
Frank merasa kesal karena sejak Scarlett datang ke rumah mereka, kakek dan neneknya memonopoli Scarlett. Bahkan hingga makan malam selesai, ia tidak bisa berduaan dengan kekasihnya itu. Frank duduk di sofa terpisah dengan mereka. Frank hanya menjadi pendengar di antara ketiga orang didepannya itu. Scarlett cepat berbaur dengan keluarganya, Frank senang dengan itu. Keluarganya juga menerima Scarlett dengan senang hati. Frank sepertinya tidak salah pilih.
"Kalian sepertinya harus segera mengakhiri pembicaraan karena aku akan mengantar Scarlett pulang. Ini sudah malam.." timpal Frank. Sebenarnya itu hanya akal-akalan-nya saja agar bisa berduaan dengan Scarlett.
Fictor melihat jam di dinding sudah menunjukkan angka 8. Frank memang benar. Scarlett harus pulang. Tapi dia masih ingin berbincang-bincang dengan cucu menantunya itu.
"Rasanya waktu berjalan cepat sekali," ujar Freya sedikit tidak ikhlas jika Scarlett harus pulang.
"Bagaimana jika kamu menginap di sini saja? benar kan sayang.." ujar Fictor pada istrinya.
"Ya, itu ide bagus. Kamu tidak keberatan kan nak," ujar Freya. Sebenarnya Scarlett ingin menolaknya. Hanya saja ia tidak tahu cara mengatakannya. Scarlett merasa tidak enak hati menolak permintaan Fictor dan Freya.
"Tidak usah khawatir, kamu bisa memakai pakaian Penelope. Di lemari ada beberapa pakaian yang masih baru. Bibi rasa ukuran pakaian kalian sama. Anak itu beberapa kali memang menginap di sini. Ia sengaja meninggalkan pakaiannya di sini," timpal Dakota yang baru saja datang membawa cemilan untuk mereka.
"Mm... aku ti__"
"Besok Scarlett harus bekerja mom," timpal Frank.
"Memangnya kenapa kalau bekerja. Kalian bisa pergi bersama dari sini bukan?" kata Dakota membuat Frank memilih diam.
"Kamu tidak keberatan kan nak?" tanya Freya.
__ADS_1
Scarlett akhirnya menganggukkan kepalanya. Ia melirik ke arah Frank yang menggelengkan kepalanya. Seolah mengatakan untuk menolaknya.
Apalah daya, Scarlett tidak enak hati menolak permintaan Fictor dan Freya.
"Hahhh... kenapa juga aku bawa dia ke sini. Kenapa tidak ke tempat ku saja tadi," gumam Frank.
"Aku mandi dulu.." ucap Frank berdiri lalu pergi menuju kamarnya. "Sabar Frank, hanya hari ini saja," ucapnya dalam hati.
*******
Dakota menemani Scarlett ke kamarnya. Kamar yang akan di tempati Scarlett berada di lantai 2. Rumah utama keluarga Carrington memiliki 20 kamar. Semua keluarga akan berkumpul di sana setiap akhir tahun atau bahkan jika ada acara penting.
"Tidak perlu Bibi, biar aku saja yang mengambilnya. Aku tidak ingin merepotkan mu," kata Scarlett tidak ingin merepotkan Dakota.
"Astaga.. tidak apa-apa sayang. Kamu adalah tamu kami. Bukankah tamu adalah raja.." tukas Dakota.
"Tamu juga harus menghargai tuan rumah Bibi," balas Scarlett tersenyum.
"Biarkan pelayan saja yang menemani ku. Bibi tidur saja," lanjutnya.
"Bibi tidak merasa direpotkan. Kemari, Bibi akan menunjukkan kamar Penelope," ujar Dakota mengajak Scarlett ke kamar Penelope.
__ADS_1
"Aku senang Frank membawamu ke sini," kata Dakota.
"Dia selalu menceritakan mu akhir-akhir ini," kata Dakota membuat Scarlett terkejut. Benarkah Frank seperti itu?
"Frank tidak pernah berbicara banyak tentang mantan kekasihnya sebanyak dia menceritakan tentang diri mu. Bahkan sebelum kalian berpacaran, dia sering menceritakan mu."
"Bibi penasaran dan memintanya untuk mengajak mu ke rumah ini," kata Dakota membuka pintu kamar Penelope.
"Ternyata kamu sangat cantik. Seperti yang dia ceritakan pada Bibi."
"Bibi terlalu berlebihan memujinya," balas Scarlett tertawa pelan.
"Itu fakta sayang..." balas Dakota membuka sebuah lemari.
"Lihat, ada banyak pakaian di sini. Pilih saja mana yang kamu suka."
"Baik Bibi," balas Scarlett berjalan mendekati lemari.
"Istirahatlah.. Bibi pergi dulu. Kamu bisa memanggil pelayan saja jika butuh sesuatu," ujar Dakota. Scarlett mengangguk..
"Selamat malam sayang..." Kata Dakota lalu pergi.
__ADS_1