
Saat masuk ke dalam rumah, Scarlett melihat ibu tirinya sedang bersama teman-temannya. Beberapa di antara mereka adalah istri dari teman bisnis ayahnya. Sekali seminggu mereka akan melakukan pertemuan. Entah apa yang mereka bahas. Yang Scarlett tahu mereka hanya menggosip saja dan juga ajang pamer.
"Scarlett, kamu semakin cantik saja," ucap seorang wanita yang memakai baju kuning stabilo dan perhiasan yang melekat di tubuhnya. Ya, mereka tentu saja memakai barang-barang mewah mengingat mereka istri dari pengusaha kaya. Kecuali Mia, ibu tirinya. Wanita itu tetap tampil modis meskipun tidak memakai banyak aksesoris mahal di tubuhnya.
"Terima kasih untuk pujiannya Bibi," balas Scarlett sedikit malas.
"Scarlett memang lebih cantik dari Elyzia," timpal yang lain membuat Scarlett sedikit meninggi. Ia sangat suka di puji. Bukan hanya dia, hampir semua orang suka di puji. "Aku ingin menjadikannya menantu ku," lanjutnya lagi.
"Aku rasa tidak akan ada pria yang mau dengannya setelah mengetahui dia yang sebenarnya," ucap wanita lain.
"Ku pikir Elyzia lebih cantik dari dia. Elyzia punya attitude yang lebih baik dari dia," sanggah seorang wanita dengan penampilan menornya menurut Scarlett. Baju yang wanita itu pakai bahkan tidak sesuai dengan usianya.
__ADS_1
"Ya, kamu benar. Wajahnya saja yang cantik. Tapi sifatnya buruk. Bahkan dia tidak memperlakukan ibunya dengan baik hanya kerena ibu tiri," ucap wanita lain menyindir Scarlett.
"Aku lebih memilih Elyzia menjadi menantu ku. Sayangnya aku tidak punya anak laki-laki,"
Scarlett mengatupkan mulutnya, menahan amarahnya. Mengepalkan kedua tangannya. Memangnya siapa yang mau menjadi menantu mereka. Scarlett bahkan harus berpikir seribu kali jika mendapatkan mertua seperti mereka. Mereka hanya menilainya dari luar saja. Tidak ada yang tahu dirinya yang sebenarnya. Scarlett hanya bersikap buruk di rumah saja. Itu pun dulu. Sekarang tidak lagi sejak jiwa Gilda memasuki tubuh Scarlett. Ia tidak pernah membuat nama keluarganya buruk di luar sana sebelumnya. Tatapannya bertemu dengan Mia, Scarlett yakin ibu tirinya itu mengatakan hal-hal buruk tentang dirinya pada teman-temannya.
"Kalian benar. Tapi setidaknya aku lebih baik dari kalian. Di luar baik meskipun di dalam buruk. Tapi kalian, luar dan dalam sama-sama buruk," ucap Scarlett menohok membuat teman-teman Mia yang sudah menghina Scarlett terbelalak dan marah.
"Seharusnya masa tua kalian gunakan untuk memperbaiki sifat buruk kalian sebelumnya. Setidaknya berbuat baiklah sebelum ajal menjemput kalian. Siapa tahu Tuhan mempertimbangkannya agar kalian tidak masuk ke neraka. Tapi kalau di pikir-pikir tidak mungkin sih," sindir Scarlett terkekeh.
"Kurang ajar. Apa maksud mu hah?"
__ADS_1
"Mia, anak tirimu ini memang tidak tahu sopan santun,"
"Sudahlah.. abaikan saja dia. Meladeninya hanya akan membuktikan ucapannya benar," timpal Mia. Kata-katanya sebenarnya mengandung makna tersirat.
"Aku dengar ada perhiasan terbaru dari Cartier. Jumlahnya juga terbatas," Mia seketika membuat ibu-ibu sosialita itu mengabaikan Scarlett. Mereka lebih tertarik dengan perkataan Mia.
"Aku ingin membelinya sebelum habis. Aku tidak ingin ketinggalan."
"Ya, aku juga."
"Dasar wanita-wanita munafik. Di depan publik mereka terlihat baik, namun sebenarnya itu hanya topeng saja. Aslinya mereka seperti ini. Yang mereka tau hanya menghabiskan uang suaminya juga," gumam Scarlett melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Bukan berarti Scarlett mengatakan semua teman ibu tirinya buruk, hanya saja kebanyakan dari mereka memang buruk.
__ADS_1