
Sebelum kembali ke penthousenya, Frank memilih untuk singgah ke rumah utama keluarganya. Frank memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Ia lalu masuk ke dalam rumah.
Baru saja ia masuk ke dalam rumah, namun seseorang melemparnya dengan koran.
"Kenapa kamu kembali?" timpal Fictor kesal pada cucunya itu.
"Memangnya kenapa? ini juga rumah ku," balas Frank mengambil koran dari lantai lalu berjalan dengan santai menuju sofa dimana kakeknya sedang duduk.
"Dasar cucu durhaka kamu."
"Kamu berbohong soal kekasih mu itu bukan? sampai sekarang kamu tidak mengenalkannya pada kami," kata Fictor melempar tongkatnya pada Frank. Pria itu refleks menghindar.
"Besok aku dan nenekmu akan kembali ke rumah kami," ucap Fictor mengancam Frank.
"Astaga grandpa, aku tidak berbohong," tukas Frank mengambil tongkat Fictor dari lantai. Ia lalu mendekati kakeknya.
"Aku akan membawanya minggu depan ke rumah ini. Kami baru saja jadian. Grandpa tenang saja," ujar Frank merangkul Fictor.
"Awas saja kalau kamu berbohong," kata Fictor memukul pelan perut Frank dengan kepala tongkatnya.
__ADS_1
"Aku harap wanita itu sesuai dengan kriteria keluarga kita," kata Fictor.
"Tentu saja. Kakek tenang saja," ucap frank meyakinkan kakeknya. Ia lalu mengambil cemilan milik Fictor dan memakannya.
"Aku temui mommy dulu," pungkas Frank bangkit dari sofa. Ia lalu mencari keberadaan ibunya.
"Mom.. mom.. where are you," panggil Frank dengan suara yang keras.
"Frank Juan Carrington. Tidak bisakah kamu tidak berteriak," timpal Oliver yang sedang sibuk mencari tempat wisata yang cocok untuknya dan Dakota dari ponselnya. Oliver ingin mengajak istrinya liburan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka dua minggu yang akan datang.
"Mom dimana dad?" tanya Frank.
"Grandma dan mommy mu sedang pergi ke tempat Bibi mu," jawab Frank fokus menatap layar ponselnya.
*****
Pagi harinya Scarlett berangkat kerja dari rumah ayahnya. Scarlett berpapasan dengan Elizya saat keluar dari kamarnya.
"Selamat pagi Scarlett," sapa Elizya dengan ramah. Scarlett hanya mengangguk saja.
__ADS_1
"Elizya, kamu sudah siap?" timpal Wilson menghampiri Elizya.
"Sudah dad, ayo kita pergi," jawab Elizya.
"Nak kami pergi dulu ya. Daddy hari ini ada rapat penting. Elizya ikut menemani daddy. Ternyata saudaramu cukup bagus dalam dunia bisnis," kata Wilson menatap Scarlett yang terlihat enggan menanggapi perkataan Wilson.
"Hati-hati dad. Semoga meetingnya berjalan dengan baik," balas Scarlett dengan senyum terpaksa nya.
"Kenapa dia selalu saja mengikuti jejak ku," gumam Scarlett setelah kepergian Wilson dan Elizya.
"Saat aku menjadi model, dia juga ikut menjadi model. Padahal yang aku tahu di dulu ingin menjadi aktris," lanjutnya.
"Dan sekarang, aku kerja di perusahaan. Dia juga ikut-ikutan," kata Scarlett menggeleng-gelengkan kepalanya. Kakinya melangkah ke arah dapur untuk sarapan.
Satu jam kemudian Scarlett sudah ada di tempat kerjanya. Sejak beberapa hari yang lalu, Frank memintanya untuk menggunakan lift khusus untuk petinggi perusahaan.
"Aku rasa dia menggoda Pak Frank agar bisa menggunakan fasilitas itu," cibir rekan kerja Emma kepala departemen keuangan.
"Tentu saja. Dia juga pasti menggoda Alden agar dia bisa menjadi sekretaris Frank," kata Emma. Scarlett yang merasa dibicarakan tidak peduli.
__ADS_1
"Jangan asal bicara. Sangat mudah bagiku mengeluarkan kalian dari sini," ucap Scarlett membuat kedua orang itu tertawa seolah meledek Scarlett.
"Sangat mudah menendang kalian dari perusahaan ini. perusahaan tidak membutuhkan sampah seperti kalian," ucap Scarlett masuk ke dalam lift.