
Scarlett tidur dengan membenamkan wajahnya di dada Frank dan memeluknya. Begitu juga dengan Frank memeluknya. Pria itu mengusap lembut punggung Scarlett. Sesekali ia mengecup kepala Scarlett.
"Frank..." ucap Scarlett mendongak, menatap wajah Frank.
"Ya sayang.."
"Apa masih sakit?" tanya Scarlett menyentuh lebam di wajah Frank.
"Tidak.. aku sudah bilang ini tidak sesakit yang kamu pikirkan," balas Frank mengecup bibir Scarlett. Wanita itu kembali membenamkan wajahnya di dada Frank.
"Apa kamu masih memiliki rasa dengannya?" tanya Frank membuat Scarlett mengerutkan keningnya.
"Maksudmu bagaimana?" tanya Scarlett menatap Frank.
"Sebenarnya sebelum kita menjadi sepasang kekasih, aku sering bertanya semua tentang dirimu pada Penelope. Termasuk kamu yang dulu sangat mencintai Felix," kata Frank.
"Jadi kamu tahu tentang itu. Sebenarnya aku ingin mengatakannya tadi padamu," kata Scarlett.
__ADS_1
"Itu dulu. Percayalah, sekarang aku tidak memiliki rasa sedikitpun dengannya. Aku hanya mencintaimu. Dulu aku terlalu bodoh, mencintai seseorang yang jelas-jelas aku sudah tahu dia tidak mencintaiku," kata Scarlett mengusap rahang Frank.
"Dan sejak aku menjauh darinya, semuanya seolah terbalik. Dia malah mengejar ku."
"Apa kamu meragukan ku?" tanya Scarlett. Frank menggeleng.
"Aku percaya padamu," jawab Frank mengusap rambut kepala Scarlett.
"Dan sepertinya kita harus segera menikah agar si Felix sialan itu tidak bisa mengganggumu lagi," ujar Frank membuat Scarlett membulatkan kedua matanya. Yang benar saja. Ia bahkan belum mengenalkan Frank pada ayahnya.
"Jadi maukah kamu menikah denganku Nona Scarlett Balamy," ujar Frank.
"Bisa dikatakan begitu," balas Frank mengedipkan matanya.
Scarlett memukul dada Frank. "Yang benar saja kamu melamar ku seperti ini. Dimana-mana pria kalau melamar wanita itu dengan acara yang romantis. Pria berlutut dengan cincin di tangannya. Kalau begini aku akan berpikir dua kali," kata Scarlett mengerucutkan bibirnya.
"Ralat, kita akan menikah!" ujar Frank.
__ADS_1
"Ini perintah bukan permintaan.." lanjutnya.
"Lihat.. dimana-mana kamu selalu bersikap seperti bos. Ini bukan kantor," tukas Scarlett mencubit lengan Frank. Frank lalu tertawa.
"Aku akan menemui ayahmu kalau sudah pulang dari Jepang. Aku ingin mengatakan kalau aku ingin menikahi putrinya yang sudah mengambil seluruh hatiku ini," kata Frank menunjuk dadanya. Scarlett merona, ia lalu menenggelamkan wajahnya di dada Frank.
"Aku mengantuk, aku ingin tidur.." kata Scarlett mengeratkan pelukannya.
"Baiklah, selamat malam sayang..." Frank mengecup kepala Scarlett dan mengganti lampu kamarnya dengan lampu tidur.
Pagi harinya Scarlett bangun. Dengan keadaan yang masih setengah sadar tangannya meraba-raba tempat tidur.
"Frank..." gumamnya. Ia lalu membuka kedua matanya dan melihat tempat tidur disampingnya kosong. Scarlett menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dan melirik jam di dinding.
"Astaga sudah jam 7," gumamnya merapikan rambutnya. Untung saja hari ini weekend. Scarlett turun dari atas tempat tidur. Ia lalu melangkah menuju kamar mandi. Scarlett berhenti di depan kaca wastafel untuk membasuh wajahnya. Scarlett mengikat rambut panjangnya sebelum membasuh wajahnya. Tunggu dulu, kenapa ada sesuatu yang menempel di jarinya. Scarlett terkejut saat melihat sebuah cincin melekat di jarinya.
"Astaga... apa Frank yang memberikannya," gumam Scarlett melihat cincin permata yang melingkar di jarinya.
__ADS_1
"Di serius dengan lamarannya tadi malam," batin Scarlett. Kenapa rasanya ini lebih romantis dibandingkan dengan lamaran romantis dengan pria berlutut di hadapan wanita.
"Jalan pikirannya memang berbeda.." batin Scarlett tersenyum senang.