The Assassin & The Blind Saint

The Assassin & The Blind Saint
Arc 1 Chapter 13 : Awal mula


__ADS_3

Di pinggiran sebuah desa kecil di Kerajaan Thuringia, terdapat seorang anak lelaki berusia 6 tahun sedang bermain dengan sebuah pedang kayu di rerumputan. Dia berlari - lari sambil mengayun - ayunkan pedang kayunya tersebut.


“Hey Siriuusss! Jangan bermain terlalu jauh! Ayah akan memarahiku lagi kau tahu,” ucap seorang wanita berusia sekitar 16 tahun yang sedang mengikut anak lelaki itu.


Sirius lalu berbalik dan berpose menghadap kakak wanitanya itu lalu berkata, “Aku Sirius! Suatu hari nanti, aku akan menjadi seorang pahlawan lalu mencabut pedang legendaris Balmung. Mengalahkan seekor naga dan menyelamatkan seorang Putri Kerajaan!” Sirius mengatakan impiannya itu dengan menggebu - gebu.


“Iya~iya. Tapi sekarang, kau harus makan dulu agar kau tumbuh menjadi kuat seperti para pahlawan,” ucap Kakak wanitanya seraya memegangi tangan Sirius agar dia tidak berlarian kembali.


“Ayo kita pulang, ibu sudah membuatkan sup ikan yang selalu kamu sukai Sirius,” ajak kakak wanitanya.


“Baiklah, Kak Alissa.”


Mereka lalu mulai berjalan kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan, mereka menghampiri beberapa penduduk desa yang tengah melakukan berbagai aktivitas.


“Ahh Alissa, kau seperti biasa menjemput kembali Sirius ya.”


“Alissa, kebun bungaku barusan mulai bermekaran. Mau kah kau ikut denganku nanti untuk melihatnya?”


“Alissa, cobalah Pie baru buatanku. Aku jamin kau akan menyukainya.”


Begitulah keseharian Alissa ketika sering berpapasan dengan penduduk desa, terutama para lelaki. Dia adalah kembang desa di tempat tinggalnya. Wanita anggun nan cantik bahkan menyaingi putri - putri bangsawan tingkat tinggi Kerajaan.


“Hey kalian! jangan dekat - dekat dengan Kak Alissa! Setidaknya hanya seorang pahlawan yang berhak merayunya, kalian camkan itu baik - baik!” Sirius tiba - tiba berada di depan kakaknya seakan - akan sedang melindunginya dari serigala buas.


“Hey Sirius, apa yang kakak ajarkan kepadamu waktu itu? Selalu ramah dan sopan terhadap para warga,” tegur kakaknya yang jongkok berhadapan dengan Sirius dan menatapnya.


Melihat tatapan tajam kakaknya, Sirius lalu memalingkan wajahnya dan mulai berjalan kembali.


“Hahhh… kau ini. Selalu saja melarikan diri ketika aku tegur,” ucap Kakaknya sedikit jengkel.


Setelah beberapa saat berjalan, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah yang sederhana. Mereka masuk dan menemukan meja makan telah penuh dengan berbagai macam makanan.


“Ah kalian sudah datang, cepat kalian membersihkan diri. Kita akan melakukan sebuah Upacara Syukur kepada Sang Dewi atas keberhasilan Ayah kalian promosi menjadi kepala Patrol Guard Desa,” ucap seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu mereka.


Mereka lalu membersihkan diri dan tidak lama kemudian, Ayah mereka pulang dari pekerjaannya.


“Ah, Ayah! Bagaimana pekerjaanmu hari ini!? apakah Ayah menangkap para penjahat? Ataukah ayah mengalahkan binatang buas? Ceritakan padaku!” Sirius lalu bergegas menghampiri ayahnya tidak sabar untuk mendengar cerita - cerita menarik dari ayahnya.


“Ahahaha tidak Sirius, kami melakukan patroli dan bersyukur tidak ada peristiwa berbahaya yang terjadi di desa saat ini,” jawab ayahnya.


“Mehhh… sangat membosankan,” ucap Sirius yang kembali duduk di meja makan.


“Bukankah itu bagus nak, kita masih bisa menikmati kebersamaan ini dengan damai,” ucap Ibunya.


Mereka lalu memulai berdoa kepada Dewi Athena agar di beri kedamaian dalam hidup dan bersyukur atas kehidupan yang mereka jalani sekarang.


Setelah selesai makan bersama, Ayah Sirius tiba - tiba berkata.


“Alissa, mengenai pernikahanmu, kurasa aku sudah menemukan yang cocok untukmu.”


Mendengar perkataannya, yang terkejut dan mendapatkan reaksi bukanlah Alissa.


“Huhhh! Apakah yang Ayah katakan benar!? Kurasa Kak Alissa masih terlalu dini untuk itu!” ujar Sirius.


“Hey, apa yang kau katakan, bocah?” ucap Alissa dengan nada pelan akan tetapi, membuat bulu kuduk Sirius merinding.


“Hiiiii!!!” Sirius lalu memalingkan wajahnya dari tatapan tajam kakaknya.


“Putra waris dari Count Holstein mengatakan ketertarikannya padamu saat acara tarian pada Festival Kenaikan Saint pada bulan lalu di Kota,” ungkap Ayah Sirius.


Mendengar perkataan Ayahnya, Alissa yang awalnya terlihat jengkel, ekspresi wajahnya mulai memerah. Alissa juga memiliki ketertarikan kepada Putra Waris Count Holstein saat dia melihatnya di Turnamen Ksatria pada puncak acara Festival itu.


“Tapi Roland, apakah Count Holstein akan mengizinkan Putra warisnya menikahi seorang rakyat biasa seperti Alissa?” tanya Ibu Sirius terlihat khawatir.


Mendengar pertanyaan ibunya, Alissa berubah menjadi gugup.


“Tidak apa - apa Aliya, Count Holstein bukanlah bangsawan yang terlalu memikirkan hal itu,” jawab Roland menghilangkan kekhawatiran istrinya.


“Fiiuhhhh…” Mendengar jawaban Ayahnya, Alissa kembali bernafas lega.


Sirius lalu turun dari meja dan berjalan ke pintu keluar rumah.

__ADS_1


“Mau kemana kau Sirius? hari akan menjelang malam kau tahu,” tanya Alissa.


“Aku sudah selesai makan dan ingin mencari udara segar,” bohongnya.


“Baiklah, jangan terlalu jauh ya…”


Sirius lalu berbaring di bawah sebuah pohon sambil mengamati bintang - bintang di langit.


Alasannya dia tampak sangat tidak suka Kakaknya menikah adalah, dia akan kehilangan sosok yang menjadi panutannya selama ini. Kakaknya adalah sosok yang kuat, anggun dan disiplin di mata Sirius. Suatu saat nanti, dia ingin membuat kakaknya merasa bangga memiliki adik seperti dirinya nanti. Akan tetapi sosok itu akan hilang dalam waktu dekat ini.


...----------------...


Keesokan harinya, sebuah kereta kuda mewah datang ke desa dimana Sirius tinggal. Pemiliknya adalah Putra waris dari Count Holstein. Kedatangannya bahkan membuat Baron Reimark datang menyambutnya di desanya itu.


“Ahh… Tuan Albrech, ada apa Tuan datang ke desa ku ini?” tanya Baron Reimark sambil menundukkan kepalanya kepada Pewaris Tuannya tersebut.


“Aku mencari kediaman Kapten Roland, apakah anda mengetahuinya Baron?”


“Ahhh Roland, kah? Hey, cepat panggilkan Roland di kantor agar segera kesini!” perintah Baron kepada salah satu pelayannya.


“Kau memiliki desa yang cukup Indah Baron Reimark. Di Sepanjang jalan, aku melihat hamparan rumput hijau dan pemandangan alam yang indah,” ucap Albrech.


“Ahaha, Anda bisa saja Tuan.”


Tidak lama kemudian, Roland datang menghadap Albrech.


“Tu-tuan Albrech, aku tidak menyangka Anda akan datang secepat ini,” ujar Roland.


“Ahahaha Roland, kau tahu sendiri kan para putri - putri bangsawan itu sangat gigih sekali mendatangi kediamanku. Makanya aku ingin lebih cepat agar mereka bisa mulai berhenti mendatangiku jika berita pertunangan kami tersebar luas,” jelasnya.


Albrech merupakan seorang talenta muda yang bergabung dengan Ordo Ksatria Suci. Dia di gadang – gadang akan menjadi seseorang yang menggantikan Komandan Fritz sebagai ketua Ordo Ksatria tersebut. Maka dari itu, Alissa yang akan bertunangan dengan Albrech bagaikan cerita dongeng dimana seorang rakyat jelata menikahi seorang Ksatria Pahlawan.


“Baiklah, mari kita ke kediamanmu Roland. Aku sangat tidak sabar untuk bertemu Alissa,” ajak Albrech.


Mereka lalu pergi ke kediaman Roland. Albrech menemukan Alissa sedang memotong kayu menggunakan sebuah kapak dan di dekatnya terdapat seorang anak lelaki yang sedang memainkan sebuah pedang kayu.


“Alissa,” panggil Albrech.


Alissa lalu berbalik dan terkejut mendengar suara dari pria yang dia cintai. Dia lalu mulai kehilangan keseimbangan dan hendak terjatuh. Albrech lalu bergegas dengan cepat lalu menangkapnya sebelum Alissa terjatuh.


“Hey Alissa, hati - hati dengan kapak itu. Kau bisa melukai dirimu sendiri kau tahu,” ucap Albrech mencoba menggodanya.


“Itu salahmu yang mengagetkanku duluan!” balas Alissa dengan ketus.


“Ehemmm!!”


Tiba - tiba, terdengar suara batuk yang di sengaja di bawah mereka. Suara itu berasal dari Sirius yang menatap tajam Albrech.


“Bukankah tidak sopan menyentuh wanita yang belum menikah, kau tahu itu kan Tuan Ksatria,” ujar Sirius sambil menyilangkan tangannya dan menatap Albrech.


“Ahahaha, kau benar, Maafkan aku Alissa,” ucap Albrech yang kemudian menurunkan Alissa.


“Kau pasti Sirius, kah? Alissa selalu menceritakan banyak hal tentangmu.”


“Tentu saja, Aku adalah orang terdekat bagi Kak Alissa kau tahu,” ucap Sirius dengan bangga.


“Ahahaha begitukah,” Albrech hanya bisa tertawa canggung menghadapi antik Sirius.


“Hey Sirius, bagaimana kalau kita berlatih berduel di belakang halaman,” ucap Roland mencoba membantu Albrech yang terlihat kesulitan menghadapi Sirius.


“Sungguh!? Baiklah kali ini, aku akan mendaratkan satu serangan padamu Ayah!” ujar Sirius terlihat bersemangat.


Mereka berdua lalu meninggalkan Albrech dan Alissa berdua saja.


“Adikmu itu terlihat sangat bersemangat yah, Alissa.”


“Ya, dia memang selalu seperti itu.”


Setelah percakapan itu, mereka berdua tiba - tiba terdiam menjadi hening. Tidak lama kemudian, Albrech berlutut dengan satu kaki dan menggapai tangan Alissa.


Alissa yang melihatnya lalu menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan tangan satunya.

__ADS_1


“Alissa, bersediakah kau menjadi pendamping hidupku selama aku hidup? Menjadi ibu dari anak - anakku? Menjadi seorang Istri dari Albrech von Holstein?” Albrech menatap mata Alissa dengan penuh keseriusan.


Air mata mulai menetes membasahi pipi Alissa karena kebahagian yang dia rasakan meluap dalam hatinya.


“Ya, aku bersedia.”


Mereka lalu berpelukan menikmati kebahagian yang sedang mereka rasakan. Akan tetapi, mereka tidak tahu bahwa Sirius melihat semua prosesi yang mereka lakukan itu. Sirius merasakan sebuah kehampaan ketika air mata kebahagian yang keluar dari kakaknya tersebut.


Malam harinya, Sirius sedang berada di luar rumah. Tepatnya di rerumputan pinggiran Desa tempat biasa dia bermain dan di jemput oleh Kakaknya.


Sirius tiduran di rerumputan itu menatap langit - langit akan tetapi, tidak ada bulan maupun bintang - bintang yang terlihat malam ini karena terhalang oleh awan gelap.


Sirius mengingat kembali apa yang terjadi tadi, dia ingin membuat kakaknya yang sangat dia idolakan menatapnya bangga. Layaknya tatapan kakaknya ketika melihat Albrech. Sirius hanya menemukan satu jawaban untuk meraih apa yang dia inginkan itu. Yaitu dengan memiliki Kejayaan.


Tidak lama kemudian, lamunan Sirius pecah karena mendengar suara langkah kaki yang menghampirinya.


Sirius lalu bangun dan melihat seorang Pria berjubah layaknya pendeta ketika sedang melakukan ziarah membawa sebuah keranjang berisikan beberapa apel berwarna merah.


“Halo anak muda,” sapa Pria tersebut.


“Ha-halo,” jawab Sirius dengan sedikit gugup karena tiba - tiba dihampiri oleh orang tidak dikenal.


“Kau terlihat sangat gelisah, apakah ada masalah yang sedang membuatmu gundah?” tanya Pria tersebut.


Mendengarnya, Sirius hanya bisa memalingkan wajahnya tanpa mengatakan apapun.


“Kau ingin membuat orang yang kau sayangi terkesan bukan?” tanyanya seakan dapat membaca isi pikiran Sirius.


Mendengar ucapan pria itu, Sirius terkejut dan mulai menatap wajah pria itu.


“Te-tentu saja. Bukankah itu adalah kewajiban lelaki untuk membuat orang - orang yang dia sayangi terkesan? Setidaknya itu yang Kakakku pernah bilang,” ujar Sirius.


“Begitukah? Lalu, apa yang kau mau untuk membuat hal itu menjadi kenyataan?” tanya pria itu.


“Kejayaan. Aku butuh kejayaan agar aku bisa mewujudkan hal itu,” jawab Sirius.


“Lalu, dengan apa menurutmu kejayaan itu dapat diraih?” tanya Pria itu kembali.


Untuk saat ini, Sirius kecil masih belum menemukan jawabannya. Dia masih terlalu kecil untuk melakukan sesuatu yang hebat yang membuat orang - orang terkesan.


“Jawabannya adalah Kekuatan,” ucap Pria itu.


“Kekuatan?”


“Ya, dengan memiliki kekuatan. Orang - orang akan memandang manusia lebih tinggi. Lalu setelah kau memiliki kekuatan, Kejayaan itu akan sangat mudah untuk di raih,” jelas pria itu sambil mengepalkan tangannya di depan mata Sirius.


Kekuatan. Betul saja, Sirius melihat beberapa kali ketika Ayahnya mengalahkan beberapa binatang buas dengan kekuatannya.


Setelah itu, para warga desa memuji - mujinya. Sirius juga pernah melihat para Ksatria yang di sambut sangat meriah ketika kembali mengalahkan seorang iblis.


Ya, Sirius ingin menjadi seperti itu. Dengan kekuatan, dia bisa mendapatkan kejayaan itu dan membuat Kakaknya terkesan.


“Kau benar. Aku ingin Kekuatan,” ucap Sirius yang merasa perkataan pria itu ada benarnya.


Mendengar perkataan Sirius, pria itu lalu tersenyum kemudian mengambil sebuah apel dari keranjang yang dia bawa.


“Kalau begitu, yang harus kau lakukan hanyalah memakan apel ini,” tawar pria itu.


“Sungguh?”


“Tentu saja, setelah memakan apel ini, niscaya kau akan mendapatkan kekuatan yang kau idam - idamkan itu,” jawab pria itu.


Sirius lalu menatap apel itu dan memperhatikannya.Tangannya mulai menggapai apel merah tersebut. tanpa dia sadari, rerumputan di sekelilingnya mulai mengering. Angin mulai berhembus kencang seakan - akan sebuah kekuatan misterius sedang berada di tempat itu.


Sirius lalu mengambil apel itu dan mulai memakannya.


Di depannya, pria yang memberinya apel mulai tertawa. Sirius hanya fokus memakan Apel yang sedang berada di tangannya itu. Tanpa dia sadari, pupil matanya mulai berubah menjadi warna merah darah. Pertemuannya dengan pria itu akan mengubah arah kehidupan Sirius. Sebuah keputusan yang akan di sesali seumur hidup Sirius.


Setelah selesai memakan Apel itu, pria itu tiba - tiba menghilang meninggalkan Sirius yang kebingungan dengan apa yang telah terjadi.


Keesokan harinya, ketika Sirius sedang bermain pedang kayu bersama teman - temannya, Sirius tiba - tiba kehilangan kesadarannya. Yang dia tahu adalah, ketika dia mendapatkan kesadarannya kembali, teman - temannya telah terkapar dengan luka - luka yang fatal. Mereka menjerit ketakutan melihat sosok Sirius yang mencoba mendekati mereka.

__ADS_1


"A-pa yang sebenarnya terjadi?"


__ADS_2