknya banyak memikat para pria. Para wanita bahkan iri melihat wajah sempurna itu.
Di dalam lift, Scarlett sadar jika karyawan laki-laki yang ada di sana sering mencuri-curi pandang ke arahnya. Walau sebenarnya ia risih, tapi mau bagaimana lagi, ia tidak mungkin merusak wajahnya hanya untuk menghindari tatapan kagum meraka. Selagi mereka tidak berbuat yang lebih jauh.
Setibanya di ruangannya, Scarlett memeriksa ulang berkas-berkas yang akan diserahkannya pagi ini pada Frank. Sejujurnya, Scarlett sedikit sulit bekerja dengan Frank, bukan karena pekerjaannya yang banyak. Namun lebih ke masalah pribadi. Wajah Frank atasannya itu mirip dengan Frank pria yang mengkhianatinya. Scarlett berusaha bersikap profesional dengan tidak mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaannya.
Merasa berkas-berkas yang diperiksanya sudah beres, Scarlett mengantar berkas itu ke ruangan Frank. Scarlett mengetuk pintu di depannya. Tidak ada sahutan dari dalam. Sekali lagi, Scarlett mengetuk pintu ruangan Frank.
"Sepertinya dia belum datang," gumam Scarlett. Saat ia berbalik, ia tak sengaja menabrak tubuh seseorang.
__ADS_1
"Brugh.."
"Apa kamu ti__" Scarlett menutup mulutnya dengan tangannya saat menyadari siapa yang sudah ditabraknya.
"Tidak punya mata. Begitu, hmm," ujar Frank melanjutkan perkataan Scarlett seolah tahu apa yang ada di pikiran wanita di depannya. Dalam hatinya Scarlett sedang mengumpat pada dirinya sendiri. Tapi tunggu, Scarlett baru menyadari jika pria itu sepertinya baru memangkas rambutnya. Scarlett terpesona melihat ketampanan pria itu. Satu hal yang Scarlett suka dari Frank warna matanya. Hijau, warna mata yang langka di dunia. Menurut penelitian hanya ada 2 persen populasi manusia yang punya warna mata itu. Frank pun demikian melihat penampilan Scarlett hari ini, sekretarisnya itu terlihat cantik hari ini. Bukan, maksudnya bukan hari ini saja. Tapi hari ini Scarlett terlihat lebih cantik dari biasanya. Sekretarisnya itu terlihat lebih muda dari sebelumnya.
"Akh.. " pekik Scarlett saat Frank menyentil keningnya.
"Apa dia cenayang? bagaimana bisa dia tahu isi pikiran ku. Selain hebat dalam bisnis, ternyata dia hebat dalam membaca pikiran orang," batin Scarlett masuk ke dalam ruangan Frank.
"Saya hanya ingin mengantar berkas laporan keuangan perusahaan Pak," kata Scarlett menaruh dokumen di atas meja Frank.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya pamit dulu Pak," kata Scarlett.
"Tunggu.."
Spontan Scarlett menghentikan langkah kakinya. Memutar tubuhnya dan menatap Frank.
"Pria kemarin," ucap Frank diam sejenak. Scarlett mengerutkan keningnya tidak paham dengan perkataan Frank.
"Lupakan. Kembali ke ruangan mu," ucap Frank. Scarlett yang terlihat bingung hanya menganggukkan kepala lalu pergi.
Sebenarnya Frank ingin bertanya pada Scarlett tentang pria yang pulang bersamanya kemarin. Bukannya ia tidak tahu hanya saja ia ingin memastikan saja. Frank bahkan sudah tau jika Felix dan Scarlett tidak punya hubungan. Hanya saja pria itu lebih suka jika mendengarnya langsung dari Scarlett. Frank sepertinya tertarik dengan Scarlett.
__ADS_1
Apa dia akan menjilat ludahnya sekarang. Saat Penelope sepupunya mengatakan jika dia pasti akan jatuh hati dengan Scarlett. Dengan cepat Frank mengatakan tidak.