The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 3 : Prolog


__ADS_3

Satu bulan setelah pertarungan antara Patrol Guard dengan para pemberontak di perbatasan Archduchy, stabilitas keamanan di area sekitar menjadi lebih baik. Tidak ada kejadian kejahatan besar sama sekali terjadi setelahnya.


Hari ini di Kota Wien, para warga berbondong-bondong ke jalan utama untuk menyaksikan rombongan Sang Saint dan para Pahlawan tiba di Kota Wien.


Para pahlawan akan menjalani Trial terakhir mereka di Archduchy Astria yang akan berlangsung selama beberapa minggu. Yang dimana akan menentukan, siapa yang berhak menggunakan tiga pedang legendaris.


"Hey, mereka telah sampai!"


"Mana!? Mana!? Biarkan aku melihat mereka!"


Gerbang utama kota pun terbuka, sebuah kereta kuda terbuka membawa Seorang Wanita berambut platinum memasuki jalan utama kota. Terdapat dua orang Ksatria yang mengawal kedua sisi kereta kuda itu.


Tidak lama setelah itu, para pahlawan memasuki jalan utama kota dengan menunggangi kuda diikuti Ksatria-Ksatria suci di belakang mereka.


"Wohh, ternyata yang dirumorkan memang benar!"


"Ya, kecantikan Sang Saint tidak ada tandingannya!"


"Hey, lihat! Sang Saint melambaikan tangannya dan tersenyum padaku!"


"Berhenti bermimpi bodoh! Sang Saint itu tersenyum padaku!"


Para pria tiba-tiba mulai bersemangat ketika Lena berdiri tersenyum lalu mulai melambaikan tangannya menyapa para warga.


"Saint Agung, terlalu beresiko jika Anda terpampang jelas dihadapan publik," Georgy berbicara mendekati Sang Saint.


"Tuan Georgy, dengarkanlah suara mereka. Para warga di sini telah menunggu lama untuk menyambut kedatangan kita. Ini adalah kewajibanku membalas keramah-tamahan warga kota ini," jawab Lena.


"Sesuai keinginan Anda, Saint Agung."


Para rombongan melewati jalanan Kota. Bunga-bunga bertebaran di jalanan. Suasana Kota sangat hidup berkat kedatangan Sang Saint dan Para Pahlawan.


Bagi warga biasa, dapat melihat Sang Saint adalah sebuah pengalaman sekali seumur hidup. Hanya bangsawan tingkat tinggi saja yang bisa bertemu dengannya secara langsung jika dalam situasi normal.


Kereta Kuda Sang Saint kemudian tiba di alun-alun Kota. Lena kemudian turun lalu berjalan didampingi oleh Georgy menuju kediaman Pangeran Otto.


Mulai dari sini, para warga dilarang untuk mendekat dan hanya diperbolehkan para Patrol Guard saja yang menjaga di kedua sisi jalan. Para pahlawan turun mengikuti Sang Saint dari belakang.


Terlihat para Patrol Guard mengepalkan tangan kanan mereka dan meletakkannya di dada kiri sebagai gestur penghormatan terhadap Sang Saint dan para Pahlawan yang kembali dari medan perang.


Tidak lama kemudian, Lena dan Georgy telah sampai di kediaman Pangeran Otto. Telah hadir juga para Bangsawan lain yang telah datang untuk menyambut Sang Saint.


"Selamat datang di Kota Wien, Saint Agung." Pangeran Otto kemudian menunduk lalu mencium tangan Lena sebagai gestur penghormatan yang biasa dilakukan oleh Bangsawan.


"Yang Mulia, para warga Kota Wien sangat antusias sekali hari ini. Aku berterima kasih kepada Anda dan seluruh para warga karena telah menyambut kedatangan kami semeriah ini," ucap Lena sambil tersenyum.


"Aku tidak melakukan apa-apa, Saint Agung. Para warga kota Wien datang dengan sendirinya karena penasaran dengan rumor tentang kecantikan Anda selama ini. Saya rasa, sekarang hal itu bukan rumor lagi ketika sekarang mereka sudah melihat Anda secara langsung," puji Pangeran Otto.


"Kami akan menetap di Kota ini selama beberapa minggu, Yang Mulia. Selama hari itu, mohon kerja samanya," ucap Lena.


"Saint Agung tidak usah sungkan, Anda dan para Pahlawan akan selalu diterima di Kota Wien.


Lena dan para Pahlawan lalu masuk ke kediaman Pangeran Otto untuk makan Siang dan membicarakan beberapa hal mengenai kegiatan mereka keesokan harinya.


***


Ruhmstadt—Ibukota Kekaisaran Habsburg—Ruangan Kanselir.


Duke Franz tengah membaca dokumen-dokumen laporan yang dia terima dari Departemen intelejen. Dalam laporannya dikatakan, terdapat sebuah obat-obatan terlarang beredar di Kekaisaran yang membuat para warga kecanduan dan kehilangan akal mereka.


Hal ini sudah berlangsung selama satu bulan lebih. Namun, para mata-mata Kekaisaran masih belum dapat mencium jejak dari pelaku utama yang mengedarkan obat-obatan terlarang itu.


Kecurigaan terbesar mereka adalah orang-orang Republik. Namun, mereka masih belum mempunyai bukti tentang keterlibatan mereka dalam hal ini.


"Masalah keamanan Kekaisaran tidak kunjung selesai, baru saja para pemberontak itu berhasil diredam, muncul lagi masalah baru," gumamnya.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


"Kanselir, Duke Penrose telah hadir di ruangan tunggu." Suara pelayanan memberitahukan kedatangan tamu Sang Kanselir.


"Dia bisa masuk sekarang."


Duke Penrose van Reginar merupakan Bangsawan paling berpengaruh di wilayah Barat Kekaisaran. Duke Franz memiliki hubungan yang baik dengan mendiang ayahnya.


Karena itulah Duke Penrose menghabiskan masa kecilnya di kediaman Keluarga Ritterburg untuk menjadi seorang Ward ( Anak bangsawan yang dititipkan kepada Bangsawan lain untuk di didik) Keluarga Ritterburg.


Pintu ruangannya pun terbuka memperlihatkan seorang Pria berumur 20an awal.


"Salam Duke Franz, maaf mengganggu di saat Anda sedang bekerja." Penrose menyapanya.


"Tidak apa-apa Duke Penrose, silahkan duduk terlebih dahulu."


Duke Penrose menerima tawarannya lalu duduk di depan meja Duke Franz.


"Ada perlu apa Duke Penrose jauh-jauh menemui saya? Apakah urusan pribadi atau urusan resmi?" tanya Duke Franz.


Duke Penrose lalu tersenyum laku berkata, "ini mengenai Putri Anda—Serena, Duke Franz."


Mendengar nama Serena dari Duke Penrose, ekspresi Duke Franz menjadi berubah.


***


Gedung Dewan Kota, seorang pria paruh baya tengah keluar dari Gedung Dewan Kota.


Di depan gedung, terdapat sebuah kereta yang telah disiapkan untuk membawanya pulang. Supir kereta kuda itu membukakan pintu untuknya. Di dalamnya, terdapat satu orang bodyguard untuk menjaganya dalam perjalanan.


"Mau kemana Anda hari ini, Tuan Georg?" tanya Supir itu.


"Kita ke Kota Wuzburg. Aku ada urusan di sana 4 jam lagi," jawabnya.


"Sesuai keinginan Anda, Tuan." Mereka lalu mulai melakukan perjalanan.


"Hey, apakah kau orang baru?" tanya Georg.


"I-iya Tuan."


Georg merasa nada bicaranya sedikit aneh. Dia memutuskan untuk menggantinya kembali nanti jika ada waktu. Bodyguard dia sebelumnya tiba-tiba untuk memutuskan pensiun. Orang yang sedang duduk bersamanya ini adalah rekomendasi yang dipilih oleh Bodyguard dia yang sebelumnya.


"Tunggu Pak Supir, ini kurasa bukan jalan yang akan menuju gerbang Kota." Georg merasakan keanehan.


"Ah, Tuan. Jalan menuju gerbang utama sedang ditutup. Apakah Tuan sudah lupa? Sang Saint dan para Pahlawan sudah tiba di Kota ini." Mendengar alasan Sang Supir membuat kecurigaan Georg hilang.


Setelah hampir setengah jam melakukan perjalanan, Georg kemudian merasa dia tidak kunjung keluar dari Kota Wien. Dia melihat keluar jendela mendapati dirinya sedang ada di sebuah tempat pembuangan air Kota.


"Pak Su—"


-Click


Dia mendengar sebuah suara. Kepalanya ditodong dengan sebuah Ludger oleh Bodyguardnya.


"Si-siapa kau? Apa maumu?" tanya Georg dengan suara gemetar.


"Oh, kau sudah mengenalku Georg." Bodyguard itu kemudian memperlihatkan wajahnya.


"Ra-radolf?"


"Aku tidak akan mengulangi pertanyaanku, aku mungkin akan mengampuni nyawamu jika kau memberitahukan apa yang kumau, mengerti?" ancam Radolf.


"A-aku mengerti."


Radolf kemudian diam sejenak.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu untuk mengganti para Patrol Guard yang menjaga Teater pada malam dimana keluargaku terbunuh?" tanya Radolf dengan nada dingin.


"A-aku tidak tah—"


-Dor!!!


"Agghhh! Ti-tidak, jangan bunuh aku!" Radolf menembak paha Georg.


"Tatap mataku!" Radolf menjambak rambut Georg. "Kali ini aku akan membunuhmu!"


"Hiekkk! Iya! Iya! Aku akan menjawabnya! Mayor Landa! Dia yang menyuruhku untuk melakukannya!" jawab Georg ketakutan.


Mayor Landa adalah salah satu dari lima pejabat penting Archduchy Astria yang bertanggung jawab dalam penegakkan hukum di Archduchy Astria. Pangeran Otto memiliki 5 orang bawahan yang membantunya dalam mengurusi wilayahnya.




Mayor (Berwenang dalam penegakkan hukum)




Steward ( bendahara)




Marshal ( berwenang dalam menjaga keamanan)




Spymaster ( Berwenang dalam aktivitas intelejen)




Bishop ( Pemimpin Religius di suatu Kota/Daerah)




Setelah mendengar info dari Georg, Radolf kemudian mengeluarkan sebuah koin.


"Kepala kau mati, Ekor kau selamat." Radolf kemudian melempar koin itu ke udara lalu menangkapnya.


"Sayang sekali... "


-Dorr!


Darah terciprat ke mana-mana. Terdapat lubang di kepala Georg.


Radolf kemudian keluar dari kereta kuda lalu mengeluarkan sejumlah uang memberikannya kepada Sang Supir.


"Setelah kau menghanyutkan mayatnya, pergilah dari negeri ini mengerti? Jika aku masih menemukanmu, maka aku sendiri yang akan membunuhmu," ancam Radolf.


"Iya, Tuan." Supir itu kemudian berbalik mengangkat jasad Georg lalu membuangnya ke saluran air.


-Dorr!

__ADS_1


Tubuh Sang Supir terkulai lemas lalu terjatuh ke saluran Air bersama tubuh Georg. Radolf menembaknya dari belakang.


"Mirela, Milo. Aku akan membalaskan kematian kalian. Ini hanyalah awal saja," gumam Radolf melihat kedua mayat itu hanyut terbawa arus air.


__ADS_2