The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 2 Chapter 17 : Bencana


__ADS_3

Beberapa saat setelah Ketua mengeluarkan sinyalnya, para anggota Patrol Guard lain mulai menyerbu Basecamp ini. Suara lonceng dibunyikan oleh pemberontak untuk menandakan mereka sedang diserang. Beberapa pemberontak di hadapan kami mencoba meninggalkan bangunan ini.


“Apa kalian pikir, aku akan membiarkan kalian menolong teman-teman kalian!?” Tanpa membuang waktu, Ketua langsung melesat ke arah para pemberontak itu.


Ketua sangat gegabah… Mungkin karena dia sangat percaya diri dengan kekuatan yang dimilikinya itu.


Setelah berhasil melumpuhkan para pemberontak yang ada di dalam bangunan ini, kami lalu pergi keluar bangunan.


Di luar sini, terlihat para Patrol Guard tengah bertarung dengan para pemberontak. Aku kemudian melihat Wakil Ketua dan Senior Hans yang baru saja berhasil melumpuhkan empat orang pemberontak. Mereka menyadari keberadaan kami lalu menghampiri kami berdua.


“Rissa, bagaimana situasi kita?” tanya Ketua Serena.


“Penyerangan kita berhasil dengan mulus, para pemberontak mulai terpojokkan dan mulai mundur ke bagian tengah Basecamp ini. Tidak akan sampai satu jam sampai kita mengalahkan para pemberontak itu Ketua.”


Selagi Ketua mendiskusikan progres dari penyerangan ini, aku naik ke atas bangunan untuk lebih mengerti situasi sekitar. Benar kata Wakil Ketua, para Patrol Guard berhasil memukul mundur para pemberontak yang mana membuat mereka terkonsentrasi di bagian tengah Basecamp.


Di kejauhan, aku melihat dua orang yang sedang berdiri di atas bangunan. Tiba-tiba, sebuah cahaya berwarna merah terbang ke angkasa lalu menyebar ke seluruh penjuru Basecamp menutupi langit-langit daerah ini.


Ini buruk… itu adalah artefak Red Birdcage. Aku pernah mengalami pengalaman buruk mengenai artefak itu di masa lalu.


Aku kemudian turun kembali ke bawah untuk menginformasikan Ketua. Terlihat yang lainnya juga sedang memperhatikan fenomena aneh ini.


“Ketua, para pemberontak itu mengaktifkan sebuah artefak yang dapat mengurung kita di sini.” Mendengar perkataanku, Ketua lalu mengalihkan pandangannya kepadaku.


“Apa maksudmu?”


Mendengar pertanyaan Ketua, aku kemudian menunjuk ke sebuah burung yang sedang terbang di atas langit. Burung itu kemudian melewati cahaya merah tersebut. Akan tetapi, yang tersisa darinya hanyalah tulang belulang.


“…!”


“…!”


Ketua, Wakil Ketua dan Hans yang melihatnya kemudian terkejut.


“Mereka mengaktifkan kurungan ini ketika mereka berada dalam kondisi yang buruk. Ini menandakan mereka sedang merencanakan sesuatu untuk membalikan keadaan,” jelasku.


“Lalu, apa yang—“ Belum selesai Ketua Serena berbicara, terdengar sebuah ledakan dari arah bagian tengah Basecamp.


Aku kemudian berbalik lalu melihat sebuah kepulan asap menjulang tinggi.


Groaaarrrrr!


Kami kemudian mendengar sebuah teriakan yang mengerikan dari arah sana. Aku bergegas mendekati sumber kepulan asap itu. Ketua dan yang lainnya mengikuti di belakangku. Setelah mendekat beberapa puluh meter, aku kemudian melihat puluhan makhluk humanoid mirip seperti serangga.


“Itu adalah… Zerrigan,” gumamku. Aku kemudian bergegas berlari meninggalkan mereka bertiga.


“Hey, Sirius! Kau mau kemana! Heyyy!” Aku mendengar senior Hans berteriak.


Tidak ada waktu untuk menjelaskan kepada mereka. Jika aku tidak bergerak cepat, maka seluruh Patrol Guard yang ada di sini akan mati.


***


Ya ampun. Aku memang tidak mengerti apa yang di pikirkan anak baru itu!


Setelah anak baru itu pergi, Aku, Hans dan Rissa menghadapi puluhan makhluk aneh ini. Mereka memiliki pergerakan yang sangat cepat dan mampu menempel di dinding-dinding bangunan.


Dua dari makhluk itu melompat ke arahku. Aku kemudian menunduk lalu mencoba melakukan serangan balik kepada dua makhluk itu sebelum mereka mendarat.


-Swoshh!


Seranganku hanya menebas udara saja. Kedua makhluk itu menghindari seranganku dengan memutar badan mereka.


Ini merepotkan sekali!


Mereka mulai kembali berlari ke arahku. Kali ini, aku mengumpulkan mana lalu menyalurkannya ke pedangku. Menghindari serangan mereka dengan melompat ke belakang, aku kemudian mengeluarkan teknik pedang sihirku.


“Flying Sword : Wind Strike!” Menebaskan pedangku ke arah mereka, seranganku melesat lalu memotong tubuh dua makhluk itu menjadi dua bagian.


Terlihat darah hijau mengucur dari tubuh mereka. Aku kemudian melihat keadaan sekitarku. Para anggotaku mulai kewalahan melawan makhluk-makhluk ini, bahkan aku melihat sudah ada korban jiwa yang berjatuhan.


Tidak membuang waktu lama, aku kemudian bergegas membantu para anggotaku yang sedang kesulitan. Di hadapanku, terlihat salah satu makhluk itu sedang menggerogoti perut dari anggotaku yang sedang terkapar.


-Slasshh!


Kepala makhluk itu terjatuh, darah berwarna hijau bercucuran ke tanah.


“Ke-ketua… Tu-tubuhku terasa dinginn…,” ucapnya lirih.


“Jangan banyak bicara! Kita pasti akan keluar dari sini!” Ketika mengucapkan itu padanya, aku melihat salah satu makhluk itu mengarahkan tangannya ke arah kami berdua. Makhluk itu lalu menembakkan semacam cairan aneh.


Aku kemudian bergegas meraih anggotaku yang terkapar itu lalu menghindar dari serangan makhluk itu. Melihat ke tempat awal aku berdiri tadi, terlihat tanah yang terkena cairan dari makhluk itu mengeluarkan sebuah asap seperti melepuh.


Cairan asam, kah? Aku harus lebih berhati-hati dari serangan jarak jauh mereka!


“Akan ku musnahkan kalian semua!” Aku melesat ke arah kerumunan makhluk itu.


Tebas, potong, tusuk. Satu demi satu aku membunuh makhluk menjijikan itu. Akan tetapi, jumlah mereka terasa tidak berkurang sama sekali. Apa yang terjadi? Apakah mereka mendapatkan bantuan? Apakah mereka memiliki seorang Summoner? Kalau begitu, aku harus mencari Summoner itu dan membunuhnya!


Groaarrr!!


Aku membalikkan badanku karena mendengar sebuah raungan monster yang mengerikan.


“Tolonggg! Monster itu terlalu kuat!”


“Selamatkan kami!”

__ADS_1


Aku melihat sesosok monster besar bertubuh humanoid seperti serigala dengan tinggi 4 meter. Monster itu membawa sebuah gada besar yang dia ayunkan untuk membantai para bawahanku.


Aku menjejakkan kakiku lalu melesat ke arah Monster itu. Tatapan kami bertemu, aku mengumpulkan mana di kedua tanganku bersiap untuk melakukan serangan.


Sihir penguatan—Temper.


Melompat ke arah monster itu, aku menebaskan pedangku secara vertikal. Monster itu mengayunkan gadanya ke arahku.


-Bang!


Kedua serangan kami beradu, angin mulai berhembus kencang di sekitar karena benturan dari serangan kami berdua. Pegangan tangannya sama sekali tidak bergetar sedikitpun walau aku sudah melapisi seranganku dengan sihir penguat.


Bergerak mundur untuk menjaga jarak dari monster itu, aku kemudian kembali memusatkan mana di kedua tanganku lalu mengalirkannya ke pedangku.


“I am The True Nobel of The Empire… Strengthen My Sword with Courage, Sharpen my Sword With Honor…” Lingkaran api mulai muncul di tanah yang aku pijak ketika aku mulai membaca mantra sihirku. Api ini kemudian menjalar menuju pedangku melapisinya. Di hadapanku, Monster itu mulai berlari ke arahku dengan kencang.


“In The Name of Habsburg Legacy! Justice Will Prevail!” Monster itu sudah berada di hadapanku hendak mengayunkan gadanya ke arahku.


Groaaarrrr!!!


“Dragon Fire Damnation!!” Aku menebaskan pedangku ke arah monster itu.


Sebuah Ombak Naga Api kemudian melahap monster itu yang membuatnya terdorong mundur. Api yang aku hasilkan sangat panas hingga dapat membakar area sekitar yang berjarak 10 meter dari seranganku.


Sebuah kepulan asap terlihat 30 meter dari tempatku berada. Monster itu menerima serangan telak dari sihirku.


Akan tetapi, ketika kepulan asap mulai menghilang. Sosok monster itu masih terlihat berdiri kokoh walaupun tubuhnya terlihat gosong terbakar apiku.


Aku melihat wajah hitam monster itu menyeringai kepadaku. Tanpa melakukan Recovery, Monster itu mulai kembali berlari ke arahku hendak menyerangku dengan gada besarnya itu.


Groaaarrrr!!!


***


Beberapa menit berlalu setelah aku berpisah dengan Ketua Serena. Aku sekarang tengah mengejar seorang pemberontak yang telah mengaktifkan Artefaknya tadi untuk mengurung area Basecamp ini.


Aku harus cepat mendapatkannya, jika tertunda lebih lama lagi, korban dari Patrol guard akan terus bertambah.


Namun, melakukannya tidak semudah yang dibayangkan. Di seklilingku, beberapa pemberontak tengah mencoba menghentikanku untuk mengejar pria yang membawa artefak itu.


“Mati kau sialan!” Seorang pemberontak melesat ke arahku dari arah depan menggunakan alat unik mereka mencoba menyerangku dengan sabetan pedangnya.


Aku menjejakkan kakiku kemudian melompat ke arah pemberontak yang hendak menyerangku. Dia terlihat terkejut namun tetap melancarkan sabetannya.


Aku memiringkan tubuhku untuk menghindar kemudian melakukan gerakan memutar untuk mendapatkan sebuah momentum serangan lalu menendang dada pemberontak itu membuatnya terpental ke sebuah bangunan.


Aku tidak akan mendapatkan pria yang membawa artefak itu jika aku terlalu disibukkan oleh para pemberontak yang melindunginya.


Menyadari hal itu, aku kemudian berlari masuk ke dalam sebuah bangunan lalu mengaktifkan Featherstep mencoba menghilangkan jejakku dari pengawasan mereka. Aku kemudian melihat para pemberontak itu mengikutiku masuk ke dalam bangunan. Akan tetapi, mereka tidak menemukan keberadaanku sama sekali.


Selama beberapa menit mengejar pria itu, aku telah mengerti rute pelariannya selama ini. Aku kemudian menunggu di sebuah bangunan di sudut timur basecamp ini. Tidak lama lagi, dia pasti akan melewati rute ini.


Itu dia… Pria itu menuju ke arahku didampingi dua pemberontak di kedua sisinya. Aku menjejakkan kakiku lalu melompat ke arah Pria yang membawa artifak itu. Mereka bertiga terkejut melihatku yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


Bamm!


Aku menendang wajah Pria yang membawa artifak itu membuatnya terpental ke sebuah bangunan.


“…!”


“…!”


Aku mendarat di tanah lalu berbalik, kedua rekan pria itu kemudian melakukan sebuah manuver berbalik arah lalu melesat ke arahku. Mengeluarkan pedang ganda mereka, keduanya bersiap menebasku dengan serangan mereka memanfaatkan momentum kecepatan alat yang mereka gunakan.


Aku menunduk untuk menghindari serangan mereka kemudian berbalik menangkap salah satu kaki pemberontak itu lalu membantingnya ke tanah.


Melihat salah satu rekannya tumbang, pemberontak itu kembali melakukan manuver berbalik arah lalu melesat kembali ke arahku.


“Jangan hiraukan dia! Tugas kita adalah untuk mengulur waktu!” Pemberontak itu berhenti mendengar sebuah teriakan. Ketika aku berbalik, ternyata Pria yang membawa artefak itu telah pulih dari tendanganku tadi.


Dia kemudian kembali terbang menggunakan alatnya itu di ikuti salah satu pemberontak tadi. Melihat mereka berdua mencoba kabur, aku kemudian berlari sekencang mungkin lalu melompat ke atas atap bangunan.


Berlari dan melompat-lompat di atas bangunan ke bangunan lain, aku dapat mendahului mereka. Mengeluarkan Baselard dari sarungnya, aku melompat untuk menebas kabel yang mereka gunakan untuk bermanuver. Pemberontak itu kemudian jatuh menghantam tanah lalu tak sadarkan diri.


Sisanya, tinggal orang yang memegang artefak itu.


Aku kembali berlari dan melompat di antara bangunan mengejarnya. Jarak kami semakin dekat dan sekarang aku sudah berada tepat di sampingnya.


Dia melirik ke arahku lalu menyiapkan sebuah pedang di tangan kanannya. Aku pun melompat melesat ke arahnya untuk melancarkan serangan.


Huh? Mengapa pertahanannya sangat terbuka?


Menyadari ada yang tidak beres, aku berbalik ke arah kanan. Terlihat seseorang tengah melesat terbang ke arah kami dengan menggunakan kabel-kabel. Dia lalu menebaskan pedangnya ke arahku.


Clang!


Pedang kami beradu, aku menahan serangannya menggunakan Baselard. Namun, karena momentum kecepatan pria itu, aku terpental ke sebuah bangunan yang terbuat dari kayu.


"Leon! Terima kasih, kau menyelamatkanku! Patrol Guard itu benar-benar gila!"


"Fran, kita lawan dia bersama. Terus berlari hanya akan membuat kita lebih mudah diserang. Kita kalahkan dia di sini!" Aku mendengar dengan samar pembicaraan mereka.


- Brak!


Kedua pemberontak itu lalu menembus masuk ke bangunan dimana aku terpental. Tatapan mata kami bertemu. Di lihat dari teknik Footwork mereka, dua orang ini bukan pemberontak biasa.

__ADS_1


"Hati-hati, Leon! Patrol Guard itu cukup kuat. Dia bahkan bisa mengejar kecepatan Lifter hanya dengan melompat dan berlari," ucap Pria yang membawa artefak itu.


Lifter, kah? aku baru mendengar nama alat-alat peluncur kabel yang dapat membuat mereka bermanuver di udara itu.


Pria yang membawa artefak itu terlihat memegang beberapa senjata lempar di tangannya. Dia lalu melemparkannya ke arahku.


Aku menghindarinya dengan melompat ke arah samping. Akan tetapi, di depanku telah menunggu rekannya hendak menebaskan pedang gandanya padaku. Rupanya, dia telah bersiap bergerak ke tempat aku menghindar dari serangan lempar rekannya itu.


-Clang!


Aku menahannya dengan Baselard. Tidak memberiku kesempatan, dia kemudian menusukan pedang satunya untuk menusuk perutku.


Merespon serangannya, aku berjalan mundur selangkah lalu menangkap gagang pedangnya untuk menahan tusukannya. Aku menendang kakinya dengan keras membuatnya terjungkal ke lantai.


Tidak sempat aku untuk menyelesaikan seranganku, rekannya melempar kembali senjatanya itu membuatku harus mundur.


"Terima kasih, Fran! Aku sangat ceroboh tadi," ucap pria berpedang ganda yang ku jatuhkan tadi itu.


Aku harus menumbangkan pria di belakangnya terlebih dahulu. Dia pasti akan selalu melakukan cover kepada rekannya di saat-saat krusial.


Pria berpedang ganda itu kembali melesat ke arahku. Kami bertukar serangan selama beberapa kali. Kali ini, dia lebih berhati-hati ketika menyerangku dan tidak memberikanku celah untuk melakukan serangan balik cepat.


Pergerakanku juga sering kali dibatasi dengan serangan lemparan pria di belakangnya itu. Membuatku lebih sulit merespon tebasan pria berpedang ganda.


Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat.


Melambatkan sedikit pergerakanku, aku bertujuan untuk membuat mereka lengah. Serangan pria berpedang ganda itu kini berhasil memberikan beberapa sayatan di tubuhku.


Keringat mengucur banyak di tubuhku dan nafasku mulai tidak beraturan. Pria berpedang ganda itu melancarkan serangannya kembali. Aku mencoba menghindar dengan memiringkan tubuhku ke kanan. Akan tetapi, mataku melihat sebuah pisau sedang melayang ke kepalaku.


Dengan cepat aku menangkis pisau itu dengan Baselard.


"Mati kau!" Pria berpedang ganda itu hendak menusukkan salah satu pedangnya ke tenggorokanku.


"Shadow Link—" Tusukkan pedangnya hanya menembus lantai kayu saja.


"...!"


Aku melakukan lompatan bayangan ke pria yang melempar pisau tadi. Terlihat wajahnya sangat terkejut melihatku tiba-tiba muncul dari bayangan dirinya.


-Bam!


Aku menendangnya dengan keras membuatnya terpental keluar menembus dinding kayu bangunan.


"Fran! Siall!!" Pria berpedang ganda itu kembali melesat lalu menyerangku dengan sebuah serangan tusukan.


Aku menunduk lalu berbalik menangkap tangannya kemudian membantingnya ke lantai dengan keras.


"Aghh!" Dia melepaskan salah satu pedangnya.


-Bam!


Aku menendang rusuknya dengan keras membuatnya terpental keluar menembus dinding kayu bangunan.


Aku mengejar mereka keluar lalu mendapati keduanya sedang mengeluarkan darah dari mulut mereka.


"Menyerahlah, kalian berdua tidak bisa mengalahkanku."


Mendengar kata-kataku, Pria berpedang ganda meludahkan darah yang ada dalam mulutnya ke tanah. "Kami Wings of Freedom akan berjuang sampai mati!"


Setelah mengatakan itu, dia lalu kembali berlari ke arahku. Kali ini, serangannya terlihat lebih lambat.


"Ughhh!" Aku menendangnya kembali dengan keras membuatnya terpental jauh.


Namun, rekannya yang berada di belakangnya membuka jaketnya. Tubuhnya dilingkari oleh semacam alat peledak— Dinamit. Dia kemudian menyalakan sumbu dinamit itu.


"Ahhhh! Aku akan mati bersamamu sialan!" teriaknya sambil melompat ke arahku.


-Slash!


"...!" Wajahnya terlihat terkejut.


Aku menebas sumbu api itu mencegahnya mencapai dinamit yang di pasang di tubuhnya.


Pria itu memegangi perutnya yang mulai basah dengan darahnya sendiri. "Ti-tidak mungkin... "


"Frannn! Tidakkkk!" Rekan pria itu mencoba bangkit.


Aku mengambil artefak dari saku pemberontak itu lalu menendangnya yang membuatnya terpental ke samping rekannya yang masih kesulitan bangkit.


"Fran! Fran! Jawab aku!"


Tanpa menghiraukan kedua pemberontak itu, aku kemudian menonaktifkan artefak yang membuat tempat ini menjadi terkurung seperti sangkar burung.


Cahaya-cahaya merah yang membatasi wilayah ini mulai kembali masuk ke artefak yang sedang aku pegang.


-Crack


Artefak itu hancur berkeping-keping setelah digunakan.


Dengan ini, Para Patrol Guard bisa mulai mundur melarikan diri dari monster-monster itu.


...----------------...


__ADS_1


...Author Note : Ilustrasi Zerrigan—Monster Serangga...


__ADS_2