The Antagonist Transmigration

The Antagonist Transmigration
Bab 51: Menginap


__ADS_3

Frank bangun dan melihat jam di atas meja nakas di samping tempat tidurnya. Ternyata sudah sore. Tubuhnya sedikit lebih baik. Rasa pusing di kepalanya sudah hilang. Namun suhu tubuhnya tetap panas. Di keningnya tertempel plester kompres. Saat Frank tidur, Scarlett membelinya. Frank menyibakkan selimut dari tubuhnya kemudian turun dari atas tempat tidurnya.


"Scarlett pasti sudah pulang," gumam Frank tidak senang. Ia masih ingin berlama-lama dengan Scarlett. Seingatnya Scarlett bekerja dari penthousenya dan saat itu, ia mengantuk sekali. Scarlett menyarankannya untuk pindah ke kamar. Scarlett bahkan membantunya menaiki tangga karena kondisi tubuhnya yang lemah.


Frank berjalan menuruni tangga penthousenya, tatapannya tertuju pada sofa. Scarlett masih ada di sana. Duduk di sofa dengan posisi membelakangi Frank.


Pria itu berjalan mendekati Scarlett, ternyata sekretaris cantiknya itu tertidur, tangannya memeluk beberapa berkas. Tubuhnya pasti tidak nyaman tidur dengan posisi seperti itu.


Frank mensejajarkan tubuhnya dengan Scarlett, menatap wajah wanita itu sejenak. Senyuman terpatri di wajah tampannya. Frank tangannya terangkat dan bergerak lembut merapikan anak-anak rambut Scarlett yang menutupi wajahnya.


Dengan gerakan yang hati-hati, Frank mengambil dokumen yang ada di tangan Scarlett dan menaruhnya di atas meja.


Frank mengambil remote gorden dan menutup beberapa bagian ruangannya sebelum mengangkat tubuh Scarlett ala bridal style dan membawanya ke kamarnya.


"Nghh.." Scarlett menggeliat karena merasa tidurnya terganggu. Refleks Frank mengusap lembut kening Scarlett membuat wanita itu tidur kembali.


Setelah menidurkan Scarlett, Frank naik ke atas tempat tidur. Merebahkan tubuhnya di samping Scarlett.

__ADS_1


"Cup.." Frank mengecup bibir Scarlett. Frank sudah gila. Ya, pria itu gila kerena Scarlett. Frank tergila-gila dengan sekretarisnya itu. Scarlett adalah wanita pertama yang diperlakukan sangat berbeda dengan mantan-mantannya sebelumnya. Frank jatuh cinta dengan Scarlett pada pandangan pertama saat sepupunya Penelope menunjukkan wajah Scarlett lewat Vidio Call yang mereka lakukan bulan lalu.


****


Malam ini hujan turun mengguyur kota, sepasang manusia terlihat tidur dengan nyenyak di atas tempat tidur. Scarlett mengeratkan pelukannya guna menghangatkan tubuhnya yang seolah ditusuk oleh dinginnya hujan. Hembusan nafas yang menerpa wajahnya dengan dengkuran halus membuat Scarlett mengerutkan alisnya.


"Kenapa aku seperti mendengar suara dengkuran," batin Scarlett. Oh tidak, apa lagi ini. Ia merasakan pinggangnya semakin ditarik. Penasaran, Scarlett membuka matanya perlahan.


"Akh.." pekik Scarlett membuat Frank terganggu. Frank membuka matanya, melihat ekspresi terkejut dari Scarlett seperti dugaannya sebelumnya.


"Sial, apa aku memeluknya?" batin Scarlett bangun, menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Di pastikan wajahnya sudah memerah sekarang.


"A.. aku ke kamar mandi dulu," ujar Scarlett terbata. Ia sedikit kesusahan saat turun karena rok yang dipakainya. Hampir saja kakinya menyentuh lantai, pergelangan tangannya di tarik kuat oleh Frank membuatnya terjatuh hingga menindih tubuh Frank. Jarak wajah keduanya sangat dekat hingga bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain.


Tanpa aba-aba, Frank menyambar bibir kenyal Scarlett. Menciumnya dengan lembut.


Scarlett ingin menolak, tapi ia malah memejamkan matanya ketika satu tangan Frank menekan tengkuknya. Entah sadar atau tidak, Scarlett membalas ciuman pria itu.

__ADS_1


Frank semakin memperdalam ciumannya, satu tangannya melingkar di pinggang Scarlett. Bibir ini, ciuman dan luma.tan ini. Semua yang diinginkannya sejak dulu.


Ciuman keduanya semakin intens dan menggebu. Scarlett yang mulai kehabisan nafas memukul dada dada frank. Rasanya tenggorokannya begitu sesak. Frank yang paham melepaskan tautan mereka, menatap wajah Scarlett yang sedang terengah-engah. Frank tersenyum, tangannya bergerak menyelipkan helai rambut Scarlett yang menutupi wajah cantik wanita itu.


"Oh tidak, ini memalukan. Bagaimana bisa aku membalas ciumannya," batin Scarlett menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah merona. Jantungnya berdegup kencang.


"Kamu tertidur di sofa dan aku membawamu ke sini," ujar Frank mengecup singkat bibir Scarlett membuat wanita itu terbelalak. Oh tidak, siapapun tolong bawa dirinya pergi dari sana.


"A..aku harus pulang.." Scarlett gugup. Ia mencoba bangkit dari atas tubuh Frank namun pria itu menahannya.


"Di luar hujan deras, kamu yakin ingin pulang? lagi pula ini sudah malam. Menginap lah di sini," kata Frank menatap wajah Scarlett. Wanita itu memalingkan wajahnya, tidak tahan melihat Frank. Jarak mereka sangat dekat sekali.


"F..Frank.. aku ingin ke kamar mandi," cicit Scarlett. Sejak tadi siang Scarlett memanggil nama Frank tanpa embel-embel Pak.


"Baiklah.. jangan terlalu lama," ujar Frank melepaskan tangannya dari pinggang Scarlet.


Dengan cepat Scarlett berlari menuju kamar mandi. Ia butuh air untuk menenangkan wajahnya yang panas.

__ADS_1


__ADS_2