The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 1 Chapter 19 : Dewi


__ADS_3

Aku mendengar suara gemuruh dan ledakan di sekitarku. Mungkinkah Sirius telah datang?


Tidak lama kemudian, aku merasakan Sirius berada di dekatku. Nafasnya terdengar tidak teratur. Aku merasakan firasat buruk tentang ini.


“Si-sirus?” Aku memanggilnya ragu.


“Le…na…” Aku mendengar suaranya memanggil namaku lirih.


Apakah dia terluka? Aku kemudian menghampirinya dan tidak sengaja menyentuh tubuhnya.


Basah… Apakah ini… darah Sirius?


“Hey Sirius! Kau tidak apa-apa!?” tanyaku dengan penuh khawatir.


Aku kembali mendengar dia kesulitan untuk bernafas.


“Tidak usah repot-repot mengkhawatirkannya.”


Aku mendengar suara dari salah satu orang yang menculikku.


“Aku telah menusuk tepat di organ vitalnya, tidak lama lagi dia akan mati.”


Huh? Tidak mungkin.


“Sirius! Bangunlah, Sirius!”


Sihir, aku harus melakukan sihir penyembuhan. Ingatlah apa yang diajari pendeta dulu Lena.


Aku memusatkan mana di tanganku dan memulai doa yang selalu pendeta ucapkan ketika menyembuhkan seseorang.


“Percuma saja. Dengan lukanya itu, sihir penyembuh pun tidak akan bisa berbuat banyak. Kau hanyalah seorang kandidat, bukan seorang Saint pembuat keajaiban.”


“Sial! Assassin itu memotong kedua lenganku.”


Aku mendengar suara pria yang lainnya. Dia terdengar marah akan sesuatu.


“Kurasa kau harus meminta kepada tuan Geldoro untuk menumbuhkannya kembali. Bagaimana dengan Sarkous?”


“Dia mati, sayang sekali.”


Aku mendengar pembicaraan mereka. Nampaknya Sirius sangat berusaha untuk menyelamatkanku.


Ini semua salahku…


Karena diriku, Sirius menjadi terluka seperti ini…


“Baiklah, saatnya membawamu, Wanita.”


Aku mendengar langkah kaki mereka mulai mendekatiku.


Darah Sirius semakin membasahi tanganku menandakan dia semakin mendekati kematiannya.


Apakah tidak ada yang bisa kulakukan? Padahal aku sudah berjanji akan menolongnya. Menghilangkan noda gelap dalam masa lalu Sirius.


Apakah aku setidak berguna itu? Aku sangat Frustasi. Apanya yang kandidat Saint, yang kulakukan hanyalah menjadi beban orang lain dan tidak dapat melakukan apa-apa.


Setidaknya, aku ingin menyelamatkannya. Aku ingin menghilangkan penyesalan yang ada di dalam hatinya.


Dewi kumohon, apapun akan kulakukan untuk melakukannya. Baik itu menjadi seorang Saint maupun membersihkan kejahatan yang ada di benua ini.


Asalkan aku dapat menyelamatkannya, mengeluarkannya dari jurang penyesalan, Sirius. Aku akan menerima tugas apapun darimu, Dewi Agung .


Jadi tolonglah, berikan aku kekuatan untuk dapat melakukan itu.


Dalam lubuk hatiku yang terdalam, kumohon… berilah aku kekuatan untuk itu....


“Huh? Ada apa ini?” Pria itu terdengar kebingungan.


Setelah mengutarakan semua yang ada di dalam hatiku, aku merasakan hangat yang unik pada tubuhku.


“Cahaya ini? Tidak mungkin!” Mereka berdua tederngar terkejut dengan sesuatu yang aku tidak ketahui.


Area di sekitar mataku terasa panas. Pandanganku, yang awalnya hanya terlihat gelap gulita, kini aku dapat melihat garis-garis cahaya redup yang mengalir di dalam tubuh Sirius.


A-apa ini?

__ADS_1


Aku mengangkat kepalaku kemudian melihat dua sosok garis cahaya yang membentuk seperti manusia. Mereka berlari dengan gerakan yang sangat lambat sekali.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Aku kemudian di silaukan oleh cahaya yang tiba-tiba muncul dari langit. Anehnya, aku dapat melihat dengan jelas cahaya yang muncul dari langit itu. Aku kemudian melihat sekitar akan tetapi, Sirius dan kedua orang itu tiba-tiba menghilang.


Dari atas langit dimana cahaya itu muncul, aku melihat malaikat-malaikat sama seperti yang ada di lukisan kuil berterbangan. Sayap-sayap mereka sangat indah sekali melebihi dari ilustrasi lukisan yang aku lihat sebelumnya.


Malaikat-malaikat itu berjajar di atas langit seperti membuat jalan bagi seseorang. Benar saja. Dari sumber cahaya di langit itu, muncul sesosok wanita bersayap terbang melewati malaikat-malaikat yang berjajar. Wajah yang putih anggun, pakaian yang sangat elegan. Dia kemudian tebang menuju ke arahku dan tersenyum.


Aku membeku melihatnya datang turun dari langit di sertai senyuman yang indah itu.


“Bagaimana rasanya bisa melihat kembali, Magdalena?” tanya wanita itu dengan suara yang sangat merdu.


“A-aku…”


“Senang berjumpa denganmu Magdalena, aku adalah Dewi Athena. Aku turun kemari untuk mengangkatmu menjadi seorang Saint,” ucapnya dengan senyuman.


“…!”


...----------------...


Kuil utama Dewi Athena, Ibukota Kekaisaran Habsburg, Ruhmstadt.


“Kardinal Paul, kapan ritual pemilihan Saint akan di mulai?” tanya seorang Wanita cantik memakai jubah suster.


“Sophia, aku harus mendapatkan persetujuan dari empat Kardinal untuk melakukan ritual itu,” jawab seorang pria paruh baya.


“Aku tidak tahu Kardinal, keluargaku memberitahuku agar mendesakmu untuk melakukan Ritual itu secepat mungkin,” ucap Wanita itu dengan polos.


“Hah… kau adalah wanita yang baik Sophia,” ucapnya dengan rasa sedih mengetahui keluarganya hanya memanfaatkannya untuk menambah pengaruh mereka.


Brakkk!


Tiba-tiba mereka mendengar suara pintu terbuka.


“Kardinal Paul! Anda harus melihat ini keluar!”


“Ada apa memangnya sampai kau masuk tanpa menerima ijin dariku!?” ucapnya terlihat kesal.


“Apa katamuu?!”


Kardinal Paul kemudian keluar untuk menyaksikan peristiwa yang di beritahu pria itu. Di luar Kuil, Kardinal Paul melihat Kardinal-Kardinal lain sedang melihat ke arah langit di kejauhan.


“Paul, bukankah ini pertama kalinya terjadi?” tanya Kardinal Leroy tanpa mengalihkan pandangannya pada cahaya yang muncul di kegelapan langit malam itu.


Kardinal Paul kemudian melihat ke arah yang sama seperti Kardinal Leroy.


Terlihat samar-samar beberapa sosok manusia bersayap dari kejauhan.


“Mu-mungkinkah, Sang Dewi turun tanpa Ritual pemanggil!?” ucap Kardinal Paul keheranan.


“Ya… untuk pertama kalinya, Sang Dewi akan memilih Saint atas dasar keinginannya sendiri,” jelas Kardinal Leroy.


Tidak lama kemudian, mereka melihat sesosok wanita turun dari langit dimana cahaya itu muncul.


“….!”


“….!”


Mereka berdua bergegas bersujud di ikuti oleh semua orang-orang yang ada di Kuil utama.


“Maha Agung Sang Dewi!” ucap para Kardinal memuji Dewi pujaan mereka.


“Maha Agung Sang Dewi!”


“Maha Agung Sang Dewi!”


Tidak lama kemudian, orang-orang di belakang mereka mengikuti dan membuatnya seperti semacam nyanyian pujian.


...----------------...


“Magdalena, kau tahu apa arti dari perkataanku barusan bukan?” tanyanya lembut.


“Y-ya Dewi, aku telah siap dengan segala rintangan yang akan kuhadapi.” Aku membulatkan tekadku.

__ADS_1


Mendengar perkataanku tadi, Sang Dewi hanya tersenyum lembut layaknya melihat anak kandungnya tumbuh.


“Dengar, Magdalena. Menjadi Seorang Saint bukanlah melulu tentang membasmi kejahatan dan melindungi kepercayaan kita,” ungkap Sang Dewi. “Tugas utama Seorang Saint itu adalah, menghapus sisi gelap hati seseorang dan membawa mereka ke jalan yang benar,” jelasnya.


“Sisi gelap hati manusia?”


“Ya… perang terjadi waktu demi waktu akan tetapi, penyebab utama itu terjadi adalah karena sisi gelap hati seseorang yang menguasai mereka,” ucapnya seraya menyentuh pipiku.


Tangannya terasa lembut dan hangat.


“…!”


“Ya… aku akan menyembuhkan luka bakarmu ini. Akan tetapi, kau akan tetap hidup dalam kebutaan ini Magdalena. Itu adalah salah satu bayaran yang harus kau ambil dan lalui sebagai seorang Saint.”


Kehilangan penglihatan adalah bayaran yang kecil agar aku dapat membantunya terbebas dari masa lalunya yang gelap.


Aku kemudian melihat Sang Dewi tersenyum kembali. A-pakah dia dapat membaca isi hatiku? Uhhhh… memalukan sekali.


“Tidak apa-apa kau tahu, tidak ada kekuatan yang melebihi apapun dari kekuatan Cinta. Manusia akan melakukan hal-hal yang luar biasa jika mengatasnamakan Cinta,” ucap Sang Dewi.


Mendengar perkataannya aku serasa ingin bersembunyi di lubang terdalam dunia ini.


“Baiklah, aku tidak memiliki banyak waktu. Gunakanlah kekuatan ini seperti yang telah aku sampaikan padamu tadi, Magdalena,” ucap Sang Dewi seraya kembali terbang menuju sumber cahaya di langit.


“Terima kasih, Dewi Athena.”


Mendengar ucapan terima kasihku yang terdalam, Sang Dewi hanya tersenyum kemudian menghilang dari bali cahaya di langit.


Tidak lama kemudian, para malaikat ikut kembali masuk ke sumber cahaya itu dan menutupnya kembali.


Tak lama kemudian, penglihatanku perlahan kembali menjadi gelap. Aku kemudian dapat kembali melihat dua garis cahaya yang menyerupai dua sosok manusia yang mulai mengejarku.


...Author Note : Penglihatan Lena ini sama seperti Penglihatan Byakugan di Anime Naruto. Lena tetap tidak bisa melihat kecuali cahaya-cahaya yang menunjukan aliran mana....


Aku kemudian mengarahkan tanganku pada mereka.


“Jangan mendekat!”


Aku melihat sebuah cahaya yang menyebar bersumber dari tanganku melesat ke arah dua sosok itu.


“Ughhhh!”


“I-ini, mungkinkah!? Ape! Lupakan misinya! Kita mundur untuk kali ini!”


“Apa maksudmu!? Ughhhh! Kulitku terasa terbakar.”


Aku mendengar mereka kesakitan karena sihir yang aku gunakan.


“Sihir Divinenya terlalu kuat! Itu adalah kelemahan bagi semua iblis termasuk kita sebagai Apostle!”


“Baiklah!”


Mereka kemudian mundur lalu bergegas pergi meninggalkan kami berdua.


Aku lalu melihat garis-garis cahaya yang mulai redup. Itu adalah Sirius.


Aku kemudian meletakkan tanganku di dadanya dan melakukan sihir penyembuhan untuk menyelamatkannya.


Aku merasakan detak jantungnya yang melemah kini menjadi normal setelah aku melakukan sihir ini.


Tidak lama kemudian, aku merasakan luka-luka yang ada di tubuhnya mulai tertutup dan kulitnya yang terasa terbakar kembali menjadi seperti semula.


“Syukurlah…”


Air mata mulai membasahi pipiku. Aku menyentuh pipi Sirius dan meraba-raba membayangkan bagaimana wajahnya itu terlihat.


“Aku ingin melihatmu…”


“Aku ingin melihat senyumanmu…”


“Aku ingin melihat wajahmu saat kau terbebas dari rasa penyesalanmu itu…”


Aku menyentuh bibirnya, hidungnya, semua bagian wajahnya.


“Tapi sekarang… aku senang kau masih tetap hidup, Sirius.”

__ADS_1


__ADS_2