
"Astaga, Alden tidak mengatakan alamatnya," gumam Scarlett menghentikan kegiatannya yang sedang mengumpulkan dokumen yang ada di meja Frank. Scarlet mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Alden.
"Alden.. aku lupa menanyakan alamat Pak Frank," ujar Scarlett.
"Aku kira kamu sudah tau. Baiklah, aku akan mengirim alamatnya," balas Alden.
"Thanks," balas Scarlett mengakhiri panggilannya.
Tak lama kemudian Alden mengirim pesan padanya. Scarlett lalu mengambil semua dokumen yang ada di meja Frank sebelum ke luar dari ruangan itu.
Scarlett tiba di gedung apartemen tempat Frank tinggal dan memikirkan mobilnya. Gedung tersebut salah satu properti milik Carrington Company. Terletak di tengah kota dengan pemandangan yang indah serta pengamanan yang ketat. Gedung apartemen tersebut memiliki 60 lantai dan 5 blok penthouse yang ada di kantai terakhir paling atas. Scarlett berjalan masuk menuju lobby dan menemui resepsionis.
Scarlett masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka 60. Scarlett menyandarkan punggungnya ke dinding lift. Sepasang bola matanya terus melihat perubahan angka di atas pintu lift dengan ujung sepatunya yang ia goyang-goyangkan.
__ADS_1
Ting
Pintu lift terbuka. Scarlett melangkahkan kaki jenjangnya ke luar dari lift. Ia kemudian belok kanan dan berhenti di depan pintu penthouse milik Frank.
Scarlett menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia menekan bel di depannya.
Scarlett hendak menekan kembali bel di depannya namun pintunya sudah terbuka.
"Kenapa kamu lam__" ucap Frank tidak melanjutkan perkataannya saat melihat siapa yang berdiri di depan pintunya. Frank menatap sekretarisnya dari ujung rambut hingga kaki. Makin hari, rasanya sekretarisnya itu semakin cantik. Hari ini Scarlett memakai blouse putih dan rok span berbahan kulit dengan potongan rok di bagian tengah.
"Masuklah... " ucap Frank terdengar lemas berjalan menuju sofa. Scarlett mengikutinya dari belakang dengan tatapan takjub melihat penthouse mewah berlantai dua milik Frank berdindingkan kaca.
"Nona Balamy, apa kamu akan berdiri saja. Ayo silahkan duduk," ucap Frank menyandarkan tubuhnya yang terasa nyeri di sofa.
__ADS_1
"Terima kasih Pak, tapi saya harus segera kembali ke kantor. Pekerjaan saya belum selesai," kata Scarlett tidak ingin berlama-lama di sana.
"Benarkah? bagaimana jika aku perintahkan kamu bekerja dari sini saja," ujar Frank menatap Scarlett yang membulatkan kedua matanya. Sejujurnya Frank tidak ingin banyak bicara karena tubuhnya terasa sakit. Tapi bagaimana lagi, ia ingin Scarlett tetap di penthousenya.
"Tapi Pak saya tidak bisa bekerja di sini. Laptop saya ada di kantor," kata Scarlett mencari alasan.
"Periksa kembali berkas-berkas yang kamu bawa. Ada beberapa yang belum rampung. Sepertinya kamu tidak teliti dalam memeriksanya," ujar Frank tidak berbohong. Ia memang beberapa kali menemukan laporan dari setiap divisi yang diberikan Scarlett padanya masih berantakan.
"Saya akan membawanya kembali ke kantor kalau begitu," ujar Scarlett membuat Frank tak habis pikir dengan sikap keras kepala Scarlett. Sepertinya mereka memiliki sifat yang sama.
"Berikan makanan ku, aku lapar sekali," ujar Frank tidak tahan lagi. Perutnya sudah keroncongan. Tubuhnya mengeluarkan keringat. Ia belum sarapan sejak tadi dan sekarang sudah hampir jam 10.
"Ah iya, ini Pak," ujar Scarlett hampir lupa memberikan sarapan untuk Frank.
__ADS_1
Frank membuka kotak makanannya dengan lemas dan sialnya makanannya sudah dingin. Rasanya ia tidak sanggup lagi berjalan menuju dapurnya hanya untuk memanaskan makanannya.
"Scarlett, bisakah kamu membantu ku untuk memanaskan kembali makanan ini. Aku tidak sanggup lagi berjalan ke dapur. Tubuhku lemas sekali," ucap Frank dengan keringat yang sudah bercucuran di dahinya. Melihat wajah Frank yang semakin pucat, membuat Scarlett iba pada pria itu. Dengan cepat ia mengambil kotak makanan di atas meja dan membawanya ke dapur. Scarlett memanaskannya di dalam microwave.