
Sore harinya. setelah selesai menjalankan tugas patrol rutin, Aku dan Senior Hans sedang menuju ke sebuah tempat untuk mengajak seorang pendeta. Aku berjalan sambil membaca data target dari dokumen yang Ketua berikan.
Hm… Pendeta Lemar? Umur 34 tahun, diangkat menjadi pendeta sejak umur 20 tahun. Salah satu dari empat Asisten dari Bishop Roman.
Dia cukup memiliki jabatan dan pengaruh juga di Kota ini. Jika Seorang Abbot adalah pendeta yang memimpin Kuil Athena dia sebuah desa, maka seorang Bishop adalah pendeta yang memimpin Kuil utama yang berada di sebuah Kota.
Tidak lama kemudian, kami memasuki sebuah distrik hiburan. Terlihat kerlap-kerlip cahaya berbagai warna yang menerangi jalan dan bangunan-bangunan di sini.
“Senior Hans, apa yang kita lakukan di sini? bukankah kita seharusnya kita mencari seorang pendeta dari Departemen Spritual?”
“Tentu saja. Di jam seperti ini, dia pasti akan ditemukan di tempat ini kau tahu.” Senior hans terlihat menyeringai ketika mengatakan itu.
Kami lalu sampai di sebuah bangunan yang terlihat ramai oleh muda-mudi. Kami lalu masuk lalu aku melihat banyak sekali wanita-wanita berpakaian minim yang sedang melayani para pria.
Ini adalah ... rumah bordil.
“Uahahaha… Melisa, kau terlihat cantik malam ini. Senyummu, suaramu, membuat hatiku meleleh.”
Aku mengalihkan perhatianku kepada seorang pemuda tampan berambut panjang sebahu mengenakan pakaian pendeta.
“Aww… kau sangat lihai dengan mulutmu itu pendeta Karl. Dengan wajah tampanmu, berapa wanita yang telah jatuh hati mendengar rayuanmu itu?” Wanita pelayan itu terlihat tersipu.
“Apa maksudmu Melisa? Hatiku tidak pernah sehangat ini melihat senyuman seorang wanita kau tahu.”
“Hee~ Bukankah Anda juga mengatakan hal yang sama kemarin kepada Sirila.” Ekspresi pelayan itu berubah drastis ketika mengatakan hal itu padanya.
“Ahahaha…” Mendengarnya, pendeta itu hanya tertawa canggung.
Senior Hans kemudian menghampiri pendeta itu. Akupun mengikutinya dari belakang.
“Yoo, Karl. Seperti biasa, kebiasaanmu menggoda banyak wanita masih kau lakukan. Kau tidak akan pernah mendapatkan pasangan jika kau tidak berhenti melakukan hal ini kau tahu.”
Senior Hans, aku tidak ingin mendengar kata-kata itu darimu ketika kau masih tidak bisa meluluhkan hati Wakil Ketua.
“Ahh... Hans. Kau kemari untuk membayar hutangmu, kah?” tanya pendeta itu sambil melepaskan tangannya dari wanita pelayan.
“Heyy, mengapa setiap aku datang padamu kau selalu membahasnya! Jangan membuatku malu di hadapan anak baru!”
Mendengar perkataan Senior, Pendeta itu kemudian melihat ke arahku. Dia kemudian berdiri lalu menghampiriku.
“Begitukah, kau anak baru rupanya! Kau memiliki wajah yang cukup lumayan, tubuhmu juga ideal! Hey anak baru, maukah kau ikut denganku untuk kencan dengan ibu-ibu yang kesepian?” Ekspresinya terlihat bersemangat.
Plakkk!
“Hey, jangan jerumuskan dia ke hobimu yang aneh itu! Dia bisa mendapatkan banyak masalah kau tahu.” Senior memukul kepalanya.
“Hey! Aku tidak punya pilihan! Jika aku ingin minum-minum semalaman, uang yang ku dapat dari departemen tidak akan cukup. Para ibu-ibu kesepian itu selalu mentraktirku dengan balasan, aku menemani malam mereka ketika suami mereka selalu sibuk di luar sana!” ujarnya sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan.
“Sudahi omong kosong ini! Kami di beri misi oleh Ketua kau tahu, dan dia memerintahkan kami untuk mengajak salah satu unit dari Departemen Spiritual untuk menjalankan misi ini.” Senior menjelaskan tujuan kedatangan kami padanya.
“Cari saja yang lain aku sib—“
“Jika misi selesai dengan baik, kita akan mendapatkan bonus satu bulan gaji.” Potong Senior.
“Aku ikut.” Tiba-tiba sikapnya berubah ketika mendengar kata bonus itu. ”Mari kita pindah ke tempat lain untuk membahas secara detail tentang misi ini,” ajak Senior Karl.
Kami kemudian pergi ke sebuah kafe yang ada di pinggir jalan untuk membahas tentang misi ini.
“Lalu, bagaimana tentang detail misinya?”
“Sirius, jelaskan padanya.”
Mengapa harus aku? Senior ternyata tidak mengingat apapun tentang apa yang di bicarakan Ketua tadi pagi.
“Ketua ingin kita menginvestigasi tentang sebuah pelelangan ilegal yang tengah aktif beroperasi akhir-akhir ini.” Aku kemudian mengeluarkan sebuah dokumen target yang di beri oleh ketua.”Ketua bilang, tempat itu berada di sekitaran Hutan Eldea. Akan tetapi, kami masih tidak mengetahui letak pastinya pelelangan itu.”
__ADS_1
“Lalu, dokumen ini?” Senior Karl mengambil kemudian membaca dokumen itu.
“Itu adalah target yang kami duga mempunyai informasi tentang pelelangan itu. Apakah Senior mengetahui orang ini?”
Senior Karl kemudian sesaat memperhatikan data target kami.
“Tentu saja aku mengenalnya. Dia adalah mentorku ketika aku masih menjadi Acolyte. Bukan orang yang baik dan bisa di bilang, kebiasaanku bermain dengan perempuan aku dapatkan darinya ketika dulu.”
“…”
“…”
Mendengarnya, aku kemudian menatap Senior seolah bertanya, ’apakah Senior tahu tentang ini?’ dia hanya mengangkat bahunya seolah mengatakan ‘mana ku tahu’.
“Kurasa aku tahu dimana keberadaan dia sekarang.”
...----------------...
Di Hutan Eldea, sebuah kereta kuda mewah sedang melaju di antara pepohonan hutan. Di belakangnya terlihat beberapa kereta kuda yang membawa beberapa manusia maupun demihuman yang terkurung di sebuah jeruji besi.
Di dalam kereta kuda mewah itu, terdapat seorang pria muda yang berusia di awal 20an dan seorang wanita yang tidak jauh beda dengannya dari segi usia.
Wanita itu memiliki rambut coklat dan memakai pakaian yang sangat menggoda memperlihatkan segala lekuk tubuhnya. Orang-orang tidak akan menyangka bahwa wanita itu adalah seorang pembunuh yang terampil dengan tampilannya itu.
“Kerja bagus karena telah melindungi barang-brangku ketika terjadi penggrebekan bulan lalu. Keluarga kami akan pastikan imbalan yang besar untuk jasamu.”
“Sepertinya, Para patrol Guard Kekaisaran telah mencium aktivitas kalian. Kurasa, mereka sudah memulai investigasi untuk mencari jejakmu kau tahu.”
Wanita itu duduk berhadapan dengan pria itu dengan menyilangkan kaki di lututnya sambil meminum segelas teh.
Walaupun di hadapannya terdapat sebuah pemandangan yang cukup erotis, pria itu tidak berani bermain-main dengan wanita di hadapannya itu.
“Karena itu aku ingin kau menjaga gudang penyimpanan barang-barangku untuk kali ini. Jika para Patrol Guard itu sampai menemukannya, bisnisku akan hancur.”
Wanita di depannya kemudian tersenyum nakal lalu berkata, “Baiklah. selama bayarannya menarik, kau bisa memakai jasaku.”
...----------------...
Apakah mereka melakukan itu untuk menyembunyikan identitas mereka? Kurasa akan menjadi masalah besar untuk mereka jika publik mengetahui mereka sering mengunjungi tempat ini.
“Dengar Hans, kurasa kau yang harus menarik informasi dari pendeta Lemar.”
“Hey, mengapa harus aku. Bukankah kau kenalannya?” tanya Senior Hans penuh keraguan.
“Kau itu mudah mengajak bicara seseorang. Buat dia mabuk dan bawa dia ke pembicaraan tentang pelelangan, dia itu sering ceplas-ceplos ketika dia mabuk.” Senior Karl menjawabnya dengan sedatar mungkin.
Kurasa Senior Karl merencanakan sesuatu.
“Aku tidak mau berduaan dengan laki-laki yang sifatnya tidak jauh sepertimu di tem—“
“Jika kau mau melakukannya, aku akan anggap hutangmu yang sebelumnya lunas.” Potong Senior Karl.
“Baiklah, serahkan saja ini padaku.”
Seputus asa itukah Senior mengenai masalah keuangan?
Kami lalu sampai di sebuah bangunan tiga lantai. Menurut Senior Karl, bangunan ini memiliki rungan bawah tanah yang cukup luas dan tampilan luarnya hanya sebagai tipuan agar tempat ini terlihat biasa.
“Baiklah Hans, dia biasanya ada di ruangan nomer 4 kamar 21. Masuklah kesana dan bilang saja kau adalah orang yang di kirimkan oleh madam.”
“Lalu, apa yang akan kalian berdua lakukan selama aku menarik informasi darinya?”
“Kami akan menunggumu di titik pertemuan 6 Hutan Eldea. Bukankah kita harus memeriksa sekitar sebelum melakukan investigasi di sana. Kau susul lah kami jika sudah mendapatkan informasi darinya.”
Setelah Senior Hans masuk. Aku dan Senior Karl lalu mulai berjalan menuju hutan Eldea yang berada sekitar 10 Km dari Kota Wien.
__ADS_1
“Sirius, kan? Ceritakanlah tentang dirimu agar perjalanan kita kesana tidak terlalu membosankan. Mulai dari dimana asalmu dan kenapa kau menjadi seorang Patrol Guard.”
Aku kemudian diam sesaat untuk memikirkan apa yang akan aku katakana.
“Aku berasal dari Kerajaan Thuringia, tepatnya di sebuah desa kecil di sekitaran Kota Holstein.”
“Kerajaan Thuringia ya… aku turut berduka mengenai itu.” Katanya terdengar menyesal mendengar perkataanku.
“Tidak masalah. Aku ingin menjadi Patrol Guard karena dahulu, ayahku adalah seorang Ketua Patrol Guard Desa. Aku sangat mengidolakannya dan melihatnya sangat keren ketika menangkap para penjahat.”
“Hoo~ begitukah…” Senior terlihat mengangguk-angguk mendengarkan ceritaku.
“Lalu, bagaimana cerita Senior. Mengapa Senior bisa tergabung dengan Departemen Spiritual Patrol Guard?”
Senior terdiam sebentar seolah-olah dia sedang memikirkan darimana dia harus memulai menceritakannya.
“Kurasa aku belum memperkenalkan nama lengkapku ya? Namaku adalah Karl von Wurzburg.”
Wurzburg? Bukankah itu adalah sebuah Kota yang berada di bawah kekuasaan Count Barengar?
“Aku adalah putra tertua dari Count Barengar, mengenai kenapa aku bisa berakhir di Departemen Spiritual… Ayahku mencabut hak warisku kemudian mengirimku ke Kuil untuk menjadi seorang pendeta.” Senior Karl mengatakan itu sangat gampang seakan-akan itu adalah masalah sepele.
“Dahulu, aku mempunyai seorang teman masa kecil wanita. Kami selalu bersama dan akhirnya menyatakan perasaan kami masing-masing.” Ketika menceritakan hal ini lah nada Senior Karl mulai berubah. “Dia sangat cantik, anggun dan bersikap layaknya seorang wanita yang menjunjung tinggi etika seorang Bangsawan. Dia adalah anak seorang Count sama sepertiku.”
“Dia kemudian pergi ke ibukota untuk mengikuti pelatihan menjadi pelayan Istana.” Senior Karl mulai menundukkan wajahnya. “Satu tahun sudah aku tidak melihatnya, aku kemudian mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke ibukota. Ketika mengunjungi istana, aku melihatnya…” Suara Senior Karl tertahan.
“Melihatnya?”
“Melihatnya berpelukan dan bermesraan dengan anak seorang Marquis! Pria yang bersamanya itu adalah talenta muda Ksatria Suci Kuil!” Suaranya terdengar penuh derita ketika menceritakannya.
“Be-begitukah…”
“Aku kemudian kembali dengan patah hati dan mulai minum-minuman. Perilaku ku mulai berubah yang membuat ayahku terpaksa mencabut hak warisku karena takut aku akan membuat malu Keluarga kami!”
Cinta bisa menjadi sebuah anugrah ataupun musibah, kah? Well… ini tidak seperti aku pernah merasakannya sendiri. Kurasa aku pernah membicarakan ini dengan Lena.
"Omong-omong Senior, mengapa Senior ingin Senior Hans yang melakukan penarikan informasi di sana?"
"Well... Aku ingin sedikit memberinya pelajaran karena selalu telat membayar hutangnya selama ini hahaha!" Ekspresi murung Senior telah hilang dan kini, dia tertawa sangat keras karena alasan yang aku tidak mengerti.
Setelah satu jam berjalan, kami kemudian sampai di hutan Eldea.
...----------------...
Di sisi lain, di bangunan yang di masuki oleh Hans.
Seorang pria tengah di rantai kedua tangannya ke dua buah tiang di sebuah kamar. Dia terlihat tidak memakai apa-apa selain sebuah celana pendek tipis. Wajahnya berkeringat dan tampak ekspresinya merah seakan menahan amarah dan sakit.
“Ayo berteriak lebih kencang! Buat papa senang!”
Splatt!
“Ughhh!” Pria satu lagi memecut pria yang di rantai itu dengan sebuah cambuk.
“Lebih keras!”
Splatt!
“Sialan kau playboy busuk!!! Aku akan mengahajarmu habis-habisan jika kita bertemu lagi!!!!”
Hans meneriakkan kata-kata itu dengan sangat keras. Punggungnya memerah karena pecutan pria di belakangnya.
“Bagus sekali-bagus sekali. Papa senang dengan teriakanmu itu.” Pria itu lalu mengambil sebotol bir lalu meminumnya hingga habis.
“Ahhh… malam masih panjang baby! Kita nikmati ini bersama!”
__ADS_1
Splattt!
“AHHHHHHH!!!!”