
Scarlett berjalan menuruni tangga mencari keberadaan Frank. Scarlett tersenyum bahagia melihat sosok yang dicarinya sedang berkutat dengan alat-alat memasak. Pria itu terlihat sexy dengan tubuh toplessnya. Ia kemudian memandangi cincin yang melingkar ditangannya.
"Kenapa Frank sangat sempurna.." batinnya berjalan mendekati Frank.
"Ada yang perlu ku bantu?" tanya Scarlett membuat Frank kaget dengan kehadiran wanita itu secara tiba-tiba.
"Tidak ada. Hanya berikan aku satu ciuman saja.." balas Frank mendekatkan bibirnya pada Scarlett. Tak ragu, Scarlett langsung menciumnya.
Frank melirik cincin ditangan Scarlett. Dua minggu yang lalu ia meminta temannya untuk mendesain sendiri cincin yang akan diberikannya pada Scarlett. Cincin itu sangat cocok di jari manis Scarlett.
"Apa kamu suka?" tanya Frank.
"Tentu saja. Aku sangat suka dengan cincin ini," kata Scarlett.
"Sejak kapan kamu bisa memasak Frank?" tanya Scarlett mengambil air minum dari meja.
"Dulu aku dan daddy sering membantu mommy memasak. Jadi sudah terbiasa dan ketika aku masih kuliah, aku lebih sering memasak sendiri daripada makan di luar," balas Frank sembari fokus dengan spaghetti di wajannya. Frank mengambil garpu, ia lalu mengambil sedikit Spaghetti buatannya, meniupnya dengan pelan.
"Aakk" ujar Frank mengarahkan garpunya ke mulut Scarlett. Wanita itu lalu memakannya.
"Apakah rasanya sudah pas?" tanya Frank. Scarlett mengangguk.
__ADS_1
"Aku akan mengambil tempatnya," Kata Scarlett. Scarlett menarik laci di sampingnya dan mengambil dua piring porselen dari sana.
"Hari ini weekend, apa kamu ingin mengunjungi sesuatu? Aku akan membawamu ke sana," ujar Frank membawa dua piring Spaghetti ke meja. Scarlett berjalan mengikuti pria itu.
"Aku dan Penelope berencana pergi ke mall untuk membeli beberapa barang. Sudah satu bulan aku tidak pergi ke sana," kata Scarlett.
"Kalau begitu aku akan ikut dengan kalian," kata Frank.
"Baiklah.. ayo makan. Aku sudah tak sabar mencicipinya," tukas Scarlett. Frank kemudian mengangguk.
******
Scarlett masuk ke dalam ruangan Frank membawa kopi dan buah untuk Frank.
"Aku tidak suka bekerja dengannya setelah apa yang dilakukannya padamu," balas Frank. Masalah kerugian, Frank tidak peduli. Masalah kecil itu tidak akan membuat perusahaannya langsung tumbang.
"Bagaimana dengan dana yang sudah keluar. Sesuai perjanjian uang tidak akan kembali Frank. Itu bukan uang yang sedikit Frank," kata Scarlett duduk di kursi.
"Aku tidak akan langsung miskin hanya karena itu sayang.." ucap Frank menyadarkan punggungnya di kursi kebesarannya.
"Tapi itu te___"
__ADS_1
"Sudah... jangan terlalu dipikirkan sayang. Ini sudah menjadi keputusanku," ucap Frank memotong pembicaraan Scarlett.
"Apa kamu sibuk?" tanya Frank.
"Tidak terlalu.."
"Kalau begitu temani aku saja di sini," pinta Frank.
"Tidak Frank. Ini masih jam kerja. Aku harus di ruanganku. Ini senin, dan beberapa dari mereka biasanya mengantar laporannya di hari ini," balas Scarlett.
Frank menghela nafasnya. Kalau sudah bekerja Scarlett akan selalu bertindak profesional. Sekalipun dia sendiri yang memintanya pada Scarlett.
"Sebagai gantinya malam ini kamu tetap tidur di tempat ku," tukas Frank.
"Tidak bisa Frank. Daddy menghubungiku tadi. Sore ini daddy sudah sampai di rumah," kata Scarlett menahan tawanya saat melihat wajah cemberut Frank. Padahal ia sudah menginap di sana dua hari ini.
"Sepertinya kita harus segera menikah sayang. Aku tidak bisa berjauhan dari mu," ucap Frank. Semakin ke sini, Frank semakin tidak bisa berjauhan dari Scarlett.
"Kamu harus meminta restu dari ayah ku dulu," kata Scarlett bangkit dari kursinya, ia mendekatkan tubuhnya ke arah Frank lalu mencium wajah Frank.
"Aku pergi Frank.." pungkas Scarlett pergi.
__ADS_1
"Itu sudah ku lakukan sayang.." gumam Frank.