
[ Sirius POV ]
Sinar rembulan menerangi gelapnya malam di Desa Elberim. Berbeda dengan di perkotaan yang memiliki sumber cahaya yang banyak, di sini sangatlah minim penerangan di sepanjang jalan. Aku sedang berada di sekitaran rumah Johann untuk petunjuk terakhir dari kasus ini.
Setelah beberapa jam menunggu, terlihat sebuah pergerakan di rumah Johan. Seorang pria keluar dari rumah itu dan bejalan ke arah sebuah bukit yang di tumbuhi banyak pepohonan. Aku lalu mengikutinya menggunakan Featherstep. Setelah beberapa menit berjalan, pria itu sampai di sebuah tempat yang di tumbuhi tanaman yang memiliki bunga bewarna ungu sama persis dengan yang aku temukan di baju Riley. Johan hanya berdiri saja di sana melihat bunga – bunga tersebut dari jauh.
“Tanaman Bunga Viovina, bunga kesukaanmu ketika kita masih tinggal di kota.”
Aku mendengar Johann sedang berbicara sendiri.
“Aku selalu merindukan kebersamaan kita sebelum pindah kesini. Jika saja kau menurutiku waktu itu, hal ini mungkin tidak akan terjadi.”
Nadanya mulai berubah dari melankolis menjadi agak tinggi.
“Dan para bajingan itu yang merubah mu menjadi seperti ini! Sial!”
Dia mengepalkan tangannya dengan kencang dan mulai menangis.
“Padahal kita sudah sangat bahagia berdua! Mengapa!? Mengapa Lydia!? Mengapa kau melakukan itu padaku!?”
Dia mulai berteriak histeris dan menjambak rambutnya sendiri.
“Tapi aku tidak akan membiarkan kejadian ini selesai seperti ini! Mereka harus membayar karena telah merenggut kebahagiaanku!”
Merasa aku telah mendapatkan informasi yang cukup, aku lalu mulai meninggalkannya sendiri. Melihat dari amarahnya, sudah jelas siapa dalang dari kasus kematian warga desa yang janggal. Aku lalu pergi ke kediaman kepala Desa untuk memberitahu temuan ku. Aku juga harus berbicara dengan Lena malam ini. Tak lama kemudian, aku telah sampai di kediaman kepala Desa. Aku lalu mengetuk pintu rumahnya
Tok! Tok! Tok!
Tidak lama kemudian, Kepala Desa Morlin muncul.
“Ah, nak Sirius. Ada apa larut – larut malam seperti ini datang ke kediamanku?”
“Kepala Desa, ada hal yang penting yang ingin aku bicarakan padamu.”
Setelah berbicara dengan Kepala Desa, aku lalu kembali ke penginapan dan mengetuk kamar Lena.
Tok! Tok! Tok!
“Lena, ini aku.”
“Sirius? Ah tunggu sebentar! Jangan masuk dulu!” Serunya dari dalam kamar. “Kau bisa masuk sekarang Sirius,” ucap Lena.
Aku lalu masuk ke dalam kamar dan melihat Lena sedang duduk di kasur. Rambutnya terlihat berantakan.
“Maaf mengganggumu ketika kau sedang tidur,” ucapku.
“Ah, tidak apa – apa. Jadi, apa yang ingin Sirius bicarakan denganku?” tanya Lena.
“Aku ingin Lena melakukan sesuatu ketika sedang bersama Johann besok pagi.”
Aku lalu memberitahu temuan ku dan kesimpulanku tentang kasus ini terhadap Lena. Dan menyuruhnya untuk melakukan sesuatu untuk memancing Johan. Dan aku tahu kata – kata yang tepat untuk membuatnya mengeluarkan sisi aslinya itu.
...----------------...
[ Lena POV ]
Keesokan paginya, aku sedang dalam perjalanan bersama Sirius menuju kediaman Tuan Johann. Aku sedikit gugup ketika Sirius menginginkanku untuk melakukan hal ini.
“Tidak usah khawatir, Lena,” ucap Sirius. “Aku akan selalu datang padamu jika kau dalam bahaya, Aku berjanji,” tambahnya.
Mendengar kata – katanya, membuatku lebih rileks. Apakah manusia memang semudah itu? Hanya dengan beberapa kata - kata penghibur, manusia bisa mengubah sesuatu. Yang akan kulakukan pun sama kali ini. Kami lalu sampai di kediaman Tuan Johann.
“Ah Lena, kau telah sampai pagi sekali,” ucap Tuan Johann dengan nada ceria.
“Ya, Tuan Johann sendiri sudah tampak ceria pagi ini,” ujarku.
“Ahahaha ya. Setelah tidur yang cukup, stress ku jadi berkurang.”
“Baiklah Lena, aku akan pergi dulu untuk membeli perbekalan untuk perjalanan kita nanti. Ketika selesai, aku akan menjemputmu kembali di sini,” ucap Sirius
“Baiklah, sampai jumpa Sirius!”
__ADS_1
“Baiklah, mari kita pergi ke bukit untuk mengumpulkan tanaman Lena,” ajak Tuan Johann ketika kehadiran Sirius sudah terasa menghilang.
Kami lalu berjalan beberapa menit untuk pergi ke tempat Tuan Johann biasa mengumpulkan tanaman.
“Mengapa Lena ingin mengikuti ku mengumpulkan tanaman?” tanya Tuan Johann.
“Ah, itu karena aku dulu suka sekali menikmati suasana segar ketika berada di dekat tumbuhan segar,” jawabku. “Aku juga tidak memiliki apapun untuk di kerjakan hari ini dan merasa bosan. Jadi aku memutuskan untuk mengikuti Anda pagi ini,” jelasku.
“Begitukah, Lydia juga sangat suka dengan tanaman – tanaman kau tahu.”
Tuan Johann lalu tiba – tiba berhenti, aku mulai merasakan hawa yang lebih sejuk di bandingkan di desa.
“Nah, kita telah sampai. Lena, pegang lah ini,” ucap Tuan Johann.
Aku lalu meraih tangannya dan mendapati sebuah bunga.
“Ini adalah bunga kesukaan Lydia ketika dia masih hidup kau tahu. Dia bilang, dia suka dengan warna ungu cerah pada bunga ini,” jelasnya.
Bunga ungu? Bukankah itu warna bunga yang sama seperti yang Sirius beritahu tadi malam?
“Simpanlah itu di sakumu, aroma bunga itu sangat baik untuk pernafasan,” ucap Tuan Johann sambil mengambil bunga di tanganku dan meletakkannya di saku blouse ku.
“Begitukah, terima kasih Tuan.”
Aku lalu menguatkan tekadku dan menanyakan hal – hal mengenai Lydia seperti yang Sirius instruksikan.
“Tuan Johann, mengapa Anda mengekang Lydia semasa hidupnya?”
Aku lalu merasakan tangan dari Tuan Johann bergetar.
“Apa maksudmu Lena? Aku sama sekali tidak tahu maksud perkataanmu tadi?” ucap Tuan Johann dengan nada dingin.
Merasakan perubahan dari emosinya, aku yakin bahwa kesimpulan Sirius itu benar lalu melanjutkan perkataanku.
“Bukankah kau ingin istrimu hanya menuruti kehendak mu? Menjadikan Lydia menjadi istrimu yang hanya mematuhi perintahmu layaknya boneka?” ucapku lebih memojokkannya.
“Apa yang kau tahu!? Apa yang kalian tahu!?” Tuan Johan meneriaki ku dengan nada yang sangat keras.
“Kami berdua hidup bahagia sebelum pindah ke desa ini! Kalian lah yang merubah Lydia ku! Dia awalnya adalah wanita penurut dan pendiam ketika kami tinggal di Kota. Namun semenjak kami tinggal di sini, Lydia lebih sering berinteraksi dengan warga desa ketimbang diriku! Dia,Dia,Dia LYDIA KU TELAH BERUBAH!” Tuan Johann mulai teriak histeris.
Aku merasakan Tuan Johann tertunduk setelah mengatakan itu.
“A-ku sangat mencintainya… huuuu,” Tuan Johann mulai menangis.
“Karena itulah kau membunuh istrimu?” tanyaku.
Tuan Johann lalu terdiam dan berkata.
“Ya, tidak ada artinya jika aku tidak memiliki sepenuhnya Lydia. Kau tahu Lena, Lydia sebelum kesini hanyalah wanita pendiam. Ketika dia mulai hidup di sini, banyak warga yang bergantung kepadanya. Hasilnya dia menjadi lebih sering tersenyum dan ceria. Dia berubah dari wanita pendiam idealku menjadi seorang wanita supel yang murahan!,” ungkap Tuan Johann.
“Aku sudah mengetahui bahwa dia tidak bahagia hidup denganku! Tapi aku membuatnya tunduk dan tidak bisa melawanku! Karena aku tahu hal ini akan terjadi! Dan aku terbukti benar!”
“Saat itu aku sudah tidak tahan dengan sikapnya yang selalu bercengkrama dengan orang lain! Aku lalu memutuskan untuk memberinya bunga Viovina untuk membuatnya berhalusinasi dan menyuruhnya pergi ke tempat yang aku telah siapkan seekor beruang liar untuk menghabisinya!”
Mendengarnya ceritanya, aku mulai meraba saku bajuku yang dia simpan bunga tadi.
“Yang kau rasakan itu bukanlah Cinta Tuan Johann, melainkan perasaan yang ingin mendominasi,” ucapku sambil sedikit menahan rasa takut.
Tuan Johann lalu mendorongku hingga terjatuh dan mencekik leherku.
“Diam! Kau tidak pernah tahu rasanya di renggut kebahagiannya oleh orang lain! Kau sama saja seperti orang – orang itu! Ku bunuh kau wanita Butaa!”
“Agghhh....”
Aku mulai kesulitan bernafas. Tapi aku tidak akan takut. Dia sudah berjanji, aku mempercayai Sirius. Aku harus menghadapi ini agar rencananya berhasil. Aku mulai mengeluarkan air mata yang membasahi pipiku.
“Hahaha! Menyesal lah karena kau telah mengikuti ku kesini! Tidak akan ada yang akan menye—”
BAMMM!
“Ughhhhh!”
__ADS_1
Aku mendengar suara hantaman dan teriakan Tuan Johann. Kemudian aku bisa kembali bernafas dengan lancer.
“Kau tidak apa – apa Lena? Maaf telah membuatmu melalui semua ini,” ucap Sirius meminta maaf.
“Aku tidak menyangka kau tega membunuh istrimu sendiri Johann.”
Aku lalu mendengar suara Kepala Desa.
“Diam kau kakek tua! Aku berencana membunuhmu tidak lama setelah Riley!” ungkap Johann.
“Kalian lah yang membuat Lydia ku berubhhh….”
Suaranya tertahan karena aku merasakan Sirius kembali melakukan sesuatu.
“Tunggu Sirius, jangan sampai membunuhnya,” ucapku.
“Kau memberikan warga yang sering mendatangimu dengan bunga Viovina untuk membuat mereka berhalusinasi, keracunan dan bahkan menjadi gila. Kau memanfaatkan itu untuk menghabisi beberapa warga agar warga desa ini tidak curiga terhadapmu,” ungkap Sirius. “Yang kau lakukan terhadap Riley sangatlah buruk, kau memberinya bunga yang memiliki konsentrasi dosis yang tinggi hingga membuatnya bunuh diri karena kegilaan!” jelas Sirius.
“Hahaha! Bukankah dia layak menerimanya!? Dialah yang paling sering menemui istriku dari sekian banyak warga lainnya!”
Mendengar perkataannya membuatku agak sedikit kesal.
“Sirius, kau boleh menghantamnya untuk beberapa kali,” perintahku
BAMMM! BAMMM! BAMM!
“Aghhhhhh! Tidak! Tidak! Ampunnnn!”
Aku mendengar jeritan Tuan Johann
“Hey, jangan sampai membunuhnya.”
Setelah menunggu beberapa warga untuk membawa Tuan Johann, kami lalu mulai pergi dari tempat ini.
“Nak Lena dan Nak Sirius, terima kasih atas bantuan yang telah kalian perbuat. Kami warga Desa Elberim akan selalu mengingat jasa kalian,” ucap Kepala Desa.
“Tidak apa – apa Tuan Morlin, kami senang bisa membantu,” ucapku.
“Baiklah, aku harus menangani masalah ini terlebih dahulu. Jika kalian ada yang diperlukan, aku mohon, mintalah pada kami,” ucapnya.
Kepala Desa lalu mengikuti rombongan warga yang membawa Tuan Johann.
“Hey Lena.”
Tiba – tiba Sirius memanggilku.
“Jika orang yang kau cintai menunjukan sikap baru yang kau tidak ketahui dan tidak suka, apa yang akan kau lakukan?” tanya Sirius.
“Kurasa aku beruntung kau tahu,” jawabku.
“Beruntung?”
“Ya. Aku bisa mengetahui perubahan orang yang ku cinta sebelum hal buruk menimpanya terjadi. Karena, cinta itu tidak hanya menyukai hal yang bagus dari pasanganmu saja. Melainkan keburukannya juga kau harus cintai. Begitu juga sikap - sikap baru dia yang akan muncul suatu saat nanti. Karena cinta itu menerima semua yang ada pada diri pasanganmu baik itu bagus ataupun jeleknya dia,” jelasku.
Aku memegang tangan Sirius lalu berkata.
“Ya. Itu akan sangat bagus bukan? Jika kita saling terbuka satu sama lain dan memahami perasaan kita masing-masing, kita mungkin tidak akan berakhir seperti Tuan Johann.”
Setelah keceplosan mengutarakan apa yang ada di pikiranku, aku mulai sedikit malu. Apanya yang saling terbuka satu sama lain? Aku bahkan tidak bisa menceritakan rahasiaku pada Sirius! Aku lalu terdiam dan tidak berkata - kata lagi untuk menahan rasa maluku. Aku tidak percaya bisa terbawa suasana seperti ini!!
“Begitukah yang di namakan cinta? Menerima perubahan apapun yang ada pada pasanganmu,” gumam Sirius.
...----------------...
[ 3rd POV ]
20 hari sebelum Sirius dan Lena berada di Desa Elberim. Di sebuah hutan, terdapat seorang wanita dan pria yang sedang berpelukan.
“Riley, kau berjanji akan membebaskanku dari suamiku?”
“Tentu saja Lydia, kita akan hidup di sini bersama setelah suamimu Johann mati di tanganku nanti. Aku mencintaimu Lydia.”
__ADS_1
“Ya. Aku juga mencintaimu, Riley.”
Mereka lalu melanjutkan aksi mereka yang harusnya boleh dilakukan oleh sepasang suami istri. Mereka berdua bercinta di tengah hutan bersama lantunan nyanyian burung yang merdu.