
Jam istirahat tiba, Scarlett menyiapkan semua kebutuhan rapat Frank dan Felix sebelum ia makan siang di cafetaria perusahaan yang ada di lantai 6.
Lima belas menit kemudian, Scarlett keluar dari ruang meeting menuju cafetaria. Setibanya di cafetaria, Scarlett memesan makanannya.
Di lain tempat, Frank sudah menghubungi Scarlett beberapa kali. Karena tidak ada jawaban, pria itu akhirnya mencari Scarlett ke ruang kerjanya.
"Kenapa kam__"
Kosong, ruangan Scarlett kosong. Frank melihat ponsel Scarlett di atas meja.
"Kemana perginya Scarlett," batin Frank mengambil ponsel Scarlett dari meja.
"Sepertinya ia sedang makan siang," gumam Frank keluar dari ruangan Scarlett. Pria itu lalu memastikan keberadaan Scarlett di cafetaria perusahaan.
Frank berjalan memasuki lift khusus untuknya, kemudian menekan angka 6. Setibanya di lantai 6, Frank berjalan menuju cafetaria. Karyawan yang berpapasan dengannya memberi hormat padanya.
Mata Frank mencari-cari keberadaan Scarlett di antara banyaknya karyawan yang sedang makan di cafetaria.
"Pak, apa anda sedang mencari sesuatu?" tanya karyawan yang tidak sengaja melihat Frank yang terlihat mencari sesuatu dar tempatnya.
__ADS_1
"Ya, saya sedang mencari Scarlett kekas__, maksud saya sekretaris saya," ujar Frank hampir saja mengatakan kebenarannya di depan Karyawannya. Sebenarnya ia biasa saja. Hanya saja, Scarlett akan marah padanya.
"Sepertinya sekretaris anda berada di sudut sana," ujar karyawan itu menunjuk tempat Scarlett. Frank lalu mengangguk kemudian melangkahkan kakinya menuju meja Scarlett. Semua karyawan wanita uang ada di sana melirik Frank. Diam-diam memuja pria itu dalam hati mereka. Diam-diam mereka akan mengambil foto bos mereka. Karena pria itu sangat menjaga privasinya. Bahkan di media saja fotonya hanya beberapa saja. Tidak sebanyak keluarga Carrington yang lainnya. Tak hanya karyawan wanita, beberapa karyawan laki-laki juga menatapnya. Iri dengan ketampanan dan tubuh atletis pria itu. Frank terlihat sempurna, mereka juga ingin menjadi seperti Frank. Dipuja oleh banyak wanita.
"Selamat siang Pak Frank," ucap Emma.
"Selamat siang Emma," balas Frank. Mereka yang melihat dan mendengar itu merasa iri dengan Emma. Bisa berbicara langsung dengan atasan mereka. Andai saja mereka memiliki jabatan sebagai ketua divisi pasti mereka akan sering bertemu dengan Frank.
"Apa Bapak ingin makan siang? saya akan memesannya untuk anda?" kata Emma. Ia melirik karyawan wanita di sekitarnya, memasang wajah arogannya seolah mengatakan jika ia menjadi salah satu karyawan yang dekat dengan Frank.
"Tidak perlu Emma, saya bisa sendiri," balas Frank lalu pergi. Emma kembali duduk di kursinya dengan wajah masamnya.
"Sudahlah, sebaiknya kamu jangan terlalu berharap. Kita bukan siapa-siapa dimatanya. Cukup mengaguminya saja," lanjut Star.
"Aku hanya kurang pendekatan saja," balas Emma.
"Ini juga gara-gara Scarlett. Harusnya aku yang menjadi sekretaris Frank," ujar Emma tidak terima.
***
__ADS_1
Scarlett menyadari beberapa orang di sekitarnya sedang berbisik-bisik. Ia penasaran apa yang sedang terjadi. Ia lalu mengangkat kepalanya. Kedua matanya membulat saat Frank ada di sana. Berjalan ke arahnya.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu makan siang di sini. Aku menghubungi mu sejak tadi. Ternyata ponsel mu ada di ruangan mu," kata Frank duduk di depan Scarlett.
"Memangnya kenapa Pak? aku biasanya makan di sini. Aku lupa membawa ponsel setelah menyiapkan keperluan meeting jam 1 nanti," kata Scarlett menyendok makanan di piringnya ke dalam mulutnya.
"Setidaknya kamu mengajak ku. Kita ini sepasang ke kasih sekarang," protes Frank.
"Pak ini di kantor," kata Scarlett. "Jadi saya bersikap seperti biasanya," lanjutnya. Mereka yang melihat Frank dan Scarlett hanya bisa iri. Scarlett sangat beruntung menjadi sekretaris Frank. Selalu ada di sisi Frank.
"Aku menyesal menyetujui permintaan mu," kata Frank menghela nafasnya.
"Sayang, ayolah. Aku tidak ingin seperti ini," kata Frank mulai frustasi.
"Apa anda ingin makan siang, saya akan memesannya," ujar Scarlett mengalihkan pembicaraan mereka.
"Aku hanya butuh ciuman dari mu," balas Frank. Sontak membuat Scarlett melirik sekitarnya. Jangan sampai orang lain mendengarnya.
"Saya akan memesan makan siang anda," ujar Scarlett bangkit dari kursinya. Walau sebenarnya wajahnya terasa panas.
__ADS_1