The Antagonist Transmigration

The Antagonist Transmigration
Bab 41: Urusan Mendadak


__ADS_3

Rasanya weekend begitu cepat berlalu. Entah mengapa rasanya sangat malas ketika sudah bertemu dengan hari senin. Hari dimana semua orang memulai aktivitas sibuknya. Seperti sekarang ini, Scarlett enggan bangun dari tempat tidurnya. Kalau saja alarmnya tidak berbunyi, mungkin saja ia akan melanjutkan tidurnya.


Dengan langkah yang malas, Scarlett berjalan masuk ke dalam kamar mandinya.


"Ya ampun... tidak bisakah setiap hari weekend saja," gumam Scarlett menatap wajah kusutnya di kaca wastafel. Membersihkan wajahnya dengan toner sebelum mencucinya. Setelah ini dia harus menyiapkan sarapannya sendiri. Jika memilih, Scarlett lebih suka tinggal bersama orang tuanya. Ada pelayan yang menyiapkan makanan. Bukannya ia tidak bisa memesan makanan dari luar. Hanya saja Scarlett tipe orang yang suka makan masakan rumahan.


Scarlett sedang menikmati sarapannya di meja dapurnya. Sarapannya pagi ini segelas susu dan sereal. Aktivitasnya terganggu saat ponselnya berdering. Scarlett mengambil ponselnya. Matanya membulat saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Frank menghubunginya.


"Halo.." ucap Scarlett.


"Scarlett, hari ini saya tidak datang ke kantor karena ada urusan mendadak. Tolong undur dan atur kembali semua jadwal ku hari ini," ucap Frank.


"Baik Pak," jawab Scarlett.


"Memangnya ada urusan mendadak apa Pak?" tanya Scarlett penasaran. Frank diam sejenak tidak membalas perkataan Scarlett. Seketika Scarlett tersadar. Seharusnya ia mengakhiri panggilan nya. Bukan malah bertanya terlalu jauh.

__ADS_1


"Ah, maafkan saya Pak. Saya tidak bermaksud un__"


"Kondisi kesehatan kakek sedang memburuk. Kami harus membawanya ke rumah sakit sekarang," ucap Frank memotong pembicaraan Scarlett. Scarlet menangkap nada sedih dan khawatir dari pria itu.


"I'm sorry to hear that Sir, semoga kakek anda segera pulih," ucap Scarlett simpati.


"Thanks," balas Frank. "Kalau begitu aku matikan dulu," lanjut Frank kemudian panggilan pun berakhir.


****


"Bagaimana dokter?" tanya Peter ayah Frank. Pria itu sangat mengkhawatirkan kondisi ayahnya yang sedang terbaring lemah di atas brankar.


"Kondisi tuan Fictor akan segera pulih. Beliau hanya kelelahan saja. Tuan Fictor mungkin melakukan aktifitas berat beberapa hari ini," ucap dokter itu membuat mereka lega. Dokter itu kemudian pamit.


"Dia selalu membuat kita khawatir. Aku sudah memperingatinya kemarin untuk tidak menaiki kudanya lagi," ucap Freya, wanita berusia delapan puluh tahun bangkit dari sofa dengan wajah kesal dan marahnya. Suaminya membuatnya khawatir.

__ADS_1


"Sayang.. maafkan aku," timpal Fictor merasa bersalah karena membuat istrinya khawatir. Fictor mengulurkan tangannya agar istrinya mendekat ke arahnya.


"Kali ini tidak Fictor," jawab Freya tegas pada suaminya.


"Sepertinya aku akan memindahkan kuda-kuda itu dari rumah kalian," timpal Frank tidak ingin kakeknya menaiki kuda itu lagi.


"Apa-apaan kamu Frank. Kalau kakek bosan bagaimana?"


"Makanya kamu cepatlah menikah dan berikan kami cicit agar kami tidak bosan," lanjut Fictor. Frank menghela nafasnya kasar. Keluarganya selalu memintanya untuk menikah. Frank belum menemukan wanita yang tepat.


"Grandpa sudah punya cicit dari cucumu yang lain. Jangan jadikan itu alasan untuk memprovokasi ku," kata Frank membuat Fictor menghembuskan nafasnya kasar. Cucunya yang satu ini memang keras kepala seperti ayahnya.


"Kedua orangtuamu memang tidak ingin memaksakan mu. Tapi jauh di dalam hati mereka, anaknya segera menikah. Apalagi kamu itu satu-satunya anak mereka," kata Fictor.


"Dad, sudahlah.. jangan membahasnya sekarang," ucap Dealova menantu Fictor. Wanita itu tidak ingin memaksakan kehendak mereka pada Frank. Mengingat sejak Frank kecil, anak itu harus mengikuti semua aturan dan keinginan orang tuanya karena Frank akan menjadi penerus perusahaan Carrington.

__ADS_1


__ADS_2