
Scarlett kembali dengan membawa bubur dan sup yang sudah dihangatkan.
"Sepertinya dia tertidur," gumam Scarlett melihat Frank terbaring di atas sofa.
"Frank harus sarapan dulu sebelum tidur." Scarlett menaruh nampan yang dibawanya di meja. Kakinya melangkah ke arah Frank.
"Pak... ayo bagun, sarapannya sudah siap," ucap Scarlett membangunkan Frank.
"Ya ampun, keringatnya banyak sekali. Bajunya sampai basah begini," gumam Scarlett semakin khawatir. Ia membangunkan kembali Frank dan untung saja pria itu bangun.
"Ayo Pak, anda sarapan dulu," ucap Scarlett mengambil nampan dari meja tak lupa ia juga mengambil tissue untuk melap keringat Frank.
Scarlett duduk di samping Frank, memberikan mangkuk berisi bubur ke tangan Frank.
"Minum dulu sebelum makan Pak," kata Scarlett menyodorkan air putih. Frank mengambilnya dengan tangan bergetar lalu meminumnya.
"Umm.. maaf Pak," kata Scarlett gugup, ia melap keringat di kening Frank menggunakan tissue. Frank menatap wajah cantik Scarlett yang terlihat dekat dengan wajahnya.
"Terima masih Scarlett," ujar Frank. Scarlett lalu mengangguk.
"Saya akan menghubungi dokter untuk memeriksa anda," ujar Scarlett hendak bangkit dari sofa untuk mengambil ponselnya namun tangannya di tahan oleh Frank. Scarlett bisa merasakan bagaimana panasnya tangan pria itu.
__ADS_1
"Tidak perlu, dokter sudah memeriksaku tadi pagi dan memberi ku obat," ujar Frank. Scarlett mengangguk, duduk kembali di samping Frank.
"Biar saya bantu," kata Scarlett mengambil alih mangkuk di tangan Frank. Scarlett mengambil satu sendok bubur dan mengarahkannya ke mulut Frank. Scarlett menyuapi pria itu. Ia bahkan tidak pernah menyuapi seorang pria sebelumnya. Dan Frank lah yang pertama. Pria itu sungguh beruntung.
Kening Frank kembali berkeringat, Scarlett refleks menghapus keringat di kening Frank dengan tangannya sendiri tanpa ada rasa jijik. Frank tertegun melihat bagaimana Scarlett memperlakukannya.
"Aku sudah kenyang," ujar Frank menolak suapan dari Scarlett. Lidahnya terasa pahit membuatnya kesulitan untuk menelan makanannya. Padahal buburnya baru habis seper empat.
"Pak, anda harus menghabiskannya. Setidaknya setengah saja. Anda baru makan beberapa sendok saja," ujar Scarlett. Ia tahu jika Frank tidak berselera untuk makan. Ia juga pernah dalam posisi itu. Dulu ibunya akan memaksanya untuk menghabiskan makanannya. Jika ia menolak, ibunya akan memberi jeda 2 menit lalu kembali menyuapinya.
"Aku tidak sanggup lagi," ujar Frank menggeleng.
"Kalau begitu anda minum sup nya dulu," ujar Scarlett mengambil sup.
"Ayo cobalah sedikit saja."
Frank menggeleng.
"Bagaimana kalau sup nya dicampur dengan buburnya?"
Frank menggeleng, "Lidah ku pahit sekali. Aku tidak ingin memakannya lagi," ujar Frank merengek seperti anak kecil.
__ADS_1
"Frank ayolah.. setidaknya habiskan setengah saja sebelum kamu minum obat," bujuk Scarlett mulai putus asa dengan pria didepannya hingga ia lupa jika dirinya memanggil nama Frank begitu saja.
Oh tidak, apa yang baru saja ia katakan, Scarlett tersadar.
"Maaf, saya tidak sengaja memanggil nama anda Pak," ujar Scarlett dengan nada bersalah.
Frank menggeleng, "Panggil Frank saja kalau begitu," balas Frank senang.
"Tidak, anda atasan saya," ujar Scarlett kembali menyuapi Frank. Pria itu menggeleng.
"Panggil aku Frank, aku akan memakannya lagi," kata Frank memberi pilihan pada Scarlett. Pria memalingkan wajahnya karena kesal.
"Astaga... apa-apaan pria ini. Kenapa dia terlihat seperti mengancam. Oh, lihatlah wajahnya yang seperti anak kecil itu," batin Scarlett terkekeh.
"Kenapa kamu tertawa," timpal Frank menatap Scarlett penuh selidik.
"Anda seperti bukan bos saya yang dingin dan datar jika seperti ini," balas Scarlett menahan senyumnya saat melihat wajah terkejut Frank.
"Apa kamu sedang meledek ku?"
"Tidak, hanya saja itu memang kenyataan," jawab Scarlett seperti tidak ada takutnya saat berbicara dengan Frank. Keduanya tidak canggung sama sekali.
__ADS_1
Scarlett kembali mengarahkan sendok berisi bubur ke mulut Frank dan pria itu terlihat ragu sebelum akhirnya memakannya.