
Aku dan Ketua Serena bergegas untuk mencari lokasi dimana Adik Angelo ditahan. Anak itu mengatakan, lokasinya berada di salah satu gudang penyimpanan Kota.
Terdapat sekitar sepuluh gudang yang ada di Kota Wien. Kami memberitahu kepada para anggota yang kami temui di jalanan untuk mencoba memeriksa setiap gudang yang ada.
Setelah beberapa menit, kami pun akhirnya telah sampai di gudang yang ada di sudut utara Kota. Terlihat beberapa pegawai sedang bekerja di tempat itu.
"Buka gudang ini segera!" perintah Ketua Serena kepada para pegawai.
"Ta-tapi, kami tidak ber—"
Sebelum dapat menyelesaikan perkataannya, Ketua Serena mendorong pegawai itu hingga menabrak dinding gudang. Dia kemudian menarik kerah pegawai itu mencoba mengintimidasinya.
"Buka sekarang pintu gudang ini atau kau akan menikmati waktu istirahatmu besok di sel tahanan!" bentak Ketua, membuat pegawai itu ketakutan.
Pegawai itu mengangguk-angguk lalu mengeluarkan sebuah kunci. Dia kemudian bergegas untuk membuka pintu gudang.
Di dalamnya, terlihat banyak sekali kotak yang tersimpan di rak-rak yang sudah diberi tanda.
"Sirius, bongkarlah kotak-kotak ini untuk mencari barang bukti!" perintah Ketua.
Kami kemudian memeriksa beberapa kotak barang yang ada di gudang ini. Aku mencoba membongkar secara detail bungkusan dan isi barang yang ada di dalam kotak secara teliti agar tidak melewatkan barang bukti.
Setelah beberapa menit mencari, Aku menemukan sebuah kasur yang isinya sedikit mencurigakan. Mengambil Baselard dari sarungnya, Aku kemudian membelah kasur tersebut.
Terlihat beberapa bungkus paket obat yang ada di dalam kasur tersebut.
"Aku menemukannya, Ketua!"
Ketua Serena kemudian menghampiriku lalu mengambil paket obat-obatan tersebut.
"Dengan ini, keterlibatan pegawai pemerintahan mengenai kasus peredaran obat terlarang terbukti sudah," kata Ketua Serena. "Salah satu dari kalian hubungilah Archduke Otto dan beritahu penemuan kita ini," perintah Ketua kepada anggota lainnya.
"Ketua, kita harus bergegas ke gudang yang lain. Mereka masih menyandera Adik dari anak itu." Aku tidak ingin berlama-lama di sini.
"Baiklah, mari kita pergi ke gudang yang lain," kata Ketua. Dia kemudian berbalik menghadap anggota yang lainnya. "Kuserahkan yang di sini pada kalian, Aku dan Sirius akan pergi memeriksa ke tempat yang lain!"
Kamipun pergi meninggalkan tempati ini untuk mencari tempat persembunyian sindikat pengedar narkoba yang lainnya.
***
Di sisi lain, Angelo sedang berlari menuju salah satu gudang yang ia ingat untuk menyelamatkan adiknya. Mengetahui dia gagal membunuh Sirius dan Serena, dia takut para sindikat itu melukai adiknya.
Aku harus cepat... Tunggu Aku Aria, Kakak pasti akan menyelamatkanmu!
Hari sudah memasuki sore, langit terlihat mulai gelap. Awan hitam muncul di atas langit, menandakan hujan akan turun.
Angelo terus berlari bagaikan hidupnya bergantung pada kecepatan kakinya itu.
Tidak lama kemudian, dia telah sampai di dekat area gudang penyimpanan yang ada di distrik keagamaan, tempat dimana para pendeta tinggal dan Kuil Athena Kota Wien berada.
Terlihat jalanan yang ada di sini sepi tidak seperti biasanya. Angelo tidak menghentikan larinya, dia kemudian sampai di tempat yang mana ia yakini menjadi tempat para sindikat memproduksi obat-obatan terlarang dan menyandera Aria.
Tempat ini di kelilingi oleh sebuah tembok yang memiliki tinggi 3 meter.
Angelo kemudian melompat ke arah tembok tersebut. Satu tangannya menggapai puncaknya, ia lalu berusaha menaikan tubuhnya untuk melewati tembok tersebut.
Aku berhasil... Itu dia gudangnya.
Tidak membuang waktu, Angelo kemudian berlari menuju bangunan besar yang ia duga menjadi gudang tempat penyimpanan dan produksi para sindikat.
Terdapat sebuah pintu gerbang tinggi yang menutup tempat masuk ke dalam gudang tersebut. Angelo melihat ke atas, terlihat di puncaknya sebuah celah yang dapat ia masuki.
Dia kemudian bergegas memanjat gerbang tersebut. Dengan susah payah dia mencapai celah yang ada di puncak gerbang.
Setelah berhasil sampai di puncak, Angelo kemudian memasuki celah tersebut lalu melihat sebuah ruangan yang cukup gelap.
Dia turun kemudian berjalan mengeksplor gudang tersebut.
__ADS_1
Dimana mereka menyembunyikan Aria...?
Selama dia mengeksplorasi gudang ini, Angelo hanya melihat beberapa peralatan dan sebuah cairan aneh yang ia duga sebagai bahan pembuatan obat ilegal tersebut.
Tidak lama kemudian, dia sampai di sebuah pintu yang mengarah ke sebuah ruangan. Dia mencoba membukanya dan mendapati ruangan itu tidak terkunci sama sekali.
Namun, apa yang ia lihat dalam ruangan ini membuatnya terdiam membeku.
Sesosok mayat anak gadis terlihat bergelantungan terikat dengan sebuah tali. Terlihat beberapa sayatan yang ada di tubuhnya, menandakan dia mati dalam keadaan tersiksa. Baju yang gadis itu kenakan robek, baju yang sebelumnya Angelo berikan padanya sebagai hadiah.
Angelo mengepalkan tangannya dengan keras. Air mata membasahi pipinya. Hatinya hancur bagaikan sebuah kaca yang hancur melihat kondisi adiknya yang mati dengan mengenaskan.
"Ah... Angelo, kau sudah datang rupanya? Kau ketinggalan acara utamanya tadi."
Si Pria misterius kemudian muncul bersama beberapa orang lainnya. Dia terlihat tersenyum kepada Angelo, seperti mencemooh ketidakberdayaannya melindungi adiknya tercinta.
"Sayang sekali kau gagal menjalankan misimu itu, Bocah," kata pria misterius tersebut. "Sekarang, kau tidak ada gunanya lagi bagi kami."
Mendengar suara pria itu membuat emosi Angelo memuncak, tatapan matanya memperlihatkan niat membunuh yang sangat besar.
"Tak akan kumaafkan kau..." gumam Angelo.
"Apa katamu, Bocah? Aku tak mendengarmu?" ejek pria tersebut.
Angelo meraih belatinya lalu mulai berlari ke arah pria tersebut.
"KUBUNUH KAU BAJINGAN!"
***
[Serena PoV]
Aku dan Sirius bergerak dari gudang satu ke gudang yang lainnya. Namun, kami hanya menemukan beberapa paket obat ilegal siap kirim saja. Kami belum menemukan bukti salah satu gudang tersebut menjadi tempat sindikat itu memproduksi obat ilegal mereka.
Tinggal dia gudang penyimpanan tersisa yang belum sama sekali Patrol Guard periksa di Kota ini.
"Sirius, menurutmu, kita harus pergi ke gudang yang ada di distrik keagamaan atau distrik pemerintahan?"
"Mari kita periksa yang ada di distrik keagamaan terlebih dahulu, Ketua."
"Baiklah."
Kamipun mulai bergegas menuju lokasi. Terlihat langit semakin gelap karena tertutup oleh awan hitam. Rintik hujan mulai turun membasahi seragam yang kukenakan.
Setelah tak lama berlari, kami akhirnya telah sampai di tempat penyimpanan yang cukup luas ini. Terlihat dinding setinggi tiga meter mengelilingi area penyimpanan.
Kamipun berjalan menuju pintu gerbang, terlihat dua orang penjaga yang sedang asyik mengobrol. Menyadari kehadiran kami, mereka kemudian berhenti mengobrol lalu menghampiri kami.
"Lady Serena, apa yang Anda perlukan di sini?" tanya salah satu penjaga.
"Buka gerbangnya," perintahku pada mereka.
"Kami ingin tahu keperluan Anda terlebih dahulu, Lady Serena," kata penjaga tersebut bersikeras.
Aku dengen segera menghunuskan pedang ke arah leher penjaga tersebut tanpa mengatakan apapun. Aku menatapnya dengan dingin sampai dia mengerti apa yang akan kulakukan tanpa mengatakannya.
Ekspresinya berubah menjadi ketakutan. Dia kemudian mengangguk lalu mengambil sebuah kunci dari sakunya.
Setelah pintu terbuka, kami bergegas menuju gudang. Terlihat sebuah bangunan cukup besar untuk menjadi sebuah tempat produksi obat ilegal.
"I-itu gudangnya, Lady Serena," kata si Penjaga dengan suara gemetar.
Dia kemudian membuka pintu bangunan tersebut.
Setelah memasuki bangunan itu, samar-samar Aku mendengar suara keributan. Aku dan Sirius bergegas ke sumber suara lalu mendapati sebuah ruangan yang cukup besar.
Di sana terlihat banyak orang yang terlihat membawa senjata. Orang-orang itu sedang menyaksikan dan menyoraki seorang anak kecil yang penuh luka merangkak di tengah ruangan untuk mencapai mayat seorang anak perempuan.
__ADS_1
Anak kecil itu... Dia adalah anak yang sering berlatih dengan Sirius.
"Ah, Ketua Patrol Guard—Serena von Ritterburg. Selamat datang di tempat kami, sayang sekali kalian tidak dapat datang tepat waktu untuk melihat acara utama!" kata seorang pria misterius. Wajahnya terlihat terhalang sebuah tudung.
Aku mengabaikan perkataan pria itu lalu melihat kondisi anak kecil yang sedang merangkak. Dengan kondisi luka seperti itu... Dia sepertinya tidak akan tertolong.
"Aria.... "
Bocah itu akhirnya dapat mencapai mayat anak perempuan yang terlihat mati dalam keadaan mengenaskan.
"Maafkan kakak... Ini semua salahku... Huuuu... "
Bocah itu menangis. Sepertinya, mayat anak perempuan itu adalah adiknya.
Aku melihat Sirius menghampiri Bocah itu. Dari belakang sini, sulit untuk melihat ekspresi apa yang dia buat melihat pemandangan ini.
"Sirius... " kata Bocah itu menyadari kehadirannya.
"Aku hanya ingin membuat Adikku bahagia... Membuatnya hidup senang... Tidak merasa kelaparan dan kehausan... Tidak kedinginan ketika musim salju tiba.... "
Bocah itu menarik kerah Sirius. Mendengar kata-kata Bocah itu, Sirius hanya diam tanpa berkata-kata.
"Mengapa kami harus mengalami nasib seperti ini...? Kami orang lemah hanya bisa menerima takdir pahit kami tanpa bisa mengubah apapun... Kami hanya dapat menerima ketika yang memiliki kekuatan melakukan semau mereka pada kami..."
Bocah itu memukul dada Sirius terlihat melampiaskan semua emosi yang ada dalam dirinya.
"Mengapa dunia ini tidak adil....?"
Dengan kata-kata terakhir itu, Bocah itu kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
Sirius menutup matanya lalu membaringkan mayat Bocah itu di samping mayat Adiknya.
"Kau sudah berusaha dengan keras, Angelo," kata Sirius lirih. Ekspresinya terlihat tenang dan tidak menunjukan emosi apapun. "Sekarang, serahkan semuanya padaku... "
Sirius kemudian berdiri, berjalan ke arah orang-orang yang bersama pria misterius tersebut.
"Hee~ Apa kau pikir, hanya kalian berdua dapat mengalahkan seratus dari kami!?" ejek pria misterius itu. "Kami akan membunuh kalian berdua layaknya bocah tidak berguna itu lalu bermain-main dengan mayat kalian!"
Sirius tetap tidak menghentikan langkahnya, dia kemudian menghunuskan pedang pendeknya itu.
"Kami berdua? Aku sendiri saja cukup untuk mengalahkan sampah-sampah seperti kalian," kata Sirius dengan nada suara yang biasa. Namun, Aku mengetahui, hatinya saat ini sedang menjerit.
Dia kemudian mulai melesat ke arah seratus orang itu.
Para sindikat mulai berlari ke arah Sirius, mengerumuninya dari segala arah.
Namun, Aku melihat potongan tangan dan kaki manusia terlempar melayang ke udara. Sirius dengan lihai menghindar semua serangan yang dilancarkan para sindikat itu lalu menyerang mereka dengan cepat.
Melihat kekuatan Sirius, para sindikat itu mulai mundur.
Terlihat tubuh Sirius bersimbah darah orang-orang yang menyerangnya tadi. Jeritan kesakitan dari para sindikat itu mulai terdengar keras di ruangan ini. Tangan dan kaki mereka terpotong dan tersebar di segala ruangan.
"Mengapa? Kalian takut hanya menghadapi satu orang? Mengapa tidak kalian tunjukan padaku cara kalian menguliti anak tadi?"
Melontarkan kata-kata seperti itu, Aku melihat sebuah aura hitam yang keluar dari tubuh Sirius. Entah mengapa, nafasku mulai sedikit sesak. Apakah ini hanya karena Aku merasakan niat membunuh Sirius yang besar?
Sirius kemudian mulai berjalan perlahan ke arah para Sindikat itu.
"Ada apa? Bukankah kalian ingin mengajakku bersenang-senang? Mengapa kalian sekarang menjauh?" kata Sirius dengan nada suara yang dingin.
Suara petir menggelar, suara rintik hujan terjatuh di atas atap gudang mulai terdengar lebih kencang. Membuat pemandangan di dalam sini jauh lebih mengerikan.
Beberapa dari para Sindikat itu mulai pingsan menerima intimidasi aura membunuh yang Sirius berikan. Mulut mereka mulai berbusa dan nafas mereka terlihat terengah-engah.
"Mari kita bersenang-senang."
Setelah mengatakan hal itu, Sirius mulai melesat ke arah para sindikat. Dia mulai memotong-motong tangan dan kaki orang-orang itu tanpa perlawanan. Mereka terlalu ketakutan untuk menggerakkan tubuh mereka.
__ADS_1
Akhirnya... Sirius dapat mengalahkan para sindikat itu dan yang mengejutkan...
Tanpa ada satupun yang mati.