
Di sebuah tempat terpencil di Duchy Astria, Radolf tengah bertemu dengan salah satu mata-mata dari Republik Anconia. Mereka bertemu untuk membahas sebuah rencana besar.
"Selamat malam, Tuan Radolf. Apakah kau ingin minum segelas kopi? Atau kau lebih memilih segelas teh?" tanya mata-mata tersebut.
"Aku ingin membunuh seseorang, dan kesempatan itu akan datang pada waktu dekat ini," ucap Radolf tanpa basa-basi.
Para mata-mata Republik akhir-akhir ini bisa kembali beraktivitas dengan bebas setelah munculnya kasus peredaran obat-obatan terlarang di Kekaisaran. Mereka sudah membuat rencana untuk melakukan berbagai macam operasi.
"Memang benar, kami akan melakukan sesuatu dalam waktu dekat ini. Akan tetapi, yang kau minta itu terlalu mencolok untuk dilakukan," ujar mata-mata itu yang kemudian menyeruput segelas kopi.
Sebelumnya, Radolf telah melakukan kontak melalui surat-menyurat dengan mata-mata Republik. Radolf meminta untuk meledakkan sebuah kediaman seseorang yang ingin ia bunuh.
"Kali ini berbeda, aku memiliki rencana agar Kekaisaran kesulitan untuk mengungkap motif pembunuhan," ungkap Radolf.
"Hoo~ Bisakah aku mendengar tentang rencanamu ini?"
Radolf kemudian mulai menjelaskan rencana kepada mata-mata itu. Mendengar penjelasan Radolf, mata-mata itu terdiam sejenak memikirkan sesuatu.
"Kekaisaran tidak akan mencurigaimu jika kita mengikuti rencanamu ini, Tuan Radolf." Mata-mata itu kemudian menatap Radolf dengan tajam. "Tapi, apa keuntungannya bagi kami melakukan ini? Jika rencana berhasil, perhatian Kekaisaran akan tertuju pada kami."
Mendengar kekhawatiran mata-mata itu, Radolf meresponnya dengan sebuah senyuman. "Aku mempunyai rencana untuk membuat terjadinya perang saudara di Kekaisaran."
Mendengar hal ini membuat mata-mata itu terkejut. Sebenarnya, apa yang sedang direncanakan oleh Radolf mengatakan ide segila itu.
***
Distrik bawah Kota Wien, tempat dimana orang-orang yang sedang tidak memiliki pekerjaan menetap. Area ini memiliki tingkat kriminalitas paling tinggi dibandingkan area lain di Kota Wien.
Di sela-sela gang sempit, terlihat beberapa anak muda yang duduk menyender ke tembok gang. Mulut mereka berbusa tanda mereka sedang mengalami overdosi.
"Kita menemukan mereka." Beberapa Patrol Guard sedang melakukan sebuah investigasi.
__ADS_1
"Sayang, kita terlambat," ucap salah satu dari mereka terdengar menyesal.
Kebanyakan dari mereka yang mengkonsumsi obat-obatan terlarang ini adalah kalangan anak muda. Obat ini menjadi favorit mereka karena memiliki efek tertentu bagi manusia di usia mereka.
"Periksalah sekeliling, cari barang bukti dan sita semua obat yang kalian temukan di area ini."
Distrik bawah menjadi tempat Favorit para pengedar untuk melakukan bisnisnya. Di area ini, para warganya memiliki latar belakang yang abu-abu sehingga lebih sulit bagi otoritas keamanan untuk melacak para pengedar tersebut ke sumber bandarnya.
Melihat para Patrol Guard mengisi area sekitar pemukiman mereka, warga di sana mulai keluar dari rumah mereka. Bagi mereka yang kesulitan untuk hidup, cara apapun akan mereka lakukan demi mendapatkan sesuap makanan.
"Apa yang kalian lakukan, anjing-anjing pemerintah!"
"Cepat keluar dari sini!"
Terlihat para warga di area ini tidak menyukai para Patrol Guard. Di area ini juga kebanyakan pemberontak sebelumnya mendapatkan banyak rekrutan untuk menggulingkan pemerintahan.
Para Patrol Guard itu terlihat gugup melihat para Warga mulai mengelilingi mereka. Para Patrol Guard itu kalah jumlah terlalu banyak.
Tidak lama kemudian, muncul sesosok wanita berambut hitam panjang, matanya menatap para warga distrik bawah dengan tajam, ekspresinya terlihat sangat dingin seperti Ratu Es
"Kalian sampah peradaban, aku hanya akan mengatakan ini satu kali saja." Serena menghunuskan pedangnya dan mengarahkannya kepada para warga yang protes tadi.
"Turuti perkataanku... Atau mati."
***
Kota Hainut—Ibukota Duchy Reginar—Kekaisaran Habsburg.
Duke Penrose sedang membaca laporan bisnis obat-obatan ilegal yang tengah dia bangun di Kekaisaran. Di laporannya tertulis, cabang distribusi di Kota Wien telah hancur oleh operasi Patrol Guard yang dipimpin langsung oleh Serena.
"Ah... seperti yang diharapkan dari calon istriku, Serena," gumam Duke Penrose memuji Serena dengan tulus walaupun dia menghancurkan bisnis obatnya.
__ADS_1
Mendengar ini, pelayanan yang ada di sampingnya terlihat kebingungan karena Tuannya belum melaksanakan pertunangan resmi dengan Serena.
"Duke Franz sudah menyutujuinya dan Trial para pahlawan sebentar lagi berakhir. Tidak lama lagi, impianku akan terwujud, Serena akan menjadi milikku."
Tok! Tok! Tok!
"Duke Penrose, Tuan Goatbeard sudah hadir di sini," ucap pelayan dari balik pintu ruangan Duke Penrose.
"Bawa dia ke ruang tamu," perintahnya singkat. "Cecil, ikut bersamaku untuk menemuinya."
Pelayannya itu hanya menunduk merespon perintah Tuannya. Mereka berdua kemudian tiba di ruangan tamu. Seseorang memakai jubah hitam menutupi kepalanya telah hadir di sana.
"Tuan Goatbeard, selamat datang di kediaman Keluarga Reginar," sapa Duke Penrose terhadap tamunya.
"Lama tidak berjumpa, Duke Penrose. Sepertinya Anda sedang berada dalam mood yang baik," balas Goatbeard melihat wajah Duke Penrose yang berseri-seri.
Mereka lalu melakukan diskusi mengenai kesepakatan kedua belah pihak mengenai sesuatu yang dianggap tabu oleh umat manusia.
"Mengapa Anda sebegitunya menginginkan kekuatan, Duke Penrose?" tanya Goatbeard penasaran. "Anda sudah memiliki kekayaan yang berlimpah dan pengaruh yang kuat di Kekaisaran."
Mendengar pertanyaan dari tamunya itu, Duke Penrose mulai tertawa. "Semua Anda sebutkan itu hanya ilusi, Tuan Goatbeard. Kekuatan sesungguhnya adalah kekuatan yang nyata dan Absolut."
Duke Penrose pernah merasakan hal itu, semua dia miliki di dunia ini selain kekuatan. Tidak memiliki kekuatan lah, penyebab dia tidak dapat mendekati Serena kala itu. Membuat Serena tidak tertarik padanya dan lebih memilih untuk dekat dengan Jerold
Setelah pertemuan dengan Goatbeard berakhir, Duke Penrose kemudian memberitahukan kepada pelayannya untuk menyiapkan perjalanan ke Kota Wien.
"Untuk apa Anda pergi ke sana, Tuan?" tanya Pelayannya penasaran.
"Tentu saja aku ingin mengunjungi calon Istriku. Memangnya apalagi alasanku untuk pergi ke sana?" bohongnya.
Alasan utama Duke Penrose pergi ke Kota Wien adalah karena bagian dari kesepakatannya dengan Goatbeard—Seorang utusan dari pasukan Raja Iblis.
__ADS_1