
Felix mengajak Elizya bertemu di taman tempat dimana pertama kali Felix menyatakan cintanya pada Elizya. Felix duduk di kursi besi menunggu kedatangan Elizya.
"Apa kamu sudah lama menunggu," timpal Elizya yabg baru saja datang.
"Tidak terlalu.." balas Felix. Elizya lalu duduk di samping Felix.
"Bagaimana dengan lukamu?" tanya Elizya.
"Sudah membaik," balas Felix. Keduanya diam sejenak. Tidak ada yang memulai pembicaraan diantara mereka. Dua hari setelah Frank memberi pelajaran pada Felix, Elizya mengakhiri hubungan mereka. Felix lagi-lagi berbohong padanya soal luka yang ditubuhnya. Padahal Elizya sudah tau jika luka itu didapat karena Felix karena berkelahi dengan Frank hanya karena keduanya saling merebutkan Scarlett. Elizya tidak tahan lagi, ia memendam semuanya. Felix selalu berbohong padanya. Sungguh, ia masih mencintai pria itu seperti sebelumnya. Perasaannya masih tetap sama. Hanya saja, ia tidak bisa melanjutkan hubungan itu lagi. Yang ada mentalnya akan semakin rusak menahan semuanya sendirian. Hanya beberapa bulan saja. Perlahan rasa cintanya akan berkurang. Mungkin Felix bukanlah jodohnya. Ia hanya pahlawan baginya yang selalu melindungi dirinya jika Scarlett berbuat jahat padanya.
"Apakah tidak ada kesempatan lagi dengan hubungan kita," ujar Felix membuka pembicaraan.
Elizya menarik nafasnya dalam-dalam, menatap lurus kedepan.
"Aku tidak bisa lagi Felix. Aku sudah lelah. Mungkin kita bukan jodoh. Aku yakin kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Begitupun juga denganku. Ku harap aku mendapatkan pria yang lebih baik dalam hubungan ku selanjutnya," kata Elizya. Kata-kata terakhir Elizya membuat hati Felix sakit. Dulu ia pikir, dialah pria terbaik untuk Elizya. Tapi apa, dialah yang membuat hubungan mereka berakhir. Dia terlalu gelap mata hingga tidak bisa tegas dengan dirinya. Ia sudah memiliki wanita sebaik Elizya, tapi dia malah membagi hatinya dengan wanita lain.
"A.. aku harus segera pergi," ujar Elizya bangkit dari kursi. Ia lalu pergi meninggalkan Felix yang mematung di tempatnya.
******
Satu harian Scarlett menenangkan dirinya di tempat Frank. Memikirkan semua perkataan Elizya. Scarlett sadar, jika semua perubahan dalam dirinya itu karena ia tidak siap menerima kenyataan. Berpikir jika satu-satunya keluarga yang dimilikinya direbut orang lain. Scarlett ingin memperbaiki semuanya mulai sekarang. Ia lalu bangkit dari sofa, mengambil tasnya lalu keluar dari penthouse Frank.
Scarlett tak sengaja berpapasan dengan dua orang model ternama. Keduanya merupakan teman Elizya. Dua wanita itu menatap sinis ke arahnya.
__ADS_1
"Lihat.. dia saudara Elizya. Model yang tidak laku itu.." ucap Keren sinis.
"Oh, bukankah dia yang merusak hubungan saudaranya dengan kekasihnya," sindir Selena.
"Tutup mulutmu sialan," tukas Scarlett marah.
"Sekarang dia marah Keren.." ucap Selena terkekeh.
"Uppsss... benar-benar ******.." ujar Selena.
Scarlett menghela nafasnya, tidak ada gunanya melawan mereka. Lihat saja, Scarlett akan membuat karir mereka hancur.
"Silahkan nikmati hari kalian sebelum besok tiba," kata Scarlett menyeringai. Ia lalu pergi meninggalkan dua wanita itu.
"Scarlett..." ujar Wilson melihat putrinya masuk ke dalam rumah.
"Dad.." gumam Scarlett mendekati Wilson dan memeluknya.
"Maaf tadi Scarlett langsung pergi. Scarlett ingin menenangkan diri sebentar," kata Scarlett.
"Daddy paham nak.." kata Wilson mengecup puncak kepala putrinya.
"Maafkan Scarlett dad," kata Scarlett.
__ADS_1
"Tidak nak, daddy juga salah. Maafkan daddy yang dulu sering mengabaikan mu," balas Wilson mengusap rambut Scarlett.
"Itu karena Scarlett yang buruk dad," kata Scarlett menangis.
"Masalah pernikahan daddy dan Mia it__"
"Dad, kita sudah membicarakannya kemarin. Scarlett sudah merestuinya kalian. Jangan merasa bersalah lagi. Hanya saja, aku merasa bersalah karena selama ini sudah membenci Mia," kata Scarlett.
"Mia adalah istri dan ibu yang baik nak.." ujar Wilson. Scarlett mengangguk.
"Sayang aku membuat teh untukmu," timpal Mia yang baru saja datang ke ruang tamu dengan segelas teh di atas nampan. Mia terkejut melihat Scarlett sudah kembali. Anak itu sedang memeluk ayahnya.
Scarlett melepaskan pelukannya, menatap Mia yang berdiri tak jauh dari mereka.
"M... mom..." ucap Scarlett terbata. Kakinya melangkah mendekati Mia yang tersenyum hangat padanya. Mia lalu merentangkan tangannya agar dipeluk oleh Scarlett.
"Mom.." ucap Scarlett memeluk Mia yang sedang berkaca-kaca.
"Sudah lama mom ingin mendengar panggilan ini," kata Mia mengeratkan pelukannya.
"Scarlett minta maaf mom. Scarlett salah. Scarlett sudah jahat selama ini pada mom," ujar Scarlett menangis.
"Tidak sayang.. jangan menyalahkan dirimu. Mom juga berperan di sini. Mom tidak memikirkan bagaimana perasaanmu saat itu. Mom pikir seiring berjalannya waktu, kamu akan menerimanya. Mom pikir, mommy bisa mengambil hatimu dan menerima kenyataan. Mommy egois karena hanya memikirkan Elizya yang saat itu membutuhkan sosok seorang ayah. Sejak ia kecil, ayahnya selalu mengabaikan kami. Dia kehilangan sosok ayah meskipun ayahnya masih ada. Saat itu mom dekat dengan daddy mu. Daddy mu bilang ia membutuhkan seorang istri dan ibu untuk putrinya. Ia tidak ingin Scarlett kecil kehilangan sosok ibunya selamanya. Daddy melamar mommy karena memang kami saling mencintai. Mom ternyata gagal untuk mengambil hatimu. Mom merasa tidak berguna selama ini. Mom merasa bersalah, Elizya mendapatkan sosok ayah dan ibu sedangkan kamu malah kehilangan keduanya. Maafkan mom nak. Mom gagal. Mom egois. Maaf karena mom sering berkata kasar padamu sayang," ujar Mia menangis.
__ADS_1
Scarlett menggeleng, "Aku juga selalu berkata kasar di depan mommy dan selalu merendahkan mom. Maafkan Scarlett mom. Scarlett salah," ucap Scarlett. Wilson berjalan mendekati istri dan putrinya. Ia lalu memeluk kedua wanita itu.